Alhamdulilahirabbil alamin
Washshalatu wassalamu ala sayyidina muhamamdin wa ala alihi wasahbihi ajmain
Amma bad,
Dengan ridha dan hidayah dari Allah SWT, hari ini adalah hari yang berbahagia
bagi warga Nahdliyyin. Hari ini kita merayakan Harlah Nahdlatul Ulama yang
ke-82. Dalam usianya tersebut, Nahdlatul Ulama telah melewati 3 generasi:
generasi Hadlratussyekh Kiai Hasyim Asyari, generasi kita dan generasi
anak-anak kita. Dan Harlah ini menjadi penting untuk kita rayakan, pertama,
untuk memastikan kelancaran pewarisan nilai-nilai dan kelangsungan perjuangan
Nahdlatul Ulama di antara ketiga generasi tersebut.
Yang kedua, berkaitan dengan faktor reformasi, yang mengubah kondisi
kenegaraan, tata sosial serta aspek-aspek kemasyarakatan kita secara
komprehensif. Persoalan ini harus disikapi secara arif, melalui pendekatan dan
ciri khas Nahdlatul Ulama, yakni pendekatan al-muhafazhah
ala-l-qadimi-sh-shalih wal akhdzu bil jadidi-l-ashlah.
Harlah Nahdlatul Ulama ke-82 ini mengingatkan kita bahwa reformasi pada satu
sisi membawa hal-hal yang demokratis, tapi juga pada sisi lainnya membawa
berbagai macam tantangan yang berat, yang harus dilalui dengan selamat.
Dewasa ini terjadi peralihan generasi atau regenerasi total dibanding generasi
masa lahirnya NU. Kita melihat, generasi muda sekarang merupakan generasi yang
kosong, yang kini menjadi rebutan berbagai keyakinan ideologi, cara berpikir
dan tata cara kehidupan.
Oleh karenanya kita perlu membangun Nahdlatul Ulama serta meng-NU-kan kembali
orang-orang NU dalam keutuhan akidah, syariat, akhlaq, dan manhaj. Untuk itu,
pewarisan metodologi perjuangan Wali Songo menjadi penting di tengah konteks
keindonesiaan dan pada lingkup internasional.
Ciri khas Ahlussunnah Waljamaah yang dibawa oleh para Wali Songo itu kemudian
diteruskan oleh para ulama Nahdlatul Ulama dalam gerakan Islam yang
Indonesiawi, melalui perjuangan keindonesiaan yang disinari oleh agama.
Lalu, apa arti meng-NU-kan orang NU?
Saya tegaskan, setiap orang NU haruslah dapat menjadi NU karena ajaran serta
metodologi perjuangannya. Dan bukan karena keturunan, pergaulan, atau
kepentingan. Orang NU haruslah juga dapat membedakan diri dengan
gerakan-gerakan tatharruf tasyaddudi (ekstrem-fundamentalis) maupun
tatharruf-tasahuli (ekstrem-liberalis), yang kedua-duanya bukanlah ciri khas
perjuangan Islam domestik nasionalis Indonesia.
Kelompok-kelompok tatharruf tasyaddudi ini pada umumnya mencoreng tasamuh
Islami. Demikian pula kelompok-kelompok tatharruf tasahuli yang mengancam
keteguhan akidah dan syariah.
Dan kini, di tengah masyarakat kita, masih subur tumbuh kemunafikan, kefasikan,
kezindikan, serta penyimpangan-penyimpangan dari ajaran Islam. Seperti nabi
palsu, jibril palsu, dan berbagai macam khurafat yang mengancam kemurnian
akidah.
Sesuai dengan cara dan pendekatan Wali Songo, hikmah kebijakan para ulama dalam
membawakan Islam di Indonesia adalah keseimbangan dan keserasian antara fiqhul
ahkam, fiqhu-d-dakwah dan fiqhus-siyasah. Fiqhul ahkam adalah pendekatan hukum
legal formal-syariat. Sedangkan fiqhu-d-dakwah adalah pendekatan keteladanan,
bimbingan dan penyuluhan serta hikmah advokasi atau pembelaan terhadap nilai
agama dari berbagai macam serangan dengan cara yang lebih baik dari kualitas
serangan itu.
Sementara fiqhus siyasah adalah pendekatan politik-substansial, yakni bagaimana
menuangkan nilai agama dalam kenyataan bangsa yang plural, serta bentuk negara
yang harus mengayomi semua golongan dan agama.
Nahdlatul Ulama tidak berada pada posisi politik kekuasaan praktis, tapi berada
pada politik keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan. Mengapa demikian?
Tradisi Nahdlatul Ulama adalah tradisi penghargaan terhadap ulama, tradisi
penghormatan terhadap orang-orang yang cakap dan berilmu pengetahuan tentang
agama dan masyarakatnya. Sejarah ulama di Indonesia adalah sejarah populisme
dan kebangsaan. Itu sebabnya para ulama menyebut asal-usulnya di belakang
namanya, seperti Syekh Yusuf al-Makassari, Syekh Arsyad al-Banjari atau Syekh
Nawawi an-Bantani.
Sudah banyak tawaran solusi politik dan ekonomi dari luar yang
diperkenalkan kepada kita di era reformasi ini. Tapi ternyata tidak
mengindahkan suara bangsa kita, suara ulama, suara rakyat dan suara tradisinya.
Umat Islam Indonesia ingin mengembalikan lagi harkat dan martabat
bangsa dan rakyat Indonesia ini, hendak pula mengembalikan tradisi sebagai
sebuah kekuatan populis. Pesantren dan ulama menjadi motor penggeraknya.
Kepemimpinan ulama dalam masyarakat berawal dari kepemimpinan
pesantren. Apabila pesantren dapat berkembang di bawah otoritas ulama, berarti
kepemimpinan ulama mendapatkan legitimasi dan pengakuan dari masyarakat. Karena
itu seorang ulama kharismatik menjadi penasehat dan rujukan masyarakat dari
berbagai lapisan. Pada saat masyarakat mengalami kekacauan dan gangguan, para
ulama-lah yang menjadi pegangan.
Pada tataran internasional, Nahdlatul Ulama juga berkiprah dengan mempunyai
forum internasional, yaitu al-Mutamaru duwali li-l- Ulama wal Mutsaqqafin
al-Islamiyyin/ICIS, International Conference of Islamic Scholars). Forum ini
dimaksudkan untuk mempromosikan manhaj serta tata cara kejuangan Nahdlatul
Ulama yang tawassuth dan itidal (moderatisme) ke seluruh dunia, serta
penggalangan ukhuwah islamiyah dengan seluruh ulama dari berbagai mazhab di
dunia, serta cendekiawan muslim se-dunia. Dan sama sekali bukan akan mengadopsi
sistem dan gerakan politik dari luar negeri, yang belum tentu cocok dengan
kondisi negara Indonesia berdasarkan wadah Republik dengan filsafat dan aturan
mainnya.
Dengan demikian penuangan ajaran Islam secara fiqhul ahkam ditujukan untuk umat
yang sudah siap melakukannnya (ummat ijabah), karena tujuan Nahdlatul Ulama
dalam Anggaran Dasarnya adalah melaksanakan syariat Islam dalam masyarakat
Indonesia. Sedangkan fiqhu-d-dakwah dan fiqhus siyasah ditujukan untuk
pengembangan Islam dalam masyarakat majemuk serta penuangan nilai-nilai ajaran
agama secara substansial inklusif terhadap negara, dan bukan formal-eksklusif.
Program muktamar Nahdlatul Ulama ke 31 di Solo menugaskan PBNU untuk
menjamiyyahkan jamaah NU. Sehingga diperlukan penataan kembali organisasi dan
peningkatan kerapiannya, serta membentuk sistem organisasi yang modern dengan
tetap mengusung tradisi-tradisi Nahdlatul Ulama.
Harga Nahdlatul Ulama dihitung pada tingkat pengabdian dan khidmatnya terhadap
umat dan masyarakat. Sehingga tidak ada jalan lain selain meningkatkan kualitas
pengabdian dan khidmat tersebut.
Maka, peningkatan pendidikan Maarif, penguatan kualitas pondok pesantren,
pengembangan proyek-proyek kesehatan dan kemanusiaan, haruslah menjadi titik
berat perjuangan Nahdlatul Ulama. Dalam hal ini Nahdlatul Ulama harus mengakui
masih banyak ketertinggalan dalam bidang pengabdian itu.
Sehubungan dengan adanya reformasi, dan tarik menarik kepentingan politik yang
luar biasa, baik skala nasional regional, maupun lokal, dalam wujud pemilu dan
pilkada, hendaknya warga NU tetap menjaga persatuan dan kesatuan ukhuwah
Nahdliyah. Tidak boleh terbawa arus dari kepentingan kepentingan politik
tersebut. Syukur kalau bisa mengambil istifadah dari padanya, tapi paling
tidak, jangan karena itu semua warga Nahdliyin dan para ulama NU terpecah belah
antara satu dengan yang lainnya.
Negeri kita telah sepuluh tahun dilanda bencana sosial sejak 1997. Akibatnya
adalah konflik berkepanjangan baik konflik yang berwatak agama, suku, politik
kepentingan kelompok, gangguan-gangguan separatisme, maupun subversi asing. Itu
semua telah membuat bangsa Indonesia menjadi kelelahan, dan kurang produktif.
Sedangkan pada tiga tahun terakhir, dimulai dari 26 Desember 2004, Tanah Air
kita dilanda bencana alam yang tiada henti-hentinya. Mulai tsunami di Aceh, di
Banyuwangi, di Pangandaran, gempa di Nias, Bengkulu, di Yogyakarta, kebakaran
hutan di Kalimantan, lumpur di Sidoarjo, serta banjir bandang di Jawa Timur dan
Jawa Tengah, serta di DKI Jakarta, yang tiada henti-hentinya, ikut menambah
rasa kepiluan masyarakat Indonesia.
Menghadapi situasi seperti ini, hendaknya para ulama bertindak sebagai penawar
duka masyarakat, sebagai pengayom serta penyalur jerit tangis masyarakat kepada
penyelesaian yang sebaik-baiknya. Sangat tidak etis, kalau para ulama dan
pemimpin bangsa ini lebih sibuk dengan angan-angannya sendiri, dengan
kepentingan-kepentingan sendiri, yang terlepas dari derita masyarakat
sehari-hari.
Oleh karenanya, di dalam Harlah ini kami serukan agar seluruh ulama Nahdlatul
Ulama dan ulama Indonesia menampati kembali posisinya sebagai pengayom
masyarakat dan penawar keluh kesah penderitaan umat.
Agar bencana tidak lagi mendera bangsa ini, marilah kita melakukan empat hal
berikut: taqarrub ilallah, bertaubat, beramal shaleh, dan juga yang paling
penting bersikap ramah terhadap lingkungan dan tidak melakukan pengrusakan lagi
terhadap alam.
Untuk itu, pada kesempatan yang mulia ini, saya berpesan agar segenap komponen
bangsa ini bersatu padu untuk membangun kembali Tanah Air kita pasca bencana.
Pemerintah dituntut pula untuk segera meningkatkan kesejahteraan, kemakmuran
dan kebahagiaan masyarakat, serta memajukan kehidupan ekonomi bangsa ini,
khususnya warga NU. Bagian terbesar bangsa adalah warga Nahdlatul Ulama. Dan
ukuran berhasil tidaknya pembangunan kesejahteraan yang dilakukan pemerintah
terhadap masyarakat bangsa ini tergantung dari tercapainya kemakmuran tersebut
bagi segenap warga Nahdlatul Ulama.
Demikian pesan dan tawiyah ini saya sampaikan. Semoga bermanfaat bagi
kemaslahatan warga Nahdliyin dan juga bagi kemakmuran dan kebesaran bangsa
Indonesia.
Wallahul muwaffiq ila aqwami thariq.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
http://www.yahoo.com/r/hs
[Non-text portions of this message have been removed]
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/