Saya juga agak aneh mengapa acaranya masih cukup lama teks pidatonya sudah dipublish. Oleh Baso lagi. Apakah Baso ingin mengatakan kalau yang membuat teks pidato Rais Am ini dia? he he... sekedar ikut usil.
Salam, RUmadi ________________________________ > To: [email protected] > From: [EMAIL PROTECTED] > Date: Tue, 15 Jan 2008 19:05:15 -0800 > Subject: Re: [kmnu2000] KHUTBAH TAW'IYYAH RAIS AM PBNU PADA HARLAH NU KE 82 > ,3 FEB 2008 > > > salam > > boleh saya bertanya? boleh ya... > > 1. Kenapa teks pidato ini nggegek mongso? semoga Baso bisa paham nggegek > mongso. apakah ini minta masukan? atau teks ini merupakan juga konsep yang > nanti bisa diubah? > > 2. saya yang awam b. Arab boleh juga bertanya kan? kenapa > ekstrem-fundamentalis diterjemahkan tatharruf tasyaddudi? Tentu juga saya > bertanya kenapa ekstrem-liberalis menjadi tatharruf-tasahuli > > maaf, kalau pertanyaan ini tidak penting dan oneng. Tapi saya butuh jawaban. > > terima kasih, > > hamz` > > > ahmad baso> wrote: > Alhamdulilahirabbil alamin > Washshalatu wassalamu ala sayyidina muhamamdin wa ala alihi wasahbihi ajma’in > Amma ba’d, > > Dengan ridha dan hidayah dari Allah SWT, hari ini adalah hari yang berbahagia > bagi warga Nahdliyyin. Hari ini kita merayakan Harlah Nahdlatul Ulama yang > ke-82. Dalam usianya tersebut, Nahdlatul Ulama telah melewati 3 generasi: > generasi Hadlratussyekh Kiai Hasyim Asyari, generasi kita dan generasi > anak-anak kita. Dan Harlah ini menjadi penting untuk kita rayakan, pertama, > untuk memastikan kelancaran pewarisan nilai-nilai dan kelangsungan perjuangan > Nahdlatul Ulama di antara ketiga generasi tersebut. > Yang kedua, berkaitan dengan faktor reformasi, yang mengubah kondisi > kenegaraan, tata sosial serta aspek-aspek kemasyarakatan kita secara > komprehensif. Persoalan ini harus disikapi secara arif, melalui pendekatan > dan ciri khas Nahdlatul Ulama, yakni pendekatan al-muhafazhah > ala-l-qadimi-sh-shalih wal akhdzu bil jadidi-l-ashlah. > Harlah Nahdlatul Ulama ke-82 ini mengingatkan kita bahwa reformasi pada satu > sisi membawa hal-hal yang demokratis, tapi juga pada sisi lainnya membawa > berbagai macam tantangan yang berat, yang harus dilalui dengan selamat. > Dewasa ini terjadi peralihan generasi atau regenerasi total dibanding > generasi masa lahirnya NU. Kita melihat, generasi muda sekarang merupakan > generasi yang “kosong”, yang kini menjadi rebutan berbagai keyakinan > ideologi, cara berpikir dan tata cara kehidupan. > Oleh karenanya kita perlu membangun Nahdlatul Ulama serta meng-NU-kan kembali > orang-orang NU dalam keutuhan akidah, syariat, akhlaq, dan manhaj. Untuk itu, > pewarisan metodologi perjuangan Wali Songo menjadi penting di tengah konteks > keindonesiaan dan pada lingkup internasional. > Ciri khas Ahlussunnah Waljamaah yang dibawa oleh para Wali Songo itu kemudian > diteruskan oleh para ulama Nahdlatul Ulama dalam gerakan Islam yang > Indonesiawi, melalui perjuangan keindonesiaan yang disinari oleh agama. > Lalu, apa arti meng-NU-kan orang NU? > Saya tegaskan, setiap orang NU haruslah dapat menjadi NU karena ajaran serta > metodologi perjuangannya. Dan bukan karena keturunan, pergaulan, atau > kepentingan. Orang NU haruslah juga dapat membedakan diri dengan > gerakan-gerakan tatharruf tasyaddudi (ekstrem-fundamentalis) maupun > tatharruf-tasahuli (ekstrem-liberalis), yang kedua-duanya bukanlah ciri khas > perjuangan Islam domestik nasionalis Indonesia. > Kelompok-kelompok tatharruf tasyaddudi ini pada umumnya mencoreng tasamuh > Islami. Demikian pula kelompok-kelompok tatharruf tasahuli yang mengancam > keteguhan akidah dan syariah. > Dan kini, di tengah masyarakat kita, masih subur tumbuh kemunafikan, > kefasikan, kezindikan, serta penyimpangan-penyimpangan dari ajaran Islam. > Seperti nabi palsu, jibril palsu, dan berbagai macam khurafat yang mengancam > kemurnian akidah. > Sesuai dengan cara dan pendekatan Wali Songo, hikmah kebijakan para ulama > dalam membawakan Islam di Indonesia adalah keseimbangan dan keserasian antara > fiqhul ahkam, fiqhu-d-dakwah dan fiqhus-siyasah. Fiqhul ahkam adalah > pendekatan hukum legal formal-syariat. Sedangkan fiqhu-d-dakwah adalah > pendekatan keteladanan, bimbingan dan penyuluhan serta hikmah advokasi atau > pembelaan terhadap nilai agama dari berbagai macam serangan dengan cara yang > lebih baik dari kualitas serangan itu. > Sementara fiqhus siyasah adalah pendekatan politik-substansial, yakni > bagaimana menuangkan nilai agama dalam kenyataan bangsa yang plural, serta > bentuk negara yang harus mengayomi semua golongan dan agama. > Nahdlatul Ulama tidak berada pada posisi politik kekuasaan praktis, tapi > berada pada politik keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan. Mengapa demikian? > Tradisi Nahdlatul Ulama adalah tradisi penghargaan terhadap ulama, tradisi > penghormatan terhadap orang-orang yang cakap dan berilmu pengetahuan tentang > agama dan masyarakatnya. Sejarah ulama di Indonesia adalah sejarah populisme > dan kebangsaan. Itu sebabnya para ulama menyebut asal-usulnya di belakang > namanya, seperti Syekh Yusuf al-Makassari, Syekh Arsyad al-Banjari atau Syekh > Nawawi an-Bantani. > Sudah banyak tawaran solusi politik dan ekonomi dari luar yang diperkenalkan > kepada kita di era reformasi ini. Tapi ternyata tidak mengindahkan suara > bangsa kita, suara ulama, suara rakyat dan suara tradisinya. > Umat Islam Indonesia ingin mengembalikan lagi harkat dan martabat bangsa dan > rakyat Indonesia ini, hendak pula mengembalikan tradisi sebagai sebuah > kekuatan populis. Pesantren dan ulama menjadi motor penggeraknya. > Kepemimpinan ulama dalam masyarakat berawal dari kepemimpinan pesantren. > Apabila pesantren dapat berkembang di bawah otoritas ulama, berarti > kepemimpinan ulama mendapatkan legitimasi dan pengakuan dari masyarakat. > Karena itu seorang ulama kharismatik menjadi penasehat dan rujukan masyarakat > dari berbagai lapisan. Pada saat masyarakat mengalami kekacauan dan gangguan, > para ulama-lah yang menjadi pegangan. > Pada tataran internasional, Nahdlatul Ulama juga berkiprah dengan mempunyai > forum internasional, yaitu al-Mu’tamaru duwali li-l- Ulama wal Mutsaqqafin > al-Islamiyyin/ICIS, International Conference of Islamic Scholars). Forum ini > dimaksudkan untuk mempromosikan manhaj serta tata cara kejuangan Nahdlatul > Ulama yang tawassuth dan i’tidal (moderatisme) ke seluruh dunia, serta > penggalangan ukhuwah islamiyah dengan seluruh ulama dari berbagai mazhab di > dunia, serta cendekiawan muslim se-dunia. Dan sama sekali bukan akan > mengadopsi sistem dan gerakan politik dari luar negeri, yang belum tentu > cocok dengan kondisi negara Indonesia berdasarkan wadah Republik dengan > filsafat dan aturan mainnya. > Dengan demikian penuangan ajaran Islam secara fiqhul ahkam ditujukan untuk > umat yang sudah siap melakukannnya (ummat ijabah), karena tujuan Nahdlatul > Ulama dalam Anggaran Dasarnya adalah melaksanakan syariat Islam dalam > masyarakat Indonesia. Sedangkan fiqhu-d-dakwah dan fiqhus siyasah ditujukan > untuk pengembangan Islam dalam masyarakat majemuk serta penuangan nilai-nilai > ajaran agama secara substansial inklusif terhadap negara, dan bukan > formal-eksklusif. > Program muktamar Nahdlatul Ulama ke 31 di Solo menugaskan PBNU untuk > menjam’iyyahkan jamaah NU. Sehingga diperlukan penataan kembali organisasi > dan peningkatan kerapiannya, serta membentuk sistem organisasi yang modern > dengan tetap mengusung tradisi-tradisi Nahdlatul Ulama. > Harga Nahdlatul Ulama dihitung pada tingkat pengabdian dan khidmatnya > terhadap umat dan masyarakat. Sehingga tidak ada jalan lain selain > meningkatkan kualitas pengabdian dan khidmat tersebut. > Maka, peningkatan pendidikan Ma’arif, penguatan kualitas pondok pesantren, > pengembangan proyek-proyek kesehatan dan kemanusiaan, haruslah menjadi titik > berat perjuangan Nahdlatul Ulama. Dalam hal ini Nahdlatul Ulama harus > mengakui masih banyak ketertinggalan dalam bidang pengabdian itu. > Sehubungan dengan adanya reformasi, dan tarik menarik kepentingan politik > yang luar biasa, baik skala nasional regional, maupun lokal, dalam wujud > pemilu dan pilkada, hendaknya warga NU tetap menjaga persatuan dan kesatuan > ukhuwah Nahdliyah. Tidak boleh terbawa arus dari kepentingan kepentingan > politik tersebut. Syukur kalau bisa mengambil istifadah dari padanya, tapi > paling tidak, jangan karena itu semua warga Nahdliyin dan para ulama NU > terpecah belah antara satu dengan yang lainnya. > Negeri kita telah sepuluh tahun dilanda bencana sosial sejak 1997. Akibatnya > adalah konflik berkepanjangan baik konflik yang berwatak agama, suku, politik > kepentingan kelompok, gangguan-gangguan separatisme, maupun subversi asing. > Itu semua telah membuat bangsa Indonesia menjadi kelelahan, dan kurang > produktif. > Sedangkan pada tiga tahun terakhir, dimulai dari 26 Desember 2004, Tanah Air > kita dilanda bencana alam yang tiada henti-hentinya. Mulai tsunami di Aceh, > di Banyuwangi, di Pangandaran, gempa di Nias, Bengkulu, di Yogyakarta, > kebakaran hutan di Kalimantan, lumpur di Sidoarjo, serta banjir bandang di > Jawa Timur dan Jawa Tengah, serta di DKI Jakarta, yang tiada henti-hentinya, > ikut menambah rasa kepiluan masyarakat Indonesia. > Menghadapi situasi seperti ini, hendaknya para ulama bertindak sebagai > penawar duka masyarakat, sebagai pengayom serta penyalur jerit tangis > masyarakat kepada penyelesaian yang sebaik-baiknya. Sangat tidak etis, kalau > para ulama dan pemimpin bangsa ini lebih sibuk dengan angan-angannya sendiri, > dengan kepentingan-kepentingan sendiri, yang terlepas dari derita masyarakat > sehari-hari. > Oleh karenanya, di dalam Harlah ini kami serukan agar seluruh ulama Nahdlatul > Ulama dan ulama Indonesia menampati kembali posisinya sebagai pengayom > masyarakat dan penawar keluh kesah penderitaan umat. > Agar bencana tidak lagi mendera bangsa ini, marilah kita melakukan empat hal > berikut: taqarrub ilallah, bertaubat, beramal shaleh, dan juga yang paling > penting bersikap ramah terhadap lingkungan dan tidak melakukan pengrusakan > lagi terhadap alam. > Untuk itu, pada kesempatan yang mulia ini, saya berpesan agar segenap > komponen bangsa ini bersatu padu untuk membangun kembali Tanah Air kita pasca > bencana. Pemerintah dituntut pula untuk segera meningkatkan kesejahteraan, > kemakmuran dan kebahagiaan masyarakat, serta memajukan kehidupan ekonomi > bangsa ini, khususnya warga NU. Bagian terbesar bangsa adalah warga Nahdlatul > Ulama. Dan ukuran berhasil tidaknya pembangunan kesejahteraan yang dilakukan > pemerintah terhadap masyarakat bangsa ini tergantung dari tercapainya > kemakmuran tersebut bagi segenap warga Nahdlatul Ulama. > > Demikian pesan dan taw’iyah ini saya sampaikan. Semoga bermanfaat bagi > kemaslahatan warga Nahdliyin dan juga bagi kemakmuran dan kebesaran bangsa > Indonesia. > > Wallahul muwaffiq ila aqwami thariq. > > Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. > > __________________________________________________________ > Never miss a thing. Make Yahoo your home page. > http://www.yahoo.com/r/hs > > [Non-text portions of this message have been removed] > > __________________________________________________________ > http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan > KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. > ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ > Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus > meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: > [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > --------------------------------- > Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > _________________________________________________________________ Edit your photos like a pro with Photo Gallery. http://www.get.live.com/wl/all ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
