Dear mas Ulil,
  Sebelum saya komentari tulisan Anda yang keliahatn "gemes" sama mas Baso 
sebagaimana dia sepertinya juga "gemes" dengan Anda (termazsuk saya juga 
"gemes" dengan Anda yang tidak merespon email saya beberap awaktu lalu ttg 
BBM-neoliberalisme walau pun sy menyadari kesibukan kuliah Anda di Boston atau 
mungkin Anda sdh lupa dg "Iklan yg Menyegarkan" di kompas itu), saya akan 
sedikit share dg bercerita ttg kerangka berpikir Ketua NU salah satu Cabang di 
Yogyakarta yg saya sebut sbg "gaya berpikir fundamental-liberal seklaigus". 
Beliau berinisial KH NJ, seorang yangs angat khusu' dalam beribadah. Sy dengar 
dari salah seorang puterinya bahwa beliau selalu berpuasa senin-kemais dan 
tidak akan pergi keluar rumah sebelum sholat dhuha tentu saja dnegan dzikiran 
ala seorang Kyai. Nasehat kepada Puteri-puterinya adalah amalan-amalan "yg 
berbau spiritual" untuk mencapai kesuksesan hidupnya. Namun bukan ini bagi saya 
yang sangat menarik untuk diceritakan tetapi suatu kenyataan bahwa
 saat ini 2 calon mantu beliau berasal dari dua arus pemikiran besar islam yg 
lagi "ngetrend", yaitu dari puteri pertama adalah seorang cowok yang sehabitat 
dengan "islam liberal" -atau minimal snagat familiar dg isu-isu islam liberal. 
Sedangkan calon mantu dari puteri keduanya adalah calon legislatif dari PKS 
(maaf kalo terlalu vulgar) di Indoensia Bgaian Timur. Proses "pacaran" kedua 
puterinya pun terkesan sangat kontras; puteri pertama "sedikit gaul" sedangkan 
yg kedua melalui email dan chatting -melalui dunia maya ini mereka saling 
kenal- gaya pacarannya (bahkan ketika puteri kedua KH NJ attach foto dg pose 
sedikit tersenyum, si cowok sudah mengkritik). Intinya kalo calon mantu pertama 
KH NJ cenderung menghalalkan hal-hal dalam pacaran yg diharamkan (akibat 
"kontekstualisasi" teks mungkin spt biasa dlm wacana islib) maka calon kedua 
sebaliknya, mengharamkan hal-hal yg halal. Yang luar biasa dalam hal ini adalah 
bukan karena kedua calon mantunya di atas namun sikap
 moderat yg ditampilkan oleh Ketua NU itu dengan kecenderunga menerima keduanya 
walau pun sadar bahwa keduanya mungkin sangat jauh dari idealisme-nya sendiri.  
   
  Dengan cerita di atas, seolah Beliau mau mengatakan bahwa kerangka berpikri 
biner oposition ala the principle of excluded middle-nya Aristotelian adalah 
kurang tepat!! Saya memabyangkan manhaj NU adalah adalah sebagaimana sekelumit 
cerita ttg KH NJ di atas. Beliau memang tidak pernah berbicara Fundamentalisme 
dan Neoliberalisem, dll namun worldview-nya sangat moderat, beragam, dan 
inklusif.
   
  Anda dan mas Baso, hemat saya, sama-sama berusaha untuk menempatkan NU dg 
sayap selebar-lebarnya dg tidak menempatkan ideologi yg satu vis a  vis 
ideologi lainnya. dg kata lain NU adalah "keranjang besar" yg berisi adonan 
pemikiran-pemikiran bahkan dari pemikiran ekstrim sekali pun sebagaimana secara 
praksis diterapkan oleh Ketua NU di atas. Hanya saja radikalisasi pemikiran 
-ex. liberalisasi di semua bidang ala Anda dan asumsi neoliberalismenya mas 
baso- yg Anda berdua terapkan sama-sama terjebak pada ortodoksi pemikiran yg 
Anda berdua sendiri kritik. Mudah-mudahan saya salah, mohon dikoreksi. Wallahu 
a'lam bis shawab.
  salam,
  Akhmad Munir, PW GP Ansor DIY 

Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          Mas Riadi,
Kritik atas saya dan Islam liberal sudah sering
dilancarkan oleh teman-temen NU sendiri. Saya tak
pernah terlalu menghiraukan kritik itu, sebab sejak
awal saya sadar "audiens" gagasan saya bukanlah
kalangan pesantren. Sebagaimana saya jelaskan dalam
email yang lalu, saya nyaris tak pernah mau diundang
ke pesantren untuk membicarakan soal gagasan Islib,
sebab memang kurang relevan. Kalau anda telaah seluruh
tulisan saya, sebagian besar adalah kritik atas Islam
fundamentalis. Saya tak pernah menyinggung soal NU
sama sekali. 

Kritik-kritik itu ada yang masih sopan seperti
sebagian besar kritik Baso. Tetapi ada juga yang kasar
sekali seperti yang pernah ditulis oleh teman
Yogyakarta, Umaruddin Masdar. Kritik-kritik ini sudah
muncul sekitar lima tahunan, dan saya tak pernah
sedikitpun menanggapi.

Apa yang saya tulis dalam milis ini adalah tanggapan
tertulis pertama setelah saya melihat gejala yang tak
sehat, yaitu menempatkan pemikiran saya dan
teman-teman saya sebagai "musuh ideologis". Buat saya,
ini sudah kebablasan. Saya ingin mengatakan bahwa
kecenderungan ideologis seperti ini sama bahayanya
bagi tradisi NU dengan ide-ide kaum fundamentalis.
Teman-teman muda NU yang terlalu kerepotan membawa
beban "ideologis" ini belum tentu mengenal dengan baik
tradisi pemikiran NU sendiri, dan karena itu mereka
juga tak terlalu menganggapnya penting. Bagi mereka,
NU hanyalah alat saja bagi ideologi. 

Buat saya, kerangka berpikir berikut ini sangat
gegabah dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang
berpikir dogmatis. Karena Islam liberal mengandung
nama "liberal" di dalamnya, maka dengan sendirinya
identik dengan filsafat ekonomi yang disebut
"neo-liberalisme". Karena agenda kaum kiri di dunia
saat ini menjadikan "neo-liberalisme" sebagai musuh
yang tak bisa ditolerir, maka gagasan-gagasan
keagamaan dalam kerangka Islam liberal adalah juga
musuh ideologi. Trik-trik kaum kiri seperti ini hanya
menyumbat diskusi pemikiran, sebab dalam kerangka
"permusuhan ideologis" seperti itu lalu tak mungkin
lagi terjadi diskusi yang sehat. Semua hal
dikerangkakan secara hitam putih dalam dua blok besar,
"baik dan jahat". 

Sebagaimana anda tahu, concern saya lebih pada tradisi
pemikiran keagamaan dan khazanah intelektual klasik
dalam Islam. Saya tak terlalu tertarik dengan soal
ideologi neo-liberalisme atau lawan-lawannya.
Perseteruan antara dua ideologi itu tak pernah menjadi
tema yang penting dalam seluruh formasi gagasan saya.
Sayangnya, tradisi Islam itu tak pernah menjadi
sesuatu yang penting bagi teman-teman yang sudah gelap
dikuasai oleh "kaca mata ideologi" ini.

Sayang sekali.

Ulil

Ulil Abshar-Abdalla
Department of Religion
Boston University



         

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke