salam
   
  boleh saya bertanya? boleh ya...
   
  1. Kenapa teks pidato ini nggegek mongso? semoga Baso bisa paham nggegek 
mongso. apakah ini minta masukan? atau teks ini merupakan juga konsep yang 
nanti bisa diubah?
   
  2. saya yang awam b. Arab boleh juga bertanya kan? kenapa 
ekstrem-fundamentalis diterjemahkan tatharruf tasyaddudi? Tentu juga saya 
bertanya kenapa ekstrem-liberalis menjadi tatharruf-tasahuli 
   
  maaf, kalau pertanyaan ini tidak penting dan oneng. Tapi saya butuh jawaban.
   
  terima kasih,
   
  hamz`
   
   
  ahmad baso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Alhamdulilahirabbil alamin
Washshalatu wassalamu ala sayyidina muhamamdin wa ala alihi wasahbihi ajma’in
Amma ba’d,

Dengan ridha dan hidayah dari Allah SWT, hari ini adalah hari yang berbahagia 
bagi warga Nahdliyyin. Hari ini kita merayakan Harlah Nahdlatul Ulama yang 
ke-82. Dalam usianya tersebut, Nahdlatul Ulama telah melewati 3 generasi: 
generasi Hadlratussyekh Kiai Hasyim Asyari, generasi kita dan generasi 
anak-anak kita. Dan Harlah ini menjadi penting untuk kita rayakan, pertama, 
untuk memastikan kelancaran pewarisan nilai-nilai dan kelangsungan perjuangan 
Nahdlatul Ulama di antara ketiga generasi tersebut. 
Yang kedua, berkaitan dengan faktor reformasi, yang mengubah kondisi 
kenegaraan, tata sosial serta aspek-aspek kemasyarakatan kita secara 
komprehensif. Persoalan ini harus disikapi secara arif, melalui pendekatan dan 
ciri khas Nahdlatul Ulama, yakni pendekatan al-muhafazhah 
ala-l-qadimi-sh-shalih wal akhdzu bil jadidi-l-ashlah. 
Harlah Nahdlatul Ulama ke-82 ini mengingatkan kita bahwa reformasi pada satu 
sisi membawa hal-hal yang demokratis, tapi juga pada sisi lainnya membawa 
berbagai macam tantangan yang berat, yang harus dilalui dengan selamat.
Dewasa ini terjadi peralihan generasi atau regenerasi total dibanding generasi 
masa lahirnya NU. Kita melihat, generasi muda sekarang merupakan generasi yang 
“kosong”, yang kini menjadi rebutan berbagai keyakinan ideologi, cara berpikir 
dan tata cara kehidupan. 
Oleh karenanya kita perlu membangun Nahdlatul Ulama serta meng-NU-kan kembali 
orang-orang NU dalam keutuhan akidah, syariat, akhlaq, dan manhaj. Untuk itu, 
pewarisan metodologi perjuangan Wali Songo menjadi penting di tengah konteks 
keindonesiaan dan pada lingkup internasional.
Ciri khas Ahlussunnah Waljamaah yang dibawa oleh para Wali Songo itu kemudian 
diteruskan oleh para ulama Nahdlatul Ulama dalam gerakan Islam yang 
Indonesiawi, melalui perjuangan keindonesiaan yang disinari oleh agama.
Lalu, apa arti meng-NU-kan orang NU?
Saya tegaskan, setiap orang NU haruslah dapat menjadi NU karena ajaran serta 
metodologi perjuangannya. Dan bukan karena keturunan, pergaulan, atau 
kepentingan. Orang NU haruslah juga dapat membedakan diri dengan 
gerakan-gerakan tatharruf tasyaddudi (ekstrem-fundamentalis) maupun 
tatharruf-tasahuli (ekstrem-liberalis), yang kedua-duanya bukanlah ciri khas 
perjuangan Islam domestik nasionalis Indonesia.
Kelompok-kelompok tatharruf tasyaddudi ini pada umumnya mencoreng tasamuh 
Islami. Demikian pula kelompok-kelompok tatharruf tasahuli yang mengancam 
keteguhan akidah dan syariah. 
Dan kini, di tengah masyarakat kita, masih subur tumbuh kemunafikan, kefasikan, 
kezindikan, serta penyimpangan-penyimpangan dari ajaran Islam. Seperti nabi 
palsu, jibril palsu, dan berbagai macam khurafat yang mengancam kemurnian 
akidah.
Sesuai dengan cara dan pendekatan Wali Songo, hikmah kebijakan para ulama dalam 
membawakan Islam di Indonesia adalah keseimbangan dan keserasian antara fiqhul 
ahkam, fiqhu-d-dakwah dan fiqhus-siyasah. Fiqhul ahkam adalah pendekatan hukum 
legal formal-syariat. Sedangkan fiqhu-d-dakwah adalah pendekatan keteladanan, 
bimbingan dan penyuluhan serta hikmah advokasi atau pembelaan terhadap nilai 
agama dari berbagai macam serangan dengan cara yang lebih baik dari kualitas 
serangan itu. 
Sementara fiqhus siyasah adalah pendekatan politik-substansial, yakni bagaimana 
menuangkan nilai agama dalam kenyataan bangsa yang plural, serta bentuk negara 
yang harus mengayomi semua golongan dan agama.
Nahdlatul Ulama tidak berada pada posisi politik kekuasaan praktis, tapi berada 
pada politik keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan. Mengapa demikian? 
Tradisi Nahdlatul Ulama adalah tradisi penghargaan terhadap ulama, tradisi 
penghormatan terhadap orang-orang yang cakap dan berilmu pengetahuan tentang 
agama dan masyarakatnya. Sejarah ulama di Indonesia adalah sejarah populisme 
dan kebangsaan. Itu sebabnya para ulama menyebut asal-usulnya di belakang 
namanya, seperti Syekh Yusuf al-Makassari, Syekh Arsyad al-Banjari atau Syekh 
Nawawi an-Bantani.
Sudah banyak tawaran solusi politik dan ekonomi dari luar yang diperkenalkan 
kepada kita di era reformasi ini. Tapi ternyata tidak mengindahkan suara bangsa 
kita, suara ulama, suara rakyat dan suara tradisinya. 
Umat Islam Indonesia ingin mengembalikan lagi harkat dan martabat bangsa dan 
rakyat Indonesia ini, hendak pula mengembalikan tradisi sebagai sebuah kekuatan 
populis. Pesantren dan ulama menjadi motor penggeraknya. 
Kepemimpinan ulama dalam masyarakat berawal dari kepemimpinan pesantren. 
Apabila pesantren dapat berkembang di bawah otoritas ulama, berarti 
kepemimpinan ulama mendapatkan legitimasi dan pengakuan dari masyarakat. Karena 
itu seorang ulama kharismatik menjadi penasehat dan rujukan masyarakat dari 
berbagai lapisan. Pada saat masyarakat mengalami kekacauan dan gangguan, para 
ulama-lah yang menjadi pegangan.
Pada tataran internasional, Nahdlatul Ulama juga berkiprah dengan mempunyai 
forum internasional, yaitu al-Mu’tamaru duwali li-l- Ulama wal Mutsaqqafin 
al-Islamiyyin/ICIS, International Conference of Islamic Scholars). Forum ini 
dimaksudkan untuk mempromosikan manhaj serta tata cara kejuangan Nahdlatul 
Ulama yang tawassuth dan i’tidal (moderatisme) ke seluruh dunia, serta 
penggalangan ukhuwah islamiyah dengan seluruh ulama dari berbagai mazhab di 
dunia, serta cendekiawan muslim se-dunia. Dan sama sekali bukan akan mengadopsi 
sistem dan gerakan politik dari luar negeri, yang belum tentu cocok dengan 
kondisi negara Indonesia berdasarkan wadah Republik dengan filsafat dan aturan 
mainnya.
Dengan demikian penuangan ajaran Islam secara fiqhul ahkam ditujukan untuk umat 
yang sudah siap melakukannnya (ummat ijabah), karena tujuan Nahdlatul Ulama 
dalam Anggaran Dasarnya adalah melaksanakan syariat Islam dalam masyarakat 
Indonesia. Sedangkan fiqhu-d-dakwah dan fiqhus siyasah ditujukan untuk 
pengembangan Islam dalam masyarakat majemuk serta penuangan nilai-nilai ajaran 
agama secara substansial inklusif terhadap negara, dan bukan formal-eksklusif.
Program muktamar Nahdlatul Ulama ke 31 di Solo menugaskan PBNU untuk 
menjam’iyyahkan jamaah NU. Sehingga diperlukan penataan kembali organisasi dan 
peningkatan kerapiannya, serta membentuk sistem organisasi yang modern dengan 
tetap mengusung tradisi-tradisi Nahdlatul Ulama.
Harga Nahdlatul Ulama dihitung pada tingkat pengabdian dan khidmatnya terhadap 
umat dan masyarakat. Sehingga tidak ada jalan lain selain meningkatkan kualitas 
pengabdian dan khidmat tersebut. 
Maka, peningkatan pendidikan Ma’arif, penguatan kualitas pondok pesantren, 
pengembangan proyek-proyek kesehatan dan kemanusiaan, haruslah menjadi titik 
berat perjuangan Nahdlatul Ulama. Dalam hal ini Nahdlatul Ulama harus mengakui 
masih banyak ketertinggalan dalam bidang pengabdian itu. 
Sehubungan dengan adanya reformasi, dan tarik menarik kepentingan politik yang 
luar biasa, baik skala nasional regional, maupun lokal, dalam wujud pemilu dan 
pilkada, hendaknya warga NU tetap menjaga persatuan dan kesatuan ukhuwah 
Nahdliyah. Tidak boleh terbawa arus dari kepentingan kepentingan politik 
tersebut. Syukur kalau bisa mengambil istifadah dari padanya, tapi paling 
tidak, jangan karena itu semua warga Nahdliyin dan para ulama NU terpecah belah 
antara satu dengan yang lainnya.
Negeri kita telah sepuluh tahun dilanda bencana sosial sejak 1997. Akibatnya 
adalah konflik berkepanjangan baik konflik yang berwatak agama, suku, politik 
kepentingan kelompok, gangguan-gangguan separatisme, maupun subversi asing. Itu 
semua telah membuat bangsa Indonesia menjadi kelelahan, dan kurang produktif.
Sedangkan pada tiga tahun terakhir, dimulai dari 26 Desember 2004, Tanah Air 
kita dilanda bencana alam yang tiada henti-hentinya. Mulai tsunami di Aceh, di 
Banyuwangi, di Pangandaran, gempa di Nias, Bengkulu, di Yogyakarta, kebakaran 
hutan di Kalimantan, lumpur di Sidoarjo, serta banjir bandang di Jawa Timur dan 
Jawa Tengah, serta di DKI Jakarta, yang tiada henti-hentinya, ikut menambah 
rasa kepiluan masyarakat Indonesia.
Menghadapi situasi seperti ini, hendaknya para ulama bertindak sebagai penawar 
duka masyarakat, sebagai pengayom serta penyalur jerit tangis masyarakat kepada 
penyelesaian yang sebaik-baiknya. Sangat tidak etis, kalau para ulama dan 
pemimpin bangsa ini lebih sibuk dengan angan-angannya sendiri, dengan 
kepentingan-kepentingan sendiri, yang terlepas dari derita masyarakat 
sehari-hari. 
Oleh karenanya, di dalam Harlah ini kami serukan agar seluruh ulama Nahdlatul 
Ulama dan ulama Indonesia menampati kembali posisinya sebagai pengayom 
masyarakat dan penawar keluh kesah penderitaan umat.
Agar bencana tidak lagi mendera bangsa ini, marilah kita melakukan empat hal 
berikut: taqarrub ilallah, bertaubat, beramal shaleh, dan juga yang paling 
penting bersikap ramah terhadap lingkungan dan tidak melakukan pengrusakan lagi 
terhadap alam.
Untuk itu, pada kesempatan yang mulia ini, saya berpesan agar segenap komponen 
bangsa ini bersatu padu untuk membangun kembali Tanah Air kita pasca bencana. 
Pemerintah dituntut pula untuk segera meningkatkan kesejahteraan, kemakmuran 
dan kebahagiaan masyarakat, serta memajukan kehidupan ekonomi bangsa ini, 
khususnya warga NU. Bagian terbesar bangsa adalah warga Nahdlatul Ulama. Dan 
ukuran berhasil tidaknya pembangunan kesejahteraan yang dilakukan pemerintah 
terhadap masyarakat bangsa ini tergantung dari tercapainya kemakmuran tersebut 
bagi segenap warga Nahdlatul Ulama.

Demikian pesan dan taw’iyah ini saya sampaikan. Semoga bermanfaat bagi 
kemaslahatan warga Nahdliyin dan juga bagi kemakmuran dan kebesaran bangsa 
Indonesia.

Wallahul muwaffiq ila aqwami thariq.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

[Non-text portions of this message have been removed]



______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 

Yahoo! Groups Links





       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke