Mas Arif,
Saya sendiri tak tahu jawabannya. Tepatnya, saya
sendiri juga "eman-eman" banget Gus Dur terlalu jauh
"turun gunung". Seandainya Gus Dur tetap menjadi
"Ayatullah Khomeini" buat NU, dalam dunia Syi'ah, atau
Muhammad Abduh di dunia Sunni, tentu akan sangat besar
sekali dampaknya. Dan saya kira, Gus Dur memiliki
kemampuan untuk itu. Tapi mungkin dia mempunyai alasan
lain yang kita tak tahu. 

Saya tak menyesali NU memiliki partai. Mungkin itu
memang diperlukan. Tapi saya menyesali kenapa Gus Dur
terlalu jauh masuk di sana. Biarlah partai diurus oleh
Muhaimin dan Saiful. Mungkin kita perlu menunggu satu
abad lagi untuk menunggu kedatangan seseorang yang
memiliki keistimewaan-keistimewaan intelektual,
spritual, dan sosial seperti Gus Dur. Pada diri dia,
meminjam istilah Inggris, "all good things go
together". I mean, not all good things, of course, he
he he.... 

Oleh karena itu, di kalangan kiai-kiai NU sekarang ini
perlu dikembangkan "zuhud politik", apapun makna
istilah itu. Zuhud politik bukan berarti mengabaikan
masalah-masalah sosial-politik. Zuhud di sini artinya
adalah mengambil jarak dari kehidupan politik praktis.
Bagaimanapun, kepemimpinan kiai adalah kepemimpinan
intelektual, spritual, dan kultural, bukan
kepemimpinan politik. 

Don't get me wrong. Saya ndak anti-politik. Politik
adalah elemen sangat penting dalam kehidupan sosial.
Tetapi, masyarakat kan perlu pembagian lapangan kerja.
Pekerjaan kiai sejak dari dulu memang pada level ide
dan roh. Tugas mereka adalah mendidik jiwa dan roh
masyarakat. Kiai juga tak bisa diajak berpolitik dalam
pengertian "marksistis" atau "kiri", yakni menjadi
semacam Che Guevara atau apalagi Hugo Chaves. Bukan di
sana tugas kiai. Gus Durlah yang mengerti esensi ini.
Ketika pada tahun 80-an ide-ide pendidikan
"kiri-revolusioner" Paulo Freire dikenalkan di
Indonesia oleh para aktivis Muslim dan sejumlah
romo-romo Jesuit, Gus Dur menulis catatan penting: dia
setuju dengan beberapa ide Freire, tetapi dia
keberatan pada satu hal, yaitu kecenderungan
"revolusioner" dalam pikiran-pikiran Freire. Maksudnya
tentu "revolusi" dalam pengertian Marxian. Hanya orang
yang paham "jiwa" kiai seperti Gus Dur yang bisa
mengatakan hal seperti ini. Saat membaca catatan itu,
saya tercengang, sebab saat itu saya juga sedang
menggemari sekali buku-buku Freire. 

Karena memahami konteks seperti inilah, saya tak
pernah membawa piiran-pikiran Islam liberal saya di
lingkungan kiai dan pesantren. Saya tak pernah mau
diundang untuk membicarakan soal Islib di pesantren.
Sebab, ide-ide Islib saya pandang sebagai kritik atas
jenis Islam "lain" yang tumbuh di luar pesantren. Saya
paham sekali, pesantren tidak bisa saya jadikan
"liberal", dan saya juga tak pernah menghendaki itu.
Paling jauh, yang kita butuhkan di pesantren sekarang
ini kan melakukan kontekstualisasi kitab kuning
seperti dianjurkan oleh Masdar Mas'udi dulu (dan saya
kira anjuran ini masih terus relevan). Tetapi kiai
juga tak bisa diajak menjadi "kiri" dan secara
ideologis dipaksa menjadi semacam aktivis
anti-globalisasi. Biarlah gerakan anti neo-liberalisme
ini menjadi tugas anak-anak NU yang kebetulan tertarik
dengan ide itu dan bergerak di level LSM saja. 

Saya memang bukan seorang revolusioner, baik dalam
pengertian "kiri" atau "kanan". Saya mungkin seorang
pengkritik yang tajam (terhadap jenis Islam tertentu),
tetapi saya bukan seorang revolusioner. Dan itu saya
pelajari dari Gus Dur. Catatan Gus Dur atas Paulo
Freire tak pernah saya lupakan. 

Supaya catatan saya ini lengkap, saya akhiri dengan
catatan lain yang sederhana. Saat ini banyak anak-anak
muda NU yang tertarik dengan gagasan yang dibawa oleh
(dulu) teman saya, Ahmad Baso. Baso adalah anak NU
yang cerdas dan pintar, bacaanya luas sekali. Dia
sering mengkritik pikiran-pikiran saya, dan saya
senang dengan kritik-kritik itu. Dia mengkritik saya
antara lain karena dengan Islam liberal saya menjadi
seorang yang "weternized" tulen dan mengabaikan
tradisi. Kritik Baso itu jelas salah, sebab saya tak
mungkin meninggalkan tradisi dari mana saya berangkat.
Dua tahun saya sekolah di Boston ini saya habiskan
untuk bergelut dengan teks-teks Islam tradisional.
Studi doktoral saya di Harvard kelak (sekitar lima
atau enam tahun) juga akan saya habiskan untuk
menggali tradisi Islam yang kaya ini. Cinta saya sejak
dulu adalah pada Islam klasik ini. 

Tetapi kritik Baso akhir-akhir ini sudah bergerak
terlalu jauh karena telah berada di luar arena
pemikiran. Dia menempatkan saya secara ideologis,
seolah-olah saya secara ideologis berada di dalam kamp
besar "neo-liberalisme", "kapitalisme", dsb. Karena
saya diletakkan secara ideologis pada rubrik besar
itu, maka saya adalah "musuh besar" yang harus
diberangus. Dalam sebuah diskusi di tengah-tengah
Muktamr NU terakhir di Solo dulu, dia mengatakan bahwa
Islam liberal sudah berada di luar jalur Ahlussunnah
wal Jamaah. Saya kaget, karena tiba-tiba dia berpikir
dalam kerangka ortodoksi yang dia kritik sendiri
sebelumnya. Cara berpikir Baso ini "menular" ke banyak
kalangan anak NU lain. Inilah yang menjelaskan kenapa
banyak anak-anak NU sekarang begitu "sengit" pada
Islam liberal. Mereka tampaknya tak mau tahu bahwa
mungkin 90 persen yang saya kemukakan dalam kerangka
gagasan Islib paralel dan kongruen dengan semua yang
ada dalam tradisi NU. Dan hal itu memang tak bisa lain
kecuali demikian, sebab saya bergerak dari tradisi NU
sendiri. Teman saya Abdul Moqsit Ghazali juga bergerak
dari tradisi NU, sebab dia lulusan Situbondo. Mungkin
pendidikan pesantren yang dilalui oleh Moqsit jauh
lebih lama dan mendalam ketimbang yang dialami oleh
Baso sendiri. 

Tapi anehnya cara Baso "menghormati" tradisi NU
sekarang ini seolah-oleh melebihi kami-kami yang dulu
pernah di pesantren lama. Karena saya menggerakkan
gagasan Islam liberal, saya dan teman-teman saya yang
kesemuanya berangkat dari tradisi NU langsung
ditempatkan sebagai "musuh" tradisi NU. Ini jelas tak
sehat sama sekali dalam kerangka mengembangkan tradisi
NU sendiri. Saya menginginkan NU menjadi rumah besar
yang bisa menampung sejumlah ragam pemikiran yang
dalam jangka panjang bisa menghidupkan kembali "gairah
pemikiran" di NU. Tetapi sikap-sikap yang ditunjukkan
oleh teman-teman NU seperti Baso ini sudah mengubah
dialog pemikiran menjadi perseteruan ideologis. Di
mana-mana, ideologi yang dimaknai secara tertutup akan
mengotori diskusi dan membuat percakapan intelektual
menjadi kacau. Ini pula yang ditunjukkan oleh
teman-teman NU yang sekarang berada dalam--maaf kalau
saya memakai istilah ini--jalur "kiri" dan bersemangat
mengkritik neo-liberalisme. 

Yang mengherankan lagi, Baso yang "sok" membela
tradisi NU ini memakai teori-teori dan filsafat
mutakhir yang datang dari Barat dan asing dalam
tradisi NU sendiri. Baso memang seolah-olah
menghormati tradisi NU, tapi cara menghormati yang dia
lakukan adalah sangat artifisial, bahkan kesan saya
tradisi NU hanya dijadikan sebagi "alat" saja untuk
menyokong kebenaran teori-teori "cultural studies"
yang semuanya dipinjam dari barat. Saya kaget benar
ketika tiba-tiba beberapa waktu yang lalu dia
mengangkat isu soal pentingnya "cium tangan" dalam NU.
Tradisi cium tangan memang penting, dan saya mungkin
mencium tangan kiai lebih banyak dari dia sendiri.
Tetapi, apakah kita mesti membahas tradisi NU dalam
level yang permukaan seperti ini? Seperti saya tulis
dalam email terpisah, tradisi NU yang perlu kita gali
kembali adalah tradisi pemikiran yang selama
bertahun-tahun dikembangkan oleh kiai-kiai di
pesantren, dan sekarang dilupakan karena sibuk dengan
politik praktis. Menurut saya, terlalu banyak hal
dalam tradisi NU yang jauh lebih penting ketimbang
soal cium tangan. 

Kesimpulan saya, Baso hanyalah memperalat NU sebagai
"mahall al-syahid" (kalau yang pernah belajar
Alfiyyah, pasti tahu apa arti istilah ini) untuk
teori-teori dari barat yang dia baca selama ini.
Sedihnya, inilah gaya pemikiran yang sekarang
digandrungi oleh sebagian teman-teman NU akhir-akhir
ini, sekali lagi sebagian, bukan semuanya. 

Bersambung.......


Ulil




--- Arief Zamhari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Salam Mas Ulil,
> Saya sependapat bahwa Kyai harus kembali mengurus
> pesantrennya. Memang, sebagian mereka sudah terlalu
> jauh bergelut dengan dunia politik. Saya juga
> sependapat Gus Dur semasa menjadi Ketua PB NU yang
> paling bertanggungjawab menggiatkan iklim keilmuan
> di kalangan anak muda NU. Tapi Gus Dur juga yang
> menarik-menarik Kyai Pesantren ke dalam pusaran arus
> politik seperti sekarang. Mohon saya diberitahu
> kenapa Gus Dur dulu berinisiatif mendirikan partai
> politik? Saya selama ini belum menemukan jawaban
> dari pertanyaan ini. Kenapa beliau tidak istiqamah
> saja merawat semangat keilmuan yang sedang tumbuh di
> kalangan anak muda NU? 
> 
> Wassalam
> Arif Z
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: lakpesdam <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Wednesday, May 23, 2007 1:32:49 PM
> Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik
> 
> Mas Ulil,
> Kalau Anda bener-bener niat mendirikan pesantren
> yang bisa mengajarkan
> kekayaan mistik, kayaknya saya yakin bisa. "Tidak
> usah" menunggu restu
> Allah. Bersegeralah! Usul saya, Kajen atau Leteh
> adalah tempat yang pas
> untuk mewujudkan cita-cita Anda yang mulia itu.
> Tidak usah menuggu pensiun, Mas.
> Hehehehehehehehe. ..
> 
> salam,
> hamzah
> 
> ----- Original Message -----
> From: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED] com>
> To: <[EMAIL PROTECTED] s.com>
> Sent: Tuesday, May 22, 2007 10:42 PM
> Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik
> 
> > Mas Arief,
> > Kekayaan besar Islam antara lain adalah tasawwuf.
> > Sedih sekali kekayaan ini dicaci-maki oleh banyak
> > kalangan Islam sendiri. Karena saya tumbuh di
> > lingkungan pesantren, tasawwuf menjadi bagian dari
> > diri saya yang tak pernah bisa saya tinggalkan.
> Saat
> > masih di pesantren dulu, saya mengalami "tasawwuf
> > amali", sekarang saya mengalami fase lain, yaitu
> > "tasawwuf fikri". Dua-duanya saling melengkapi.
> >
> > Figur yang saya kagumi, antara lain, adalah Imam
> > Ghazali. Saya membaca berkali-kali "Misykat
> al-Anwar",
> > dan tak pernah bosan. Imam Ghazali mengupas konsep
> > "Cahaya Tuhan" dengan sangat memikat sekali. Tentu
> > ulasan seperti yang dilakukan oleh Imam Ghazali
> itu
> > tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang telah
> > melalui "pengalaman mistik" yang mendalam.
> >
> > Hingga sekarang ini, saya tak pernah berhenti
> > mengagumi dan menghayati Kitab al-Hikam yang
> nyaris
> > seperti sebuah puisi. Saya tak sempat mempelajari
> > kitab ini di pesantren dulu, karena dilarang oleh
> ayah
> > saya, sebab saya belum cukup umur. Konon, orang
> boleh
> > membaca kitab ini kalau sudah berumur 40 ke atas.
> > Sekarang saya membaca sendiri, meskipun saya
> > sebetulnya ingin mencari seorang "guru" kepada
> siapa
> > saya bisa mengkaji kitab ini. Tidak seperti dalam
> > ilmu-ilmu sekuler, "pengetahuan" dalam tradisi
> mistik
> > seharusnya diajarkan melalui seorang "mursyid".
> Memang
> > rasanya sungguh lain jika ajaran tasawwuf kita
> terima
> > dari mulut seorang guru yang sudah menempuh
> "suluk"
> > yang panjang dibanding jika kita hanya membaca
> buku
> > saja. Karena itu, saya bisa memahami ajaran yang
> > pernah saya terima di pesantren dulu, "man laisa
> lahu
> > syaikh fasyaikhuhu syaithan," siapa yang belajar
> tanpa
> > panduan seorang "master" atau guru maka syaitanlah
> > yang akan menjadi gurunya.
> >
> > Tahun lalu, saya belajar tasawwuf sejumlah agama
> > besar: Kristen, Hindhu dan Budha. Dari pengalaman
> > mengambil kelas itulah saya kemudian menjadi tahu
> dan
> > menghayati sendiri bahwa belajar pengetahuan yang
> > masuk dalam kategori "irfan" atau "al-ilmu
> al-hudhuri"
> > itu akan lebih "cespleng" dan meresap ke dalam
> diri
> > kita jika melalui seorang syaikh, mursyid,
> profesor,
> > atau guru.
> >
> > Selain Sykeh Hisyam Kabbani, saya mengagumi
> seorang
> > sarjana Muslim "tradisional" lain di Amerika (kata
> > "tradisional" di sini saya mengerti dalam
> pengertian
> > yang diberikan oleh Seyyed Hussein Nasr) kebetulan
> dia
> > adalah seorang muallaf. Namanya Ustaz Hamzah
> Yusuf.
> > Dia mendirikan sebuah lembaga di California,
> Zaitunah
> > Institute. Salah satu sumbangan penting Ustaz
> Hamzah
> > adalah mengenalkan tradisi membaca Burdah yang
> indah
> > itu di kalangan Muslim di Amerika. Dia telah
> > menerjemahkan puisi Burdah itu ke dalam bahasa
> > Inggris, dan memproduksi rekaman bacaan Burdah
> yang
> > dilakukan oleh sebuah kelompok mistik dari Maroko.
> > Saya menikmati benar pembacaan Burdah a la Maroko
> itu.
> > Ada aspek penting yang perlu saya gari-bawahi di
> sini:
> > saat saya mendengarkan lantunan Burdah a la Maroko
> > itu, ada "nuansa" musikal yang berbeda dengan saat
> > saya mendengarkan nasyid-nasyid yang lazim dikenal
> di
> > kalangan PKS. Saya pernah lama bergaul dengan
> > lingkungan semacam PKS itu, tetapi saya tak pernah
> > bisa mencintai nasyid mereka. Jiwa saya tak ada di
> > sana. Saya lebih mencintai Burdah dan Barzanji.
> > Perhatikan ritme bait Burdah yang sangat populer
> di
> > kampung-kampung ini:
> >
> > Ya rabbi bil mustafa balligh maqasidana
> > Wa-ghfir lana ma mada ya wasi' al-karami
> >
> > Huwa al-habib al-ladzi turja syafa'atuhu
> > Likulli haulin min al-ahwali muqtahimi
> >
> > Masing-masing suku kata dalam bait itu mewakili
> ritme
> > "naik-turun" , menggambarkan sebuah konsep sentral
> > dalam tradisi tasawwuf, yaitu "khauf dan raja'"
> (takut
> > dan berharap), qabd dan bast (mengkerut
> mengembang),
> > inqibad dan inbisat, dst. Ritme naik-turun ini
> yang
> > tak saya jumpai dalam nasyid-nasyid PKS. Suasana
> > nasyid umumnya tragis dan menyedihkan, seolah-olah
> > ingin meratapi terus-menerus kekalahan Islam.
> >
> > Terakhir, menurut saya, pesantren sekarang ini
> kurang
> > menghargai tradisi tasawwuf secara memadai, baik
> > tasawwuf amali atau tasawwuf fikri. Setahu saya,
> tak
> > ada satu pesantren pun yang mengajarkan al-Risalah
> > al-Qusyairiyyah, misalnya. Kitab al-Hikam memang
> > diajarkan, tetapi tidak cukup luas. Tetapi kita
> masih
> > beruntung karena Ihya diajarkan secara luas sekali
> di
> > pesantren-pesantren NU. Saya masih berharap suatu
> > ketika ada seorang kiai yang mengajarkan Fusus
> > al-Hikam karya Ibn Arabi seperti para ayatullah di
> > Iran masih terus mengajarkan kitab ini hingga
> > sekarang. Akan lebih baik lagi jika suatu ketika
> ada
> > yang mengajarkan pula karya Al-Suhrawardi, "Hikmat
> > al-Isyraq" atau karya Mulla Sadra, "Iksir
> al-Arifin".
> > Akan lebih indah lagi kalalu suatu ketika
> puisi-puisi
> > Masnawi-nya Mawlana Jalaluddin Rumi diajarkan di
> > pesantren, dibarengi dengan tarian darwish yang
> > berasal dari tarekat Mawlawiyyah. Aduh, saya bisa
> > "mabuk" kalau sudah membaca karya-karya misik
> besar
> > ini. Ini adalah kekayaan yang dahsyat sekali. Saya
> > ingin arah pesantren ke depan adalah semacam itu:
> > menggali khazanah Islam yang begitu kaya, termasuk
> di
> > bidang tasawwuf.
> >
> > Suatu saat, saya bermimpi mendirikan pesantren
> yang
> 
=== message truncated ===


Ulil Abshar-Abdalla
Department of Religion
Boston University


Kirim email ke