Terma itu jelas tak lazim, untuk tidak mengatakan tidak tepat,
digunakan dalam terma-terma bahasa Arab untuk mengindikasikan obyek
serupa.

Terma-terma itu dibuat dan dipakai berdasar pandangan yang sederhana
saja jika fundamentalis adalah "berlebih-lebihan" dan liberal adalah
cenderung "terlalu mempermudah". Makanya itu sangat terkesan dalam
pilihan bahasa yang dipakai "mutasyaddid" dan "al tasahuli".

Jika tidak salah yang lazim dipakai adalah
ekstrem, militan = mutasyaddid, mutathorrif
fundamentalis = ushuly
liberal = libraliy
radikal = radikaliy

Mohon dikoreksi jika salah...


Salam,


--- In [email protected], hamzah sahal <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> salam
>    
>   boleh saya bertanya? boleh ya...
>    
>   1. Kenapa teks pidato ini nggegek mongso? semoga Baso bisa paham
nggegek mongso. apakah ini minta masukan? atau teks ini merupakan juga
konsep yang nanti bisa diubah?
>    
>   2. saya yang awam b. Arab boleh juga bertanya kan? kenapa
ekstrem-fundamentalis diterjemahkan tatharruf tasyaddudi? Tentu juga
saya bertanya kenapa ekstrem-liberalis menjadi tatharruf-tasahuli 
>    
>   maaf, kalau pertanyaan ini tidak penting dan oneng. Tapi saya
butuh jawaban.
>    
>   terima kasih,
>    
>   hamz`
>    
>    
>   ahmad baso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>   Alhamdulilahirabbil alamin
> Washshalatu wassalamu ala sayyidina muhamamdin wa ala alihi
wasahbihi ajma'in
> Amma ba'd,
> 
> Dengan ridha dan hidayah dari Allah SWT, hari ini adalah hari yang
berbahagia bagi warga Nahdliyyin. Hari ini kita merayakan Harlah
Nahdlatul Ulama yang ke-82. Dalam usianya tersebut, Nahdlatul Ulama
telah melewati 3 generasi: generasi Hadlratussyekh Kiai Hasyim Asyari,
generasi kita dan generasi anak-anak kita. Dan Harlah ini menjadi
penting untuk kita rayakan, pertama, untuk memastikan kelancaran
pewarisan nilai-nilai dan kelangsungan perjuangan Nahdlatul Ulama di
antara ketiga generasi tersebut. 
> Yang kedua, berkaitan dengan faktor reformasi, yang mengubah kondisi
kenegaraan, tata sosial serta aspek-aspek kemasyarakatan kita secara
komprehensif. Persoalan ini harus disikapi secara arif, melalui
pendekatan dan ciri khas Nahdlatul Ulama, yakni pendekatan
al-muhafazhah ala-l-qadimi-sh-shalih wal akhdzu bil jadidi-l-ashlah. 
> Harlah Nahdlatul Ulama ke-82 ini mengingatkan kita bahwa reformasi
pada satu sisi membawa hal-hal yang demokratis, tapi juga pada sisi
lainnya membawa berbagai macam tantangan yang berat, yang harus
dilalui dengan selamat.
> Dewasa ini terjadi peralihan generasi atau regenerasi total
dibanding generasi masa lahirnya NU. Kita melihat, generasi muda
sekarang merupakan generasi yang "kosong", yang kini menjadi rebutan
berbagai keyakinan ideologi, cara berpikir dan tata cara kehidupan. 
> Oleh karenanya kita perlu membangun Nahdlatul Ulama serta
meng-NU-kan kembali orang-orang NU dalam keutuhan akidah, syariat,
akhlaq, dan manhaj. Untuk itu, pewarisan metodologi perjuangan Wali
Songo menjadi penting di tengah konteks keindonesiaan dan pada lingkup
internasional.
> Ciri khas Ahlussunnah Waljamaah yang dibawa oleh para Wali Songo itu
kemudian diteruskan oleh para ulama Nahdlatul Ulama dalam gerakan
Islam yang Indonesiawi, melalui perjuangan keindonesiaan yang disinari
oleh agama.
> Lalu, apa arti meng-NU-kan orang NU?
> Saya tegaskan, setiap orang NU haruslah dapat menjadi NU karena
ajaran serta metodologi perjuangannya. Dan bukan karena keturunan,
pergaulan, atau kepentingan. Orang NU haruslah juga dapat membedakan
diri dengan gerakan-gerakan tatharruf tasyaddudi
(ekstrem-fundamentalis) maupun tatharruf-tasahuli (ekstrem-liberalis),
yang kedua-duanya bukanlah ciri khas perjuangan Islam domestik
nasionalis Indonesia.
> Kelompok-kelompok tatharruf tasyaddudi ini pada umumnya mencoreng
tasamuh Islami. Demikian pula kelompok-kelompok tatharruf tasahuli
yang mengancam keteguhan akidah dan syariah. 
> Dan kini, di tengah masyarakat kita, masih subur tumbuh kemunafikan,
kefasikan, kezindikan, serta penyimpangan-penyimpangan dari ajaran
Islam. Seperti nabi palsu, jibril palsu, dan berbagai macam khurafat
yang mengancam kemurnian akidah.
> Sesuai dengan cara dan pendekatan Wali Songo, hikmah kebijakan para
ulama dalam membawakan Islam di Indonesia adalah keseimbangan dan
keserasian antara fiqhul ahkam, fiqhu-d-dakwah dan fiqhus-siyasah.
Fiqhul ahkam adalah pendekatan hukum legal formal-syariat. Sedangkan
fiqhu-d-dakwah adalah pendekatan keteladanan, bimbingan dan penyuluhan
serta hikmah advokasi atau pembelaan terhadap nilai agama dari
berbagai macam serangan dengan cara yang lebih baik dari kualitas
serangan itu. 
> Sementara fiqhus siyasah adalah pendekatan politik-substansial,
yakni bagaimana menuangkan nilai agama dalam kenyataan bangsa yang
plural, serta bentuk negara yang harus mengayomi semua golongan dan agama.
> Nahdlatul Ulama tidak berada pada posisi politik kekuasaan praktis,
tapi berada pada politik keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan. Mengapa
demikian? 
> Tradisi Nahdlatul Ulama adalah tradisi penghargaan terhadap ulama,
tradisi penghormatan terhadap orang-orang yang cakap dan berilmu
pengetahuan tentang agama dan masyarakatnya. Sejarah ulama di
Indonesia adalah sejarah populisme dan kebangsaan. Itu sebabnya para
ulama menyebut asal-usulnya di belakang namanya, seperti Syekh Yusuf
al-Makassari, Syekh Arsyad al-Banjari atau Syekh Nawawi an-Bantani.
> Sudah banyak tawaran solusi politik dan ekonomi dari luar yang
diperkenalkan kepada kita di era reformasi ini. Tapi ternyata tidak
mengindahkan suara bangsa kita, suara ulama, suara rakyat dan suara
tradisinya. 
> Umat Islam Indonesia ingin mengembalikan lagi harkat dan martabat
bangsa dan rakyat Indonesia ini, hendak pula mengembalikan tradisi
sebagai sebuah kekuatan populis. Pesantren dan ulama menjadi motor
penggeraknya. 
> Kepemimpinan ulama dalam masyarakat berawal dari kepemimpinan
pesantren. Apabila pesantren dapat berkembang di bawah otoritas ulama,
berarti kepemimpinan ulama mendapatkan legitimasi dan pengakuan dari
masyarakat. Karena itu seorang ulama kharismatik menjadi penasehat dan
rujukan masyarakat dari berbagai lapisan. Pada saat masyarakat
mengalami kekacauan dan gangguan, para ulama-lah yang menjadi pegangan.
> Pada tataran internasional, Nahdlatul Ulama juga berkiprah dengan
mempunyai forum internasional, yaitu al-Mu'tamaru duwali li-l- Ulama
wal Mutsaqqafin al-Islamiyyin/ICIS, International Conference of
Islamic Scholars). Forum ini dimaksudkan untuk mempromosikan manhaj
serta tata cara kejuangan Nahdlatul Ulama yang tawassuth dan i'tidal
(moderatisme) ke seluruh dunia, serta penggalangan ukhuwah islamiyah
dengan seluruh ulama dari berbagai mazhab di dunia, serta cendekiawan
muslim se-dunia. Dan sama sekali bukan akan mengadopsi sistem dan
gerakan politik dari luar negeri, yang belum tentu cocok dengan
kondisi negara Indonesia berdasarkan wadah Republik dengan filsafat
dan aturan mainnya.
> Dengan demikian penuangan ajaran Islam secara fiqhul ahkam ditujukan
untuk umat yang sudah siap melakukannnya (ummat ijabah), karena tujuan
Nahdlatul Ulama dalam Anggaran Dasarnya adalah melaksanakan syariat
Islam dalam masyarakat Indonesia. Sedangkan fiqhu-d-dakwah dan fiqhus
siyasah ditujukan untuk pengembangan Islam dalam masyarakat majemuk
serta penuangan nilai-nilai ajaran agama secara substansial inklusif
terhadap negara, dan bukan formal-eksklusif.
> Program muktamar Nahdlatul Ulama ke 31 di Solo menugaskan PBNU untuk
menjam'iyyahkan jamaah NU. Sehingga diperlukan penataan kembali
organisasi dan peningkatan kerapiannya, serta membentuk sistem
organisasi yang modern dengan tetap mengusung tradisi-tradisi
Nahdlatul Ulama.
> Harga Nahdlatul Ulama dihitung pada tingkat pengabdian dan
khidmatnya terhadap umat dan masyarakat. Sehingga tidak ada jalan lain
selain meningkatkan kualitas pengabdian dan khidmat tersebut. 
> Maka, peningkatan pendidikan Ma'arif, penguatan kualitas pondok
pesantren, pengembangan proyek-proyek kesehatan dan kemanusiaan,
haruslah menjadi titik berat perjuangan Nahdlatul Ulama. Dalam hal ini
Nahdlatul Ulama harus mengakui masih banyak ketertinggalan dalam
bidang pengabdian itu. 
> Sehubungan dengan adanya reformasi, dan tarik menarik kepentingan
politik yang luar biasa, baik skala nasional regional, maupun lokal,
dalam wujud pemilu dan pilkada, hendaknya warga NU tetap menjaga
persatuan dan kesatuan ukhuwah Nahdliyah. Tidak boleh terbawa arus
dari kepentingan kepentingan politik tersebut. Syukur kalau bisa
mengambil istifadah dari padanya, tapi paling tidak, jangan karena itu
semua warga Nahdliyin dan para ulama NU terpecah belah antara satu
dengan yang lainnya.
> Negeri kita telah sepuluh tahun dilanda bencana sosial sejak 1997.
Akibatnya adalah konflik berkepanjangan baik konflik yang berwatak
agama, suku, politik kepentingan kelompok, gangguan-gangguan
separatisme, maupun subversi asing. Itu semua telah membuat bangsa
Indonesia menjadi kelelahan, dan kurang produktif.
> Sedangkan pada tiga tahun terakhir, dimulai dari 26 Desember 2004,
Tanah Air kita dilanda bencana alam yang tiada henti-hentinya. Mulai
tsunami di Aceh, di Banyuwangi, di Pangandaran, gempa di Nias,
Bengkulu, di Yogyakarta, kebakaran hutan di Kalimantan, lumpur di
Sidoarjo, serta banjir bandang di Jawa Timur dan Jawa Tengah, serta di
DKI Jakarta, yang tiada henti-hentinya, ikut menambah rasa kepiluan
masyarakat Indonesia.
> Menghadapi situasi seperti ini, hendaknya para ulama bertindak
sebagai penawar duka masyarakat, sebagai pengayom serta penyalur jerit
tangis masyarakat kepada penyelesaian yang sebaik-baiknya. Sangat
tidak etis, kalau para ulama dan pemimpin bangsa ini lebih sibuk
dengan angan-angannya sendiri, dengan kepentingan-kepentingan sendiri,
yang terlepas dari derita masyarakat sehari-hari. 
> Oleh karenanya, di dalam Harlah ini kami serukan agar seluruh ulama
Nahdlatul Ulama dan ulama Indonesia menampati kembali posisinya
sebagai pengayom masyarakat dan penawar keluh kesah penderitaan umat.
> Agar bencana tidak lagi mendera bangsa ini, marilah kita melakukan
empat hal berikut: taqarrub ilallah, bertaubat, beramal shaleh, dan
juga yang paling penting bersikap ramah terhadap lingkungan dan tidak
melakukan pengrusakan lagi terhadap alam.
> Untuk itu, pada kesempatan yang mulia ini, saya berpesan agar
segenap komponen bangsa ini bersatu padu untuk membangun kembali Tanah
Air kita pasca bencana. Pemerintah dituntut pula untuk segera
meningkatkan kesejahteraan, kemakmuran dan kebahagiaan masyarakat,
serta memajukan kehidupan ekonomi bangsa ini, khususnya warga NU.
Bagian terbesar bangsa adalah warga Nahdlatul Ulama. Dan ukuran
berhasil tidaknya pembangunan kesejahteraan yang dilakukan pemerintah
terhadap masyarakat bangsa ini tergantung dari tercapainya kemakmuran
tersebut bagi segenap warga Nahdlatul Ulama.
> 
> Demikian pesan dan taw'iyah ini saya sampaikan. Semoga bermanfaat
bagi kemaslahatan warga Nahdliyin dan juga bagi kemakmuran dan
kebesaran bangsa Indonesia.
> 
> Wallahul muwaffiq ila aqwami thariq.
> 
> Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
> 
> 
>
____________________________________________________________________________________
> Never miss a thing. Make Yahoo your home page. 
> http://www.yahoo.com/r/hs
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
> 
> ______________________________________________________________________
> http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU
Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
> ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
> Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal
Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
> [EMAIL PROTECTED] 
> 
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 
>        
> ---------------------------------
> Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. 
Try it now.
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke