Mas Ulil, email dibawah ini banyak hal yang mengejutkan saya dan hampir sama 
terkejutnya ketika dulu saya baca artikel Mas Ulil di kompas tentang Penyegeran 
Kembali Pemikiran Islam (dulu saya langsung tabayyun via email juga).
Hal yang paling membuat saya terkejut al:
1. Saya baru tau kalau ternyata dari awal sasaran tembak dari kritik dan 
gagasan liberal mas Ulil  hanya untuk outsider dan bukan untuk kalangan 
pesantren.
Yang perlu saya tau lebih jelas, bagaimana Mas Ulil bisa meyakinkan ke kalangan 
insider kalau arah dan sasaran tembaknya bukan mereka? Ini perlu diperjelas 
karena sejak JIL di singgung2 dalam Muktamar Boyolali, resistensi kaum 
pesantren terhadap JIL semakin tegas dan nyata. Kebetulan kemarin saya dapat 
buku dari teman terbitan PC NU Lamongan yang berisi tentang semacam buku saku 
pedoman Nahdiyyin dimana didalam buku tersebut JIL wabilkhusus nama Mas Ulil 
menjadi salah satu golongan atau aliran yang harus dijauhi oleh NU.

2. Jawaban atas kritik Baso terhadap JIL/mas Ulil membuat saya semakin terkejut 
juga sangat disayangkan karena setau saya dua nama tsb diatas saya yakin 
(mduah2an tidak salah) sama2 masih cinta dan bahkan sangat cinta sama NU. 
Kenapa mesti berhadap-hadapan secara diametral seperti sekarang? Apalagi 
kedua2nya sama2 pernah (kalu ga salah juga) bareng di PP Lakpesdam. Apakah 
dengan mas Ulil menanggapi kritik Baso akan menambah semakin membuat jarak 
keduanya?

Mohon maaf kalau kekagetan saya membuat ada yang tersinggung.

Salam,
Mukhlisin

  ----- Original Message ----- 
  From: Ulil Abshar-Abdalla 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, May 24, 2007 1:24 AM
  Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik--Dan beberapa catatan lain (1)


  Mas Riadi,
  Kritik atas saya dan Islam liberal sudah sering
  dilancarkan oleh teman-temen NU sendiri. Saya tak
  pernah terlalu menghiraukan kritik itu, sebab sejak
  awal saya sadar "audiens" gagasan saya bukanlah
  kalangan pesantren. Sebagaimana saya jelaskan dalam
  email yang lalu, saya nyaris tak pernah mau diundang
  ke pesantren untuk membicarakan soal gagasan Islib,
  sebab memang kurang relevan. Kalau anda telaah seluruh
  tulisan saya, sebagian besar adalah kritik atas Islam
  fundamentalis. Saya tak pernah menyinggung soal NU
  sama sekali. 

  Kritik-kritik itu ada yang masih sopan seperti
  sebagian besar kritik Baso. Tetapi ada juga yang kasar
  sekali seperti yang pernah ditulis oleh teman
  Yogyakarta, Umaruddin Masdar. Kritik-kritik ini sudah
  muncul sekitar lima tahunan, dan saya tak pernah
  sedikitpun menanggapi.

  Apa yang saya tulis dalam milis ini adalah tanggapan
  tertulis pertama setelah saya melihat gejala yang tak
  sehat, yaitu menempatkan pemikiran saya dan
  teman-teman saya sebagai "musuh ideologis". Buat saya,
  ini sudah kebablasan. Saya ingin mengatakan bahwa
  kecenderungan ideologis seperti ini sama bahayanya
  bagi tradisi NU dengan ide-ide kaum fundamentalis.
  Teman-teman muda NU yang terlalu kerepotan membawa
  beban "ideologis" ini belum tentu mengenal dengan baik
  tradisi pemikiran NU sendiri, dan karena itu mereka
  juga tak terlalu menganggapnya penting. Bagi mereka,
  NU hanyalah alat saja bagi ideologi. 

  Buat saya, kerangka berpikir berikut ini sangat
  gegabah dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang
  berpikir dogmatis. Karena Islam liberal mengandung
  nama "liberal" di dalamnya, maka dengan sendirinya
  identik dengan filsafat ekonomi yang disebut
  "neo-liberalisme". Karena agenda kaum kiri di dunia
  saat ini menjadikan "neo-liberalisme" sebagai musuh
  yang tak bisa ditolerir, maka gagasan-gagasan
  keagamaan dalam kerangka Islam liberal adalah juga
  musuh ideologi. Trik-trik kaum kiri seperti ini hanya
  menyumbat diskusi pemikiran, sebab dalam kerangka
  "permusuhan ideologis" seperti itu lalu tak mungkin
  lagi terjadi diskusi yang sehat. Semua hal
  dikerangkakan secara hitam putih dalam dua blok besar,
  "baik dan jahat". 

  Sebagaimana anda tahu, concern saya lebih pada tradisi
  pemikiran keagamaan dan khazanah intelektual klasik
  dalam Islam. Saya tak terlalu tertarik dengan soal
  ideologi neo-liberalisme atau lawan-lawannya.
  Perseteruan antara dua ideologi itu tak pernah menjadi
  tema yang penting dalam seluruh formasi gagasan saya.
  Sayangnya, tradisi Islam itu tak pernah menjadi
  sesuatu yang penting bagi teman-teman yang sudah gelap
  dikuasai oleh "kaca mata ideologi" ini.

  Sayang sekali.

  Ulil

  Ulil Abshar-Abdalla
  Department of Religion
  Boston University



   


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke