Melihat substansinya: lebih pas dibaca Kiai Hasyim
Muzadi (Tanfidziyah).

sulthan fatoni


--- Kh Anam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Mas Rumadi,
> Setahu saya itu bukan dari mas baso karena di situ
> tidak ada istilah
> "poskolonial" atau "NU Studies"nya. Istilah fikih
> dakwah, fikih siyasah, dan
> fikih ahkam (:model pembagian yang tidak mantiqi),
> apalagi soal ICIS itu
> malah lebih sering saya dengar dari Pak Hasyim. Lalu
> istilah tatharruf itu
> lebih sering diucapkan Kiai Ma'ruf Amin.
> 
> Namun apapun yang terjadi dengan Mbah Sahal, menurut
> saya, pidatonya tidak
> perlu dipublikasikan sebelum hari H, nanti tidak ada
> supres kan!
> 
> Selamat Harlah Ke-82 NU. Makin tua makin
> menjadi(-jadi)...!
> 
> On 1/16/08, Rumadi Rumadi <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> >
> >
> > Saya juga agak aneh mengapa acaranya masih cukup
> lama teks pidatonya sudah
> > dipublish. Oleh Baso lagi. Apakah Baso ingin
> mengatakan kalau yang membuat
> > teks pidato Rais Am ini dia? he he... sekedar ikut
> usil.
> >
> > Salam,
> >
> > RUmadi
> > ________________________________
> > > To: [email protected]
> > > From: [EMAIL PROTECTED]
> > > Date: Tue, 15 Jan 2008 19:05:15 -0800
> > > Subject: Re: [kmnu2000] KHUTBAH TAW'IYYAH RAIS
> AM PBNU PADA HARLAH NU KE
> > 82 ,3 FEB 2008
> > >
> > >
> > > salam
> > >
> > > boleh saya bertanya? boleh ya...
> > >
> > > 1. Kenapa teks pidato ini nggegek mongso? semoga
> Baso bisa paham nggegek
> > mongso. apakah ini minta masukan? atau teks ini
> merupakan juga konsep yang
> > nanti bisa diubah?
> > >
> > > 2. saya yang awam b. Arab boleh juga bertanya
> kan? kenapa
> > ekstrem-fundamentalis diterjemahkan tatharruf
> tasyaddudi? Tentu juga saya
> > bertanya kenapa ekstrem-liberalis menjadi
> tatharruf-tasahuli
> > >
> > > maaf, kalau pertanyaan ini tidak penting dan
> oneng. Tapi saya butuh
> > jawaban.
> > >
> > > terima kasih,
> > >
> > > hamz`
> > >
> > >
> > > ahmad baso> wrote:
> > > Alhamdulilahirabbil alamin
> > > Washshalatu wassalamu ala sayyidina muhamamdin
> wa ala alihi wasahbihi
> > ajma'in
> > > Amma ba'd,
> > >
> > > Dengan ridha dan hidayah dari Allah SWT, hari
> ini adalah hari yang
> > berbahagia bagi warga Nahdliyyin. Hari ini kita
> merayakan Harlah Nahdlatul
> > Ulama yang ke-82. Dalam usianya tersebut,
> Nahdlatul Ulama telah melewati 3
> > generasi: generasi Hadlratussyekh Kiai Hasyim
> Asyari, generasi kita dan
> > generasi anak-anak kita. Dan Harlah ini menjadi
> penting untuk kita rayakan,
> > pertama, untuk memastikan kelancaran pewarisan
> nilai-nilai dan kelangsungan
> > perjuangan Nahdlatul Ulama di antara ketiga
> generasi tersebut.
> > > Yang kedua, berkaitan dengan faktor reformasi,
> yang mengubah kondisi
> > kenegaraan, tata sosial serta aspek-aspek
> kemasyarakatan kita secara
> > komprehensif. Persoalan ini harus disikapi secara
> arif, melalui pendekatan
> > dan ciri khas Nahdlatul Ulama, yakni pendekatan
> al-muhafazhah
> > ala-l-qadimi-sh-shalih wal akhdzu bil
> jadidi-l-ashlah.
> > > Harlah Nahdlatul Ulama ke-82 ini mengingatkan
> kita bahwa reformasi pada
> > satu sisi membawa hal-hal yang demokratis, tapi
> juga pada sisi lainnya
> > membawa berbagai macam tantangan yang berat, yang
> harus dilalui dengan
> > selamat.
> > > Dewasa ini terjadi peralihan generasi atau
> regenerasi total dibanding
> > generasi masa lahirnya NU. Kita melihat, generasi
> muda sekarang merupakan
> > generasi yang "kosong", yang kini menjadi rebutan
> berbagai keyakinan
> > ideologi, cara berpikir dan tata cara kehidupan.
> > > Oleh karenanya kita perlu membangun Nahdlatul
> Ulama serta meng-NU-kan
> > kembali orang-orang NU dalam keutuhan akidah,
> syariat, akhlaq, dan manhaj.
> > Untuk itu, pewarisan metodologi perjuangan Wali
> Songo menjadi penting di
> > tengah konteks keindonesiaan dan pada lingkup
> internasional.
> > > Ciri khas Ahlussunnah Waljamaah yang dibawa oleh
> para Wali Songo itu
> > kemudian diteruskan oleh para ulama Nahdlatul
> Ulama dalam gerakan Islam yang
> > Indonesiawi, melalui perjuangan keindonesiaan yang
> disinari oleh agama.
> > > Lalu, apa arti meng-NU-kan orang NU?
> > > Saya tegaskan, setiap orang NU haruslah dapat
> menjadi NU karena ajaran
> > serta metodologi perjuangannya. Dan bukan karena
> keturunan, pergaulan, atau
> > kepentingan. Orang NU haruslah juga dapat
> membedakan diri dengan
> > gerakan-gerakan tatharruf tasyaddudi
> (ekstrem-fundamentalis) maupun
> > tatharruf-tasahuli (ekstrem-liberalis), yang
> kedua-duanya bukanlah ciri khas
> > perjuangan Islam domestik nasionalis Indonesia.
> > > Kelompok-kelompok tatharruf tasyaddudi ini pada
> umumnya mencoreng
> > tasamuh Islami. Demikian pula kelompok-kelompok
> tatharruf tasahuli yang
> > mengancam keteguhan akidah dan syariah.
> > > Dan kini, di tengah masyarakat kita, masih subur
> tumbuh kemunafikan,
> > kefasikan, kezindikan, serta
> penyimpangan-penyimpangan dari ajaran Islam.
> > Seperti nabi palsu, jibril palsu, dan berbagai
> macam khurafat yang mengancam
> > kemurnian akidah.
> > > Sesuai dengan cara dan pendekatan Wali Songo,
> hikmah kebijakan para
> > ulama dalam membawakan Islam di Indonesia adalah
> keseimbangan dan keserasian
> > antara fiqhul ahkam, fiqhu-d-dakwah dan
> fiqhus-siyasah. Fiqhul ahkam adalah
> > pendekatan hukum legal formal-syariat. Sedangkan
> fiqhu-d-dakwah adalah
> > pendekatan keteladanan, bimbingan dan penyuluhan
> serta hikmah advokasi atau
> > pembelaan terhadap nilai agama dari berbagai macam
> serangan dengan cara yang
> > lebih baik dari kualitas serangan itu.
> > > Sementara fiqhus siyasah adalah pendekatan
> politik-substansial, yakni
> > bagaimana menuangkan nilai agama dalam kenyataan
> bangsa yang plural, serta
> > bentuk negara yang harus mengayomi semua golongan
> dan agama.
> > > Nahdlatul Ulama tidak berada pada posisi politik
> kekuasaan praktis, tapi
> > berada pada politik keumatan, kebangsaan dan
> kemanusiaan. Mengapa demikian?
> > > Tradisi Nahdlatul Ulama adalah tradisi
> penghargaan terhadap ulama,
> > tradisi penghormatan terhadap orang-orang yang
> cakap dan berilmu pengetahuan
> > tentang agama dan masyarakatnya. Sejarah ulama di
> Indonesia adalah sejarah
> > populisme dan kebangsaan. Itu sebabnya para ulama
> menyebut asal-usulnya di
> > belakang namanya, seperti Syekh Yusuf
> al-Makassari, Syekh Arsyad al-Banjari
> > atau Syekh Nawawi an-Bantani.
> > > Sudah banyak tawaran solusi politik dan ekonomi
> dari luar yang
> > diperkenalkan kepada kita di era reformasi ini.
> Tapi ternyata tidak
> > mengindahkan suara bangsa kita, suara ulama, suara
> rakyat dan suara
> > tradisinya.
> > > Umat Islam Indonesia ingin mengembalikan lagi
> harkat dan martabat bangsa
> > dan rakyat Indonesia ini, hendak pula
> mengembalikan tradisi sebagai sebuah
> > kekuatan populis. Pesantren dan ulama menjadi
> motor penggeraknya.
> > > Kepemimpinan ulama dalam masyarakat berawal dari
> kepemimpinan pesantren.
> > Apabila pesantren dapat berkembang di bawah
> otoritas 
=== message truncated ===


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke