Salam lagi Mas Syaikhul Amin, terimakasih atas balasannya.
   
  Ya, mas, saya ingat kata2 Presiden Iran waktu berkunjung ke Jakarta :
  "Kalau energi nuklir ini buruk, kenapa kalian (negara2 Eropa, Amerika yang 
menentang nuklir iran) mengembangkannya."
  "Kalau energi nuklir ini baik, kenapa kami tak boleh mengembangannya"
   
  Nuklir hanya bagian dari energi mix yang ada, bukan solusi total untuk 
mengatasi kekurangan keseluruhan energi, karena masih banyak sumber energi 
lainya.
  jadi Why not! kita manfaatkan, apalagi pihak goverment sudah merencanakan 
jauh2, dan rencana Indonesia mengoperasikan PLTN 2016-17 sudah terdaftar di 
IAEA dan diketahui diseluruh dunia.Saya merasa bangga akan hal ini, yang 
berarti Indonesia menjadi negara Asean pertama yang punya PLTN, semoga sahaja 
berjalan lancar,amin..InshaAllah.
  Dan kalau program lancar ini maka akan banyak wisatawan2 asing berdatangan ke 
Indonesia yang ingin tahu PLTN. Itukan jadi devisa buat negara, Macam di Iran, 
yang saya dengar dari pengajian ustaz jalal, paling tidak ada 1200/hari 
wisatawan asing yang datang ke negaranya untuk memantau PLTN Iran, sekaligus 
rekreasi ke negri mullah.
  Disamping itu kehadiran PLTN diharapkan akan menyedot tenaga kerja, karena 
sudah banyak sarjana,master bahkan doktor di bidang tenaga nuklir ini yang 
"nganggur". He he.
   
  Mas! ada banyak pihak swasta yang tertarik dg PLTN (pembangkit listrik 
tenaga"neutron" he he) diantaranya PT MEDCO , ini beritanya :
  Jawara Minyak Bakal Terjun Ke Bisnis Pembangkit Nuklir  Agustina Triyudhi 
Astuti, Umar Idris  posted by kontan on 06/02/07


    Pemerintah berencana membangun banyak proyek pembangkit untuk memenuhi 
kebutuhan listrik. Tak terkecuali energi nuklir yang mulai dilirik. Lagipula, 
sejumlah negara seperti Jepang dan Korea Selatan, juga menawarkan proyek 
pembangkit nuklir. Rupanya, proyek nuklir itu juga menarik PT Medco Energi. 
Seberapa seriuskah Medco membangun reaktor pembangkit nuklir? Berikut 
liputannya.
  KEHADIRAN nuklir di bumi Indonesia bak harga mati alias tidak bisa 
ditawar-tawar lagi. Tanpa energi alternatif tersebut 15 tahun lagi setrum di 
negara ini bakal byar-pet. Soalnya, pemakaian listrik dari tahun ke tahun makin 
kencang saja. Rata-rata meningkat enam persen saban tahunnya.
  Tapi, pertumbuhan yang begitu cepat, tidak seimbang dengan penambahan 
kapasitas listrik. Apalagi, sumber energi yang selama ini kebanyakan dari 
minyak dan gas suatu saat bakal ludes. Walau masih melimpah ruah, batu bara 
juga tidak bisa terus-terusan jadi andalan.
  "Mau tidak mau nuklir ke depannya diperlukan untuk memberikan kontribusi pada 
kebutuhan energi kita yang setiap tahun terus meningkat," kata Direktur 
Pembangkit dan Energi Primer PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Ali Herman 
Ibrahim kepada KONTAN, Kamis (31/5) lalu.
  Pemerintah pun tidak main-main guna mewujudkan mimpi membangun pembangkit 
listrik tenaga nuklir (PLTN). Buktinya, negara membentengi betul proyek 
ambisius ini lewat Undang-Undang Nomor 17/2007 tentang Rencana Pembangunan 
Jangka Panjang Nasional 2005-2025.
  Juru bicara Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Ferhat Aziz mengatakan 
paling tidak pada 2015 sampai 2019 nanti PLTN sudah bisa memainkan peranan 
dalam sistem listrik nasional. "Pada 2025 menyumbang 4% atau setara 4.000 
megawatt (MW) dari total kebutuhan," ujarnya.
  Rencananya, dua dari enam pembangkit nuklir yang dipatok bakal dibangun pada 
2010 mendatang. Harapannya, pembangkit itu bakal beroperasi tujuh tahun 
kemudian. Tender pembangunan reaktor senilai US$ 1,6 miliar ini akan mulai 
2008, yang bisa memasok kebutuhan listrik Jawa-Bali.
  BATAN sudah menyiapkan Sistem Energi Nuklir (SEN) yang bakal dipakai sebagai 
panduan dalam melaksanakan dan mengembangkan sumber daya atom itu. Bahkan, 
kajian lokasi pembangunan di Muria, Jawa Tengah sudah selesai sejak 1996 lalu. 
Tapi, sekarang masih diperbarui, misalnya, aspek seismologi dan vulkanologi. 
  PLN jauh-jauh hari sudah memperhitungkan pemakaian energi nuklir sebagai 
sumber penghasil listrik. Pada 1980-an perusahaan setrum pelat merah ini sudah 
melakukan studi. Bagaimana cara mengoperasikan dan pengelolaan bahan bakar, 
misalnya. Jadi, "Kami siap bila PLTN jadi ada," kata Ali.
  Tak mau ketinggalan kereta. PT Medco Energi Internasional Indonesia Tbk., 
juga langsung tancap gas. Mereka juga sudah melakukan studi kelayakan, bahkan 
sampai terbang ke Prancis dan Korea Selatan segala. Tujuannya apalagi kalau 
bukan untuk belajar teknologi setrum nuklir. Sebab, kedua negara itu sudah 
memanfaatkan nuklir sebagai sumber energi penghasil setrum.
  "Sebagai perusahaan energi kalau mau memimpin jangan sampai ketinggalan 
kereta," kata Presiden Direktur Medco Energi Hilmi Panigoro. Sehingga, dia 
bilang, semua jenis energi mesti dipelajari. Apalagi, 15 tahun lagi tanpa 
nuklir kebutuhan listrik Jawa-Bali akan memble.
  Yang pasti, Hilmi menegaskan, Medco Energi sangat berminat dengan proyek PLTN 
tersebut. Hanya, mereka belum memutuskan lantaran mesti menyelesaikan studi 
dulu. Lagian, pembangunan pembangkit nuklir harus bareng pemerintah, tidak 
mungkin jalan sendiri.
  Hilmi menambahkan, Indonesia mesti berkaca pada negara-negara yang sudah 
sukses memanfaatkan nuklir sebagai energi alternatif. Contohnya, Prancis yang 
80% kebutuhan listriknya berasal dari PLTN. "Saya pikir pemenuhan kebutuhan 
listrik yang paling murah itu, ya energi nuklir," ujarnya.
  Menurut Kepala Pengembangan Proyek Nuklir PT Medco Power Indonesia, Arnold 
Soetrisnanto, sudah banyak tawaran investor asing yang masuk. Sebut saja, 
Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat dan Prancis. "Yang paling kenceng dan 
gencar ialah Korea," ujarnya.
  Cuma, Arnold mengungkapkan, masih ada yang mengganjal keinginan Medco Energi 
main di PLTN. "Kami masih menunggu adanya peraturan presiden," kata bekas 
Direktur BATAN ini.
  Tapi, kalau pun pemerintah melarang, artinya mesti dikuasai oleh PLN, Medco 
Energi rela melepas proyek itu. Toh, Arnold mengatakan masih ada kesempatan 
menjadi kontraktor pembangunan PLTN itu yang mengerjakan procurement, 
engineering dan konstruksinya.
  Siapapun nanti yang berhak mendapat kue bernama pembangkit nuklir itu, Arnold 
meminta peraturan presiden tersebut rampung tahun ini juga. Soalnya, 
pembangunan reaktor membutuhkan waktu paling tidak 10 tahun. "Jadi, tidak bisa 
menunggu lagi, harus cepat," ujarnya sembari bilang Divisi Nuklir Medco sudah 
ada sejak Februari lalu.

     
     
    
 -->    
   
  -->
    ---ek--



  

Syaikhul Amin - MTD <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          salam mas ekki,

saya salah seorang dari warga negara Indonesia yang tidak setuju dengan 
pembangunan PLTN, apalagi setelah kejadian lapindo brantas. 
bisakah memberi suatu premis yang baru bahwa energi itu tidak sekedar cleaness 
tapi membuat bangsa ini menjadi lebih beradab? data terbaru indonesia juara 1 
korupsi se asia. kalaupun akan dibangun siapa yang paling pas membangun, 
merawat dan mengoperasikannya?. sepanjang yg saya tahu jika diserahkan ke PLN 
akan lebih berbahaya...
swasta? nggak ada yg sanggup, paling2 swasta asing...
atau?

syaikhul


-----Original Message-----
From: ekki kurniawan [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, June 15, 2007 2:25 PM
To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]
Subject: [kmnu2000] Diskusi PLTN masih panjang! Maaf, bila berbeda pendapat.

Salam "nuclear 4 peace" Nuklir hanya sebagian dari sumber energi anugrah Tuhan 
dari sekian banyak bentuk energi lainnya. Tuhan ciptakan Uranium tentu tidak 
sia2, pasti ada hikmahnya. Tugas kita adalah memanfaatkan untuk kemakmuran 
bersama. Setiap pemanfaatan energi pasti ada kelebihan dan kekurangannya. di 
situlah kita harus bijak mensikapinya. Maaf ini, saya posting tulisan yang 
lama, sebagai bagian dari diskusi kita selanjutnya. Prof Ir Marwoto 
Koesumopradono: 
Indonesia Jangan Terjebak 
Perangkap Tenaga Nuklir 
------------------------------- 
Sejak dini Indonesia harus memikirkan dan mengembangkan teknologi 
alternatif yang mempergunakan sumber-sumber energi yang lebih abadi atau 
yang dapat diperbaharui untuk keselamatan masa depan bangsa. Hal ini perlu 
karena disadari bahwa suatu waktu sumber-sumber minyak di Indonesia, bahkan 
di dunia akan habis terkuras. 
Hal ini diungkapkan Prof Ir Marwoto Koesumopradono, Dosen Fakultas 
Teknik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang hari Jumat (9/9) pada acara 
seminar tentang Teknologi di Kampus Undip. 
Dikatakan, perdebatan mengenai energi tak kunjung habis sejak tahun 1973 
yang merupakan sejarah energi yang kelam bagi negara-negara industri maju 
yang bergantung pada energi minyak bumi. Karena pada tahun tersebut baru 
disadari bahwa mereka adalah pemegang kunci sumber minyak yang diperlukan 
negara-negara industri yang maju. 
Tahun itu juga negeri-negeri maju terdorong untuk mencari sumber-sumber 
energi alternatif. Mereka dikejutkan oleh kenyataan, betapa selama ini 
kemakmuran yang mereka nikmati sangat tergantung dari minyak yang murah. 
"Kesadaran bahwa minyak sebagai sumber energi yang begitu penting 
sebenarnya juga sumber yang terbatas dan tidak dapat diperbaharui, 
berkembang dengan cepat dan harga minyak yang tinggi, mendorong mereka 
mengembangkan sumber energi lain, "ujar alumnus Fakultas Teknik Kimia UGM 
tahun 1966 ini. 
Dikatakan, para pendukung energi nuklir mula-mula merasa yakin bahwa 
tenaga nuklirlah yang akan menggantikan minyak. Akan tetapi ternyata tenaga 
nuklir semakin bertambah besar. Berbagai keberatan yang beralasan kuat 
dikemukakan. Yang kemudian terbukti dengan kecelakaan yang dialami berbagai 
pembangkit tenaga nuklir di Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Soviet, dan 
negara lainnya. 
Kekhawatiran terhadap bencana radiasi baik yang disebabkan oleh 
kecelakaan karena pengoperasian, maupun bahaya radiasi dari limbah nuklir, 
telah menghantui teknologi energi nuklir ini sejak lama. Marwoto memberi 
contoh, Swedia beberapa tahun lalu telah memutuskan untuk tidak lagi 
membangun pembangkit tenaga nuklir yang baru, dan yang terlanjur dibangun 
akan ditutup setelah masa gunanya habis. 
Selain itu, sebuah tenaga pembangkit tenaga nuklir 
di Filipina, yang dibangun semasa Marcos berkuasa, kini ditutup dan tidak 
dioperasikan mengingat kuatnya aksi protes oleh kelompok anti nuklir di 
negara itu. Akibatnya Filipina menderita kerugian bermilyar dolar. 
Sementara itu di Indonesia perdebatan mengenai tenaga nuklir juga telah 
dimulai, meskipun menurut Marwoto masih kecil-kecilan. Pendukung nuklir 
mencoba meyakinkan masyarakat bahwa pembangkit tenaga nuklir adalah jalan 
satu-satunya memenuhi kenaikan tenaga listrik setelah tahun 2000 nanti. 
"Sayangnya perdebatan pro dan kontra pembangkit tenaga nuklir di negeri 
kita kurang dilandasi informasi para pendukung tenaga nuklir yang 
mengatakan bahwa tenaga nuklir itu sepenuhnya terjamin aman, dan adalah 
satu-satunya yang terbaik dan yang sanggup memenuhi keperluan energi di 
Indonesia, "katanya. 
Ditambahkan, di Amerika Serikat sendiri banyak proyek pembangkit tenaga 
nuklir ditangguhkan. Bukan saja karena penanam modal yang diperlukan sangat 
besar, akan tetapi karena masih banyak kekhawatiran bahwa proses tenaga 
nuklir yang ada sekarang masih penuh risiko-risiko yang belum terjamin 
pengamanannya dengan sepenuh-penuhnya. 
"Berbagai insiden gawat telah terjadi di Amerika Serikat, yang membuka 
mata orang banyak, betapa teknologi tenaga nuklir yang ada ini belumlah 
sesempurna yang dikatakan selama ini oleh para pendukungnya yang punya 
kepentingan keuangan besar di dalamnya, "katanya. 
Demikian juga di Jerman ada "Kelompok Hijau" yang tak henti-hentinya 
menentang usaha memperluas usaha jaringan pembangkit tenaga nuklir. Di 
negeri itu, kata Marwoto, masalah tenaga nuklir merupakan perdebatan terus 
menerus yang diselingi demonstrasi terhadap proyek pembangunan pembangkit 
tenaga nuklir. Kelompok ini mendapat dukungan yang besar dari rakyat dan 
menjadi kekuatan politik tersendiri. 
Marwoto juga mengatakan, seorang ahli tenaga matahari Indonesia Prof Dr 
Seno Sastroamidjojo, lulusan MIT di Amerika Serikat tak jemu-jemunya 
mengimbau agar orang Indonesia jangan mudah terjebak ke dalam perangkap 
tenaga nuklir. 
Ia berpendapat, katanya, negeri seperti Indonesia yang terletak di jalur 
khatulistiwa tidaklah perlu memprioritaskan upaya pembangunan pembangkit 
tenaga nuklir. Karen masih ada energi yang bisa digunakan, seperti cahaya 
matahari yang bisa menghasilkan listrik melalui konektor, juga melalui 
teknologi lainnya. 
Prof Marwoto sendiri mengatakan, banyak bahan yang bisa menghasilkan 
energi. Seperti batubara yang banyak di Indonesia. Namun masalahnya, 
batubara sebagai sumber tenaga asapnya sangat mencemarkan udara, dan bisa 
menghasilkan hujan asam. Untuk itulah perlu dicari sumber energi 
alternatif. 
Disarankan juga, sumber minyak yang masih tersedia kini janganlah sampai 
membuat kita terlena, dan membiarkan segala proses yang tidak baik 
berlangsung terus, hingga membawa kita ke titik yang kritis. "Adalah lebih 
bijaksana menghindarkan tercapainya titik kritis, baik dalam sumber energi 
maupun dalam pencemaran lingkungan hidup sedini mungkin. Kita harus 
mengembangkan kebijaksanaan yang setepat mungkin, juga bagi hari depan 
bangsa kita, "katanya. 
(Harian Umum Suara Pembaruan, 18 September 1994)

ekki kurniawan < [EMAIL PROTECTED] <mailto:ekki0793%40yahoo.com> com> wrote:
Assalamu'laikum, dan salam sejahtera buat semua!

Kalau alasan penolakan PLTN itu,"bahwa orang Indonesia jagoan korupsi, tidak 
berdisiplin, suka ugal-ugalan, dan tukang melanggar aturan. Mau nekat? Ora 
ngilo githoké (tidak bercermin tengkuknya), kata pepatah Jawa."

itu bukan hanya untuk PLTN, bidang lainnya juga perlu disiplin.
jangan korupsi, tidak ugal2an dan tak boleh melanggar aturan.
Semoga dengan adanya PLTN, bisa menjadi titik awal perbaikan nasib 
bangsa...inshaALlah.

Wassalam.

Fabby Tumiwa < [EMAIL PROTECTED] <mailto:fabby%40nusa.or.id> id> wrote:
http://www.kompas. <http://www.kompas.com/> com/

Opini Kompas, 12 Juni 2007 

Selasa, 12 Juni 2007 
Gegabah
L Wilardjo 
Gegabah ialah sok berani sekali, tidak menimbang dengan matang, kelewat nekat 
dan grusa-grusu alias terlalu terburu-buru. Dalam bersikap, mengambil 
keputusan, dan bertindak, gegabah (foolhardy) adalah sifat yang tidak baik. 
Gegabah itulah vonis Mahadewa Zeus atas Prometheus. Titan pemberani ini nekat 
mencuri api dari kahyangan, lalu api itu diberikannya kepada manusia. Niat 
Prometheus mulia, yakni membantu manusia memperoleh kemajuan demi 
kesejahteraannya. Tetapi, api tidak hanya berguna. Api juga mengandung bahaya. 
Prometheus salah, sebab menyerahkan hal yang berbahaya itu tanpa lebih dulu 
mengajari manusia bagaimana bertindak arif dalam hidup bermasyarakat. Maka, 
Zeus menghukum Prometheus. Ia dirantai di batu raksasa. Di siang hari, 
gagak-gagak mematukinya, mengodol-odol hatinya. Malam harinya, Prometheus 
sembuh. Ia pulih, tetapi hanya untuk kembali dikerubuti gagak yang 
menyayat-yayat hatinya. 
Sementara itu, Zeus mengutus Hermes untuk mengajarkan civic wisdom-kearifan 
hidup bermasyarakat-kepada manusia. Dan, penderitaan Prometheus baru berakhir 
setelah ia ditolong Hercules. 
Itulah mitos yang dikisahkan Dr Karlina Supelli, ahli filsafat berlatar 
astronomi dan dosen di STF Driyarkara. Ia bercerita di Kampoeng Percik, 
Salatiga, Jumat 25 Mei lalu. Ia membenarkan vonis Zeus. 
Challenger 
Karlina juga bercerita tentang kegegabahan yang lain. Yang ini bukan mitos atau 
legenda, tetapi kisah nyata. Syahdan, pada malam terakhir menjelang peluncuran 
pesawat ulang-alik Challenger di hari yang sangat dingin, 28 Januari 1986. Para 
insinyur yang merancang tangki bahan bakar roket penggalak (booster rocket) 
pesawat ulang-alik itu khawatir akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan. Suhu 
pada hari itu diramalkan akan lebih dari 20 derajat F di bawah suhu terdingin 
yang pernah dialami dalam peluncuran-peluncuran sebelumnya. Keberatan para 
insinyur itu, khususnya insinyur senior Roger Boisjoly dan penyelia teknis 
Arnold Thompson, dikomunikasikan ke NASA, dan para insinyur di NASA pun 
memahami sikap para perancang tersebut. 
Tetapi, empat direktur "Thiokol" (perusahaan yang dikontrak membuat roket 
penggalak itu) punya kepentingan lain. Mereka ingin mendapatkan perpanjangan 
kontrak dari NASA. Dalam debat itu, Jerald Mason mendesak direktur teknis, 
Robert Lund, untuk "mencopot topi insinyur dan memakai topi manajemennya". 
Maka, sikap "Thiokol" dibalik, menjadi menyetujui peluncuran. 
Malam tanggal 28 Januari 1986, Allan Mcdonald, manajer proyek Roket Penggalak 
Berbahan Bakar Padat (Solid-fuel Rocket Booster atau SRB) masih berusaha 
menunda peluncuran. Ia menghubungi manajer peluncuran NASA di Pusat Penerbangan 
Angkasa Luar Marshall, Stanley Reinartz dan Lawrence Mulloy. Sia-sia belaka! 
Seperti di "Thiokol", manajemen di NASA juga menyepelekan peringatan para 
insinyur. Mulloy bahkan berkata, "Masya Allah, "Thiokol", kapan menurut kalian 
peluncuran ini boleh saya lakukan-bulan April nanti?" 
Maka, peluncuran itu pun terjadilah, disusul musibah besar. Challenger meledak 
dan hancur berkeping-keping. Di Challenger ada dua SRB, masing-masing terdiri 
atas empat bagian yang disambung. Celah sambungannya disumbat dengan "cincin O" 
yang terbuat dari bahan lenting. Karena suhu sangat dingin, "cincin O" itu 
menjadi getas dan rapuh. Gas menyusup keluar melalui celah sambungannya, lalu 
terbakar, memicu ledakan. 
Duit dan politik 
Itulah akibat kegegabahan manajer yang tidak menggubris peringatan para 
insinyur. Para direktur di "Thiokol" punya kepentingan UUD (ujung-ujungnya 
duit), ingin perpanjangan kontrak. Para manajer di NASA mendapat tekanan 
politik, sebab malam sesudah peluncuran itu rencananya Presiden Ronald Reagan 
akan memberikan amanat kepresidenan (State of the Union message), membanggakan 
sukses Challenger. Nuansa politiknya kental, seperti terlihat pada Christa 
MacAuliffe, ibu guru TK yang diikutsertakan dalam misi Challenger. Reagan ingin 
memperoleh dukungan kaum feminis. 
Kisah kegegabahan tadi kontras dengan Jerman. Negara ini menyusul Swedia dan 
Austria, menyatakan sudah emoh PLTN. Pembangkit bertenaga nuklir yang sudah 
telanjur ada hanya akan dihabiskan masa pakainya. 
Awal bulan Mei 2007 di Brussels, partai-partai hijau di Parlemen Eropa 
menekankan bahwa 21 tahun sesudah Chernobyl, situasi di bidang per-PLTN-an 
menakutkan. Setiap tahun terjadi 1.000-an musibah (insidents; zwischenfälle). 
Dalam 20 tahun sesudah Chernobyl, terjadi 16 kecelakaan besar (accidents; 
unfälle), dua di antaranya di Jerman. Wakil Ketua Partai Hijau di Parlemen 
Eropa, Rebecca Harm, mengatakan bahwa tenaga nuklir bukanlah sarana untuk 
mengatasi perubahan iklim. Wolfgang Kromp, pimpinan Lembaga Penelitian Risiko 
di Universitas Wina, menegaskan bahwa tenaga nuklir harus mundur teratur. 
Gegabah atau arif? 
Bagaimana kita sendiri di Indonesia? Apakah kita mau sok gagah, lalu bertindak 
gegabah? Atau bersikap arif dan mengedepankan kehati-hatian (prudence)? Apalah 
kita ini kalau dibandingkan dengan Swedia, Austria, dan Jerman dalam penguasaan 
teknologi tinggi dan dalam budaya berdisiplin ketat? 
Prof Dr Franz Magnis-Suseno, ningrat Jerman yang leluhurnya asal Chech, pastor 
Jesuit, memberikan "cap" jelek kepada kita. Dikatakannya bahwa orang Indonesia 
jagoan korupsi, tidak berdisiplin, suka ugal-ugalan, dan tukang melanggar 
aturan. Mau nekat? Ora ngilo githoké (tidak bercermin tengkuknya), kata pepatah 
Jawa. 
L Wilardjo Fisikawan dan Dosen Etika Program Pascasarjana UKSW 

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger 
<http://uk.messenger.yahoo.com> .yahoo.com 

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger 
<http://uk.messenger.yahoo.com> .yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]



         

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke