Dear mas Ulil and all, Pertama, terima kasih sampean sudah merespon dan saya mohon maaf tidak langsung merespon balik dg cepat karena Negara tercinta yg saya tempati tidak seperti Negara yang sampean tinggali saat ini di mana internet sangat mudah diakses. Meminjam istilah mas Tukul, negara saya adalah negara katrok!! Kedua, catatan pertama yang sampean berikan kepada saya tentang mas Baso di blok neoliberalisme adalah salah baca/ memahami. Saya (email sebelum ini) mengatakan asumsi neoliberalismenya mas Baso. Maksudnya, mas Baso dalam bukunya (NU Studies) belum komprehensif dalam mengulas terminologi yang punya makna luas ini. Sayang sebenarnya buku yang tebal itu tidak mengalokasikan space yang cukup untuk mengulas neolib ini padahal term ini adalah bagian dari judul karyanya. Saya melihat sebagaimana yang saya tulis dalam email terdahulu- makna neolib sebatas dibangun berdasarkan opini publik yang muncul di media masa dengan diselingi referensi-referensi Barat. Mungkin benar kata sampean bahwa yang menentang neolib tidak berdasarkan kasus-kasus spesifik namun sebaliknya didasarkan pada jargon besar, dengan menggunakan argumentasi posmodernisme, cultural studies, dll. Namun, sampean tidak bisa menutup mata dari argumentasi logis atas penolakan kasus-kasus spesifik dalam neolib (saya tidak mau mengupas panjang lebar mengenai diskusi ini karena sampean berkali-kali bilang awam di bidangnya. Cuman yang saya sayangkan kalau sudah merasa awam, mengapa masih ikut iklan BBM menyegarkan dulu itu). Ketiga, saya melihat sampean dan mas Baso tidak ada bedanya dalam dua hal. Sama-sama (satu) terjebak dengan menempatkan the other sebagai musuh ideologis (mas Baso menuduh sampean dan JIL tidak berpijak thd tradisi NU dan sampean menghabisi al islam as siyasi yang notabene realitasnya juga bagian dari NU). Namun anehnya sama-sama (dua) berupaya menempatkan NU sebagai keranjang besar yang berisi beraneka macam adonan pemikiran. Jadi, kalo sampean dan mas Baso sama-sama mengkritik habis fundamentalisme maka bagi saya yang perlu dikritik terlebih dahulu adalah sampean berdua. Poin penting saya adalah mungkin kita perlu belajar dari Ketua NU salah satu cabang di Yogyakarta yang saya ceritakan di email lalu. Saya kira PBNU bila benar yang sampean katakan bahwa saat ini sedang memberi angin pada gagasan mas Baso, dkk- juga perlu sowan dan belajar banyak pada anak buahnya! Wallahu alam bis shawab. Salam, Munir, Ansor Jogja
Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Mas Munir, Terima kasih untuk catatan anda. Seperti saya tulis kemaren, baru sekali ini saya memberikan tanggapan secara tertulis atas gagasan Baso dkk yang sekarang tampaknya diberi "angin" oleh PBNU ini. Kritik-kritik dia dan teman-teman lain yang sepaham sudah muncul lama. Tetapi saya dulu tak pernah menganggapnya serius. Kan biasa, di NU ada kritik dan kontra-kritik. Tetapi setalah kritik itu bergerak terlalu jauh dan menempatkan saya secara diametral sebagai "musuh idologis" dari tradisi NU, saya tergerak untuk memberian komentar. Ada catatan sedikit atas komentar anda. Anda mengatakan bahwa Baso ada pada blok neoliberalisme. Saya kira, itu salah tulis anda. Ndak mungkin dong Baso berani mengambil resiko menempatkan dirinya di blok ideologi ini. Catatan lain: anda menganggap saya menghendaki liberalisasi dalam segala bidang. Saya tahu maksud anda; anda mau mengatakan bahwa saya menghendaki liberalisasi di bidang pemikiran keagamaan, politik, dan ekonomi. Kalau tak salah, dalam email yang lalu, anda mengatakan setuju atau sekurang-kurangnya tak keberatan dengan liberalisasi di dua bidang pertama, tetapi tak setuju dengan liberalisasi di bidang ketiga, yaitu ekonomi. Sebagaimana saya katakan berkali-kali dalam milis ini, saya setuju dengan banyak kritik-kritik kaum anti neoliberalisme, terutama terhadap IMF, Bank Dunia, dan WTO. Tetapi saya tak lantas anti beberapa aspek kebijakan yang sering dituduh sebagai bagian dari proyek neolberalisme. Saya tetap sepakat dengan rezim pasar bebas. Kalau ada ekses buruk dalam pasar bebas, harus ditangani secara spesifik, tetapi tidak lantas menolak pasar bebas itu sendiri. Saya sama sekali tak setuju dengan "nasionalisme ekonomi" yang diterapkan secara fanatik, dan menolak tanpa kualifikasi perusahaan asing, lalu menganjurkan nasionalisasi perusahaan-perusahaan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Di mata saya, jargon "neoliberalisme" terlalu besar dan "ngambra-ambra". Ini sama saja dengan debat lama antara sosialisme dan kapitalisme sebagai dua blok ideologi besar. Debat semacam ini memang enak, terutama buat aktivis, tetapi tak membantu melihat masalah secara spesifik. Saya lebih cenderung kita sebaiknya meninggalkan cara pandanga yang "nggebyah uyah" dalam jargon besar seperti ini. Kita lihat masing-masing masalah secara spesifik. Misalnya soal subsidi atau privatisasi. Saya sendiri, sebagai awam dalam ilmu ekonomi, tidak mendukung bahwa subsidi dalam segala bidang harus dicabut. Bahkan Milton Friedman yang dianggap sebagai pemikir besar terakhir ekonomi liberal pun menyetujui subsidi, tetapi dengan mekanisme kupon. Saya berpendapat, ada subsidi yang tepat, ada yang tidak. Mendukung pencabutan subsidi dalam satu bidang bukan berarti mendukung pencabutan dalam semua bidang. Dalam kasus pencabutan subsidi BBM kemaren, saya menganggap argumen pendukung pencabutan lebih kuat. Dan anda bisa melihat sendiri, dalam debat-debat publik saat itu, pembela subsidi paling gigih, yaitu Sdr. Revrisond Baswir, sama sekali tak meyakinkan pendapatnya. Dia cenderung menghindar dari soal yang spesifik, yaitu subsidi, dan menarik diri ke isu-isu besar seperti neo-liberalisme dan segala macem. Saya sendiri tahu beberapa orang yang pemikirannya cenderung "sosialis" juga ikut mendukung pencabutan subsidi BBM saat itu. Saya tak usah sebutkan namanya. Jadi, buat saya beberapa kebijakan yang sering dituduh sebagai bagian dari rezim neo-liberal tidak sepenuhnya salah. Menurut saya, harus dilihat soal per soal. Saya tahu, teman-teman yang anti neoliberalisme tak mau melakukan hal ini. Mereka lebih seang memakai "kuas besar" dan dengan sederhana mengatakan neoliberalisme harus ditolak secara menyeluruh. Ini kan sama saja berpikir biner seperti yang anda kritik itu. Kalau anda mengajak kita menghindar dari cara berpikir biner, cara paling baik adalah melihat masalah secara spesifik, tidak dengan jargon. Ulil --- Cak Munir <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Dear mas Ulil, > Sebelum saya komentari tulisan Anda yang keliahatn > "gemes" sama mas Baso sebagaimana dia sepertinya > juga "gemes" dengan Anda (termazsuk saya juga > "gemes" dengan Anda yang tidak merespon email saya > beberap awaktu lalu ttg BBM-neoliberalisme walau pun > sy menyadari kesibukan kuliah Anda di Boston atau > mungkin Anda sdh lupa dg "Iklan yg Menyegarkan" di > kompas itu), saya akan sedikit share dg bercerita > ttg kerangka berpikir Ketua NU salah satu Cabang di > Yogyakarta yg saya sebut sbg "gaya berpikir > fundamental-liberal seklaigus". Beliau berinisial KH > NJ, seorang yangs angat khusu' dalam beribadah. Sy > dengar dari salah seorang puterinya bahwa beliau > selalu berpuasa senin-kemais dan tidak akan pergi > keluar rumah sebelum sholat dhuha tentu saja dnegan > dzikiran ala seorang Kyai. Nasehat kepada > Puteri-puterinya adalah amalan-amalan "yg berbau > spiritual" untuk mencapai kesuksesan hidupnya. Namun > bukan ini bagi saya yang sangat menarik untuk > diceritakan tetapi suatu kenyataan bahwa > saat ini 2 calon mantu beliau berasal dari dua arus > pemikiran besar islam yg lagi "ngetrend", yaitu dari > puteri pertama adalah seorang cowok yang sehabitat > dengan "islam liberal" -atau minimal snagat familiar > dg isu-isu islam liberal. Sedangkan calon mantu dari > puteri keduanya adalah calon legislatif dari PKS > (maaf kalo terlalu vulgar) di Indoensia Bgaian > Timur. Proses "pacaran" kedua puterinya pun terkesan > sangat kontras; puteri pertama "sedikit gaul" > sedangkan yg kedua melalui email dan chatting > -melalui dunia maya ini mereka saling kenal- gaya > pacarannya (bahkan ketika puteri kedua KH NJ attach > foto dg pose sedikit tersenyum, si cowok sudah > mengkritik). Intinya kalo calon mantu pertama KH NJ > cenderung menghalalkan hal-hal dalam pacaran yg > diharamkan (akibat "kontekstualisasi" teks mungkin > spt biasa dlm wacana islib) maka calon kedua > sebaliknya, mengharamkan hal-hal yg halal. Yang luar > biasa dalam hal ini adalah bukan karena kedua calon > mantunya di atas namun sikap > moderat yg ditampilkan oleh Ketua NU itu dengan > kecenderunga menerima keduanya walau pun sadar bahwa > keduanya mungkin sangat jauh dari idealisme-nya > sendiri. > > Dengan cerita di atas, seolah Beliau mau > mengatakan bahwa kerangka berpikri biner oposition > ala the principle of excluded middle-nya > Aristotelian adalah kurang tepat!! Saya memabyangkan > manhaj NU adalah adalah sebagaimana sekelumit cerita > ttg KH NJ di atas. Beliau memang tidak pernah > berbicara Fundamentalisme dan Neoliberalisem, dll > namun worldview-nya sangat moderat, beragam, dan > inklusif. > > Anda dan mas Baso, hemat saya, sama-sama berusaha > untuk menempatkan NU dg sayap selebar-lebarnya dg > tidak menempatkan ideologi yg satu vis a vis > ideologi lainnya. dg kata lain NU adalah "keranjang > besar" yg berisi adonan pemikiran-pemikiran bahkan > dari pemikiran ekstrim sekali pun sebagaimana secara > praksis diterapkan oleh Ketua NU di atas. Hanya saja > radikalisasi pemikiran -ex. liberalisasi di semua > bidang ala Anda dan asumsi neoliberalismenya mas > baso- yg Anda berdua terapkan sama-sama terjebak > pada ortodoksi pemikiran yg Anda berdua sendiri > kritik. Mudah-mudahan saya salah, mohon dikoreksi. > Wallahu a'lam bis shawab. > salam, > Akhmad Munir, PW GP Ansor DIY > > Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Mas Riadi, > Kritik atas saya dan Islam liberal sudah sering > dilancarkan oleh teman-temen NU sendiri. Saya tak > pernah terlalu menghiraukan kritik itu, sebab sejak > awal saya sadar "audiens" gagasan saya bukanlah > kalangan pesantren. Sebagaimana saya jelaskan dalam > email yang lalu, saya nyaris tak pernah mau diundang > ke pesantren untuk membicarakan soal gagasan Islib, > sebab memang kurang relevan. Kalau anda telaah > seluruh > tulisan saya, sebagian besar adalah kritik atas > Islam > fundamentalis. Saya tak pernah menyinggung soal NU > sama sekali. > > Kritik-kritik itu ada yang masih sopan seperti > sebagian besar kritik Baso. Tetapi ada juga yang > kasar > sekali seperti yang pernah ditulis oleh teman > Yogyakarta, Umaruddin Masdar. Kritik-kritik ini > sudah > muncul sekitar lima tahunan, dan saya tak pernah > sedikitpun menanggapi. > > Apa yang saya tulis dalam milis ini adalah tanggapan > tertulis pertama setelah saya melihat gejala yang > tak > sehat, yaitu menempatkan pemikiran saya dan > teman-teman saya sebagai "musuh ideologis". Buat > saya, > ini sudah kebablasan. Saya ingin mengatakan bahwa > kecenderungan ideologis seperti ini sama bahayanya > bagi tradisi NU dengan ide-ide kaum fundamentalis. > Teman-teman muda NU yang terlalu kerepotan membawa > beban "ideologis" ini belum tentu mengenal dengan > baik > tradisi pemikiran NU sendiri, dan karena itu mereka > juga tak terlalu menganggapnya penting. Bagi mereka, > NU hanyalah alat saja bagi ideologi. > > Buat saya, kerangka berpikir berikut ini sangat > gegabah dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang > yang > berpikir dogmatis. Karena Islam liberal mengandung > nama "liberal" di dalamnya, maka dengan sendirinya > identik dengan filsafat ekonomi yang disebut > "neo-liberalisme". Karena agenda kaum kiri di dunia > saat ini menjadikan "neo-liberalisme" sebagai musuh > yang tak bisa ditolerir, maka gagasan-gagasan > keagamaan dalam kerangka Islam liberal adalah juga > musuh ideologi. Trik-trik kaum kiri seperti ini > hanya > menyumbat diskusi pemikiran, sebab dalam kerangka > "permusuhan ideologis" seperti itu lalu tak mungkin > lagi terjadi diskusi yang sehat. Semua hal > dikerangkakan secara hitam putih dalam dua blok > besar, > "baik dan jahat". > > Sebagaimana anda tahu, concern saya lebih pada > tradisi > pemikiran keagamaan dan khazanah intelektual klasik > dalam Islam. Saya tak terlalu tertarik dengan soal > ideologi neo-liberalisme atau lawan-lawannya. > Perseteruan antara dua ideologi itu tak pernah > menjadi > tema yang penting dalam seluruh formasi gagasan > saya. > Sayangnya, tradisi Islam itu tak pernah menjadi > sesuatu yang penting bagi teman-teman yang sudah > gelap > dikuasai oleh "kaca mata ideologi" ini. > > Sayang sekali. > > Ulil > > Ulil Abshar-Abdalla > Department of Religion > Boston University > > > > > > Send instant messages to your online friends > http://uk.messenger.yahoo.com > > [Non-text portions of this message have been > removed] > > Ulil Abshar-Abdalla Department of Religion Boston University Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com [Non-text portions of this message have been removed]
