Mas Riadi,
Kritik atas saya dan Islam liberal sudah sering
dilancarkan oleh teman-temen NU sendiri. Saya tak
pernah terlalu menghiraukan kritik itu, sebab sejak
awal saya sadar "audiens" gagasan saya bukanlah
kalangan pesantren. Sebagaimana saya jelaskan dalam
email yang lalu, saya nyaris tak pernah mau diundang
ke pesantren untuk membicarakan soal gagasan Islib,
sebab memang kurang relevan. Kalau anda telaah seluruh
tulisan saya, sebagian besar adalah kritik atas Islam
fundamentalis. Saya tak pernah menyinggung soal NU
sama sekali. 

Kritik-kritik itu ada yang masih sopan seperti
sebagian besar kritik Baso. Tetapi ada juga yang kasar
sekali seperti yang pernah ditulis oleh teman
Yogyakarta, Umaruddin Masdar. Kritik-kritik ini sudah
muncul sekitar lima tahunan, dan saya tak pernah
sedikitpun menanggapi.

Apa yang saya tulis dalam milis ini adalah tanggapan
tertulis pertama setelah saya melihat gejala yang tak
sehat, yaitu menempatkan pemikiran saya dan
teman-teman saya sebagai "musuh ideologis". Buat saya,
ini sudah kebablasan. Saya ingin mengatakan bahwa
kecenderungan ideologis seperti ini sama bahayanya
bagi tradisi NU dengan ide-ide kaum fundamentalis.
Teman-teman muda NU yang terlalu kerepotan membawa
beban "ideologis" ini belum tentu mengenal dengan baik
tradisi pemikiran NU sendiri, dan karena itu mereka
juga tak terlalu menganggapnya penting. Bagi mereka,
NU hanyalah alat saja bagi ideologi.  

Buat saya, kerangka berpikir berikut ini sangat
gegabah dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang
berpikir dogmatis. Karena Islam liberal mengandung
nama "liberal" di dalamnya, maka dengan sendirinya
identik dengan filsafat ekonomi yang disebut
"neo-liberalisme". Karena agenda kaum kiri di dunia
saat ini menjadikan "neo-liberalisme" sebagai musuh
yang tak bisa ditolerir, maka gagasan-gagasan
keagamaan dalam kerangka Islam liberal adalah juga
musuh ideologi. Trik-trik kaum kiri seperti ini hanya
menyumbat diskusi pemikiran, sebab dalam kerangka
"permusuhan ideologis" seperti itu lalu tak mungkin
lagi terjadi diskusi yang sehat. Semua hal
dikerangkakan secara hitam putih dalam dua blok besar,
"baik dan jahat". 

Sebagaimana anda tahu, concern saya lebih pada tradisi
pemikiran keagamaan dan khazanah intelektual klasik
dalam Islam. Saya tak terlalu tertarik dengan soal
ideologi neo-liberalisme atau lawan-lawannya.
Perseteruan antara dua ideologi itu tak pernah menjadi
tema yang penting dalam seluruh formasi gagasan saya.
Sayangnya, tradisi Islam itu tak pernah menjadi
sesuatu yang penting bagi teman-teman yang sudah gelap
dikuasai oleh "kaca mata ideologi" ini.

Sayang sekali.

Ulil

Ulil Abshar-Abdalla
Department of Religion
Boston University


Kirim email ke