Bung Anam,
Tahu gak, dari kemarin Hamzah itu bertanya-tanya: apakah ada tradisi baru
dalam NU yang
menggunakan istilah Taw'iyah? Hingga tadi pagi ia kembali sms saya
menyangkut hal ini. Menurutnya, bukankah dalam kamus taw'iyah berarti
tanwir atau bahkan juga tahdzir dan tanbih?  Saya hanya menjawab, tunggu aja
dari yang berhak untuk mengklarifikasinya, bisa jadi salah ketik dari semula
TAUSHIYAH menjadi TAW'IYAH. Atau memang TAW'IYAH yang digunakan? Saya
tambahkan kepadanya, bukankah dalam NU, terlebih di kalangan Syuriah,
meng-arabkan istilah sangat produktif belakangan ini. Termasuk istilah
tatharruf tasyaddudi dan tatharruf tasahuli. Belangan, istilah Arab memang
menjadi 'tren' di kalangan NU. Mungkin itu ditujukan untuk mendekatkan
dengan tradisi pesantren. Jika ya, semestinya semua istilah diarabkan saja,
persis ketika khutbah syuriah di masa-masa awal NU. Jangan hanya
sepotong-sepotong. Tanggung. Sekalian wartawan  bingung cari tukang
terjemah.
Memang, istilah arab yang digunakan adalah istilah yang akrab digunakan di
pesantren, semisal tasyaddudi dan tasahuli. Tapi konotasi yang dibuat dalam
istilah mutakhir ini, khususnya dalam khutbah ini, sangat tendensius. Saya
yakin, istilah Arab yang ada di khutbah ini jika tidak dilengkapi penjelasan
dalam kurung sangat mungkin tidak dipahami banyak orang. Itu karena konotasi
istilah itu sesungguhnya kurang menyatu dengan tradisi pesantren, meskipun
istilah yang digunakan sangat akrab dengan tradisi pesantren.itu yang
pertama.
Kedua, kalau memang betul Taw'iyah, mungkin ini tradisi pertama (setahu
saya) yang digunakan rais 'Aam dalam setiap khutbahnya.

Oia Bung Anam, saya setuju, sejatinya khutbah ini tidak meluncur sebelum
waktunya. Atau memang betul itu dalam rangka 'menampung' masukan? Bagi saya
itu tidak mungkin!!!!!


AFS


2008/1/17 Kh Anam <[EMAIL PROTECTED]>:

>   Mas Rumadi,
> Setahu saya itu bukan dari mas baso karena di situ tidak ada istilah
> "poskolonial" atau "NU Studies"nya. Istilah fikih dakwah, fikih siyasah,
> dan
> fikih ahkam (:model pembagian yang tidak mantiqi), apalagi soal ICIS itu
> malah lebih sering saya dengar dari Pak Hasyim. Lalu istilah tatharruf itu
> lebih sering diucapkan Kiai Ma'ruf Amin.
>
> Namun apapun yang terjadi dengan Mbah Sahal, menurut saya, pidatonya tidak
> perlu dipublikasikan sebelum hari H, nanti tidak ada supres kan!
>
> Selamat Harlah Ke-82 NU. Makin tua makin menjadi(-jadi)...!
>
>
> On 1/16/08, Rumadi Rumadi <[EMAIL PROTECTED] <arumadi%40hotmail.com>>
> wrote:
> >
> >
> > Saya juga agak aneh mengapa acaranya masih cukup lama teks pidatonya
> sudah
> > dipublish. Oleh Baso lagi. Apakah Baso ingin mengatakan kalau yang
> membuat
> > teks pidato Rais Am ini dia? he he... sekedar ikut usil.
> >
> > Salam,
> >
> > RUmadi
> > ________________________________
> > > To: [email protected] <kmnu2000%40yahoogroups.com>
> > > From: [EMAIL PROTECTED] <sahaljr%40yahoo.com>
> > > Date: Tue, 15 Jan 2008 19:05:15 -0800
> > > Subject: Re: [kmnu2000] KHUTBAH TAW'IYYAH RAIS AM PBNU PADA HARLAH NU
> KE
> > 82 ,3 FEB 2008
> > >
> > >
> > > salam
> > >
> > > boleh saya bertanya? boleh ya...
> > >
> > > 1. Kenapa teks pidato ini nggegek mongso? semoga Baso bisa paham
> nggegek
> > mongso. apakah ini minta masukan? atau teks ini merupakan juga konsep
> yang
> > nanti bisa diubah?
> > >
> > > 2. saya yang awam b. Arab boleh juga bertanya kan? kenapa
> > ekstrem-fundamentalis diterjemahkan tatharruf tasyaddudi? Tentu juga
> saya
> > bertanya kenapa ekstrem-liberalis menjadi tatharruf-tasahuli
> > >
> > > maaf, kalau pertanyaan ini tidak penting dan oneng. Tapi saya butuh
> > jawaban.
> > >
> > > terima kasih,
> > >
> > > hamz`
> > >
> > >
> > > ahmad baso> wrote:
> > > Alhamdulilahirabbil alamin
> > > Washshalatu wassalamu ala sayyidina muhamamdin wa ala alihi wasahbihi
> > ajma'in
> > > Amma ba'd,
> > >
> > > Dengan ridha dan hidayah dari Allah SWT, hari ini adalah hari yang
> > berbahagia bagi warga Nahdliyyin. Hari ini kita merayakan Harlah
> Nahdlatul
> > Ulama yang ke-82. Dalam usianya tersebut, Nahdlatul Ulama telah melewati
> 3
> > generasi: generasi Hadlratussyekh Kiai Hasyim Asyari, generasi kita dan
> > generasi anak-anak kita. Dan Harlah ini menjadi penting untuk kita
> rayakan,
> > pertama, untuk memastikan kelancaran pewarisan nilai-nilai dan
> kelangsungan
> > perjuangan Nahdlatul Ulama di antara ketiga generasi tersebut.
> > > Yang kedua, berkaitan dengan faktor reformasi, yang mengubah kondisi
> > kenegaraan, tata sosial serta aspek-aspek kemasyarakatan kita secara
> > komprehensif. Persoalan ini harus disikapi secara arif, melalui
> pendekatan
> > dan ciri khas Nahdlatul Ulama, yakni pendekatan al-muhafazhah
> > ala-l-qadimi-sh-shalih wal akhdzu bil jadidi-l-ashlah.
> > > Harlah Nahdlatul Ulama ke-82 ini mengingatkan kita bahwa reformasi
> pada
> > satu sisi membawa hal-hal yang demokratis, tapi juga pada sisi lainnya
> > membawa berbagai macam tantangan yang berat, yang harus dilalui dengan
> > selamat.
> > > Dewasa ini terjadi peralihan generasi atau regenerasi total dibanding
> > generasi masa lahirnya NU. Kita melihat, generasi muda sekarang
> merupakan
> > generasi yang "kosong", yang kini menjadi rebutan berbagai keyakinan
> > ideologi, cara berpikir dan tata cara kehidupan.
> > > Oleh karenanya kita perlu membangun Nahdlatul Ulama serta meng-NU-kan
> > kembali orang-orang NU dalam keutuhan akidah, syariat, akhlaq, dan
> manhaj.
> > Untuk itu, pewarisan metodologi perjuangan Wali Songo menjadi penting di
> > tengah konteks keindonesiaan dan pada lingkup internasional.
> > > Ciri khas Ahlussunnah Waljamaah yang dibawa oleh para Wali Songo itu
> > kemudian diteruskan oleh para ulama Nahdlatul Ulama dalam gerakan Islam
> yang
> > Indonesiawi, melalui perjuangan keindonesiaan yang disinari oleh agama.
> > > Lalu, apa arti meng-NU-kan orang NU?
> > > Saya tegaskan, setiap orang NU haruslah dapat menjadi NU karena ajaran
> > serta metodologi perjuangannya. Dan bukan karena keturunan, pergaulan,
> atau
> > kepentingan. Orang NU haruslah juga dapat membedakan diri dengan
> > gerakan-gerakan tatharruf tasyaddudi (ekstrem-fundamentalis) maupun
> > tatharruf-tasahuli (ekstrem-liberalis), yang kedua-duanya bukanlah ciri
> khas
> > perjuangan Islam domestik nasionalis Indonesia.
> > > Kelompok-kelompok tatharruf tasyaddudi ini pada umumnya mencoreng
> > tasamuh Islami. Demikian pula kelompok-kelompok tatharruf tasahuli yang
> > mengancam keteguhan akidah dan syariah.
> > > Dan kini, di tengah masyarakat kita, masih subur tumbuh kemunafikan,
> > kefasikan, kezindikan, serta penyimpangan-penyimpangan dari ajaran
> Islam.
> > Seperti nabi palsu, jibril palsu, dan berbagai macam khurafat yang
> mengancam
> > kemurnian akidah.
> > > Sesuai dengan cara dan pendekatan Wali Songo, hikmah kebijakan para
> > ulama dalam membawakan Islam di Indonesia adalah keseimbangan dan
> keserasian
> > antara fiqhul ahkam, fiqhu-d-dakwah dan fiqhus-siyasah. Fiqhul ahkam
> adalah
> > pendekatan hukum legal formal-syariat. Sedangkan fiqhu-d-dakwah adalah
> > pendekatan keteladanan, bimbingan dan penyuluhan serta hikmah advokasi
> atau
> > pembelaan terhadap nilai agama dari berbagai macam serangan dengan cara
> yang
> > lebih baik dari kualitas serangan itu.
> > > Sementara fiqhus siyasah adalah pendekatan politik-substansial, yakni
> > bagaimana menuangkan nilai agama dalam kenyataan bangsa yang plural,
> serta
> > bentuk negara yang harus mengayomi semua golongan dan agama.
> > > Nahdlatul Ulama tidak berada pada posisi politik kekuasaan praktis,
> tapi
> > berada pada politik keumatan, kebangsaan dan kemanusiaan. Mengapa
> demikian?
> > > Tradisi Nahdlatul Ulama adalah tradisi penghargaan terhadap ulama,
> > tradisi penghormatan terhadap orang-orang yang cakap dan berilmu
> pengetahuan
> > tentang agama dan masyarakatnya. Sejarah ulama di Indonesia adalah
> sejarah
> > populisme dan kebangsaan. Itu sebabnya para ulama menyebut asal-usulnya
> di
> > belakang namanya, seperti Syekh Yusuf al-Makassari, Syekh Arsyad
> al-Banjari
> > atau Syekh Nawawi an-Bantani.
> > > Sudah banyak tawaran solusi politik dan ekonomi dari luar yang
> > diperkenalkan kepada kita di era reformasi ini. Tapi ternyata tidak
> > mengindahkan suara bangsa kita, suara ulama, suara rakyat dan suara
> > tradisinya.
> > > Umat Islam Indonesia ingin mengembalikan lagi harkat dan martabat
> bangsa
> > dan rakyat Indonesia ini, hendak pula mengembalikan tradisi sebagai
> sebuah
> > kekuatan populis. Pesantren dan ulama menjadi motor penggeraknya.
> > > Kepemimpinan ulama dalam masyarakat berawal dari kepemimpinan
> pesantren.
> > Apabila pesantren dapat berkembang di bawah otoritas ulama, berarti
> > kepemimpinan ulama mendapatkan legitimasi dan pengakuan dari masyarakat.
> > Karena itu seorang ulama kharismatik menjadi penasehat dan rujukan
> > masyarakat dari berbagai lapisan. Pada saat masyarakat mengalami
> kekacauan
> > dan gangguan, para ulama-lah yang menjadi pegangan.
> > > Pada tataran internasional, Nahdlatul Ulama juga berkiprah dengan
> > mempunyai forum internasional, yaitu al-Mu'tamaru duwali li-l- Ulama wal
> > Mutsaqqafin al-Islamiyyin/ICIS, International Conference of Islamic
> > Scholars). Forum ini dimaksudkan untuk mempromosikan manhaj serta tata
> cara
> > kejuangan Nahdlatul Ulama yang tawassuth dan i'tidal (moderatisme) ke
> > seluruh dunia, serta penggalangan ukhuwah islamiyah dengan seluruh ulama
> > dari berbagai mazhab di dunia, serta cendekiawan muslim se-dunia. Dan
> sama
> > sekali bukan akan mengadopsi sistem dan gerakan politik dari luar
> negeri,
> > yang belum tentu cocok dengan kondisi negara Indonesia berdasarkan wadah
> > Republik dengan filsafat dan aturan mainnya.
> > > Dengan demikian penuangan ajaran Islam secara fiqhul ahkam ditujukan
> > untuk umat yang sudah siap melakukannnya (ummat ijabah), karena tujuan
> > Nahdlatul Ulama dalam Anggaran Dasarnya adalah melaksanakan syariat
> Islam
> > dalam masyarakat Indonesia. Sedangkan fiqhu-d-dakwah dan fiqhus siyasah
> > ditujukan untuk pengembangan Islam dalam masyarakat majemuk serta
> penuangan
> > nilai-nilai ajaran agama secara substansial inklusif terhadap negara,
> dan
> > bukan formal-eksklusif.
> > > Program muktamar Nahdlatul Ulama ke 31 di Solo menugaskan PBNU untuk
> > menjam'iyyahkan jamaah NU. Sehingga diperlukan penataan kembali
> organisasi
> > dan peningkatan kerapiannya, serta membentuk sistem organisasi yang
> modern
> > dengan tetap mengusung tradisi-tradisi Nahdlatul Ulama.
> > > Harga Nahdlatul Ulama dihitung pada tingkat pengabdian dan khidmatnya
> > terhadap umat dan masyarakat. Sehingga tidak ada jalan lain selain
> > meningkatkan kualitas pengabdian dan khidmat tersebut.
> > > Maka, peningkatan pendidikan Ma'arif, penguatan kualitas pondok
> > pesantren, pengembangan proyek-proyek kesehatan dan kemanusiaan,
> haruslah
> > menjadi titik berat perjuangan Nahdlatul Ulama. Dalam hal ini Nahdlatul
> > Ulama harus mengakui masih banyak ketertinggalan dalam bidang pengabdian
> > itu.
> > > Sehubungan dengan adanya reformasi, dan tarik menarik kepentingan
> > politik yang luar biasa, baik skala nasional regional, maupun lokal,
> dalam
> > wujud pemilu dan pilkada, hendaknya warga NU tetap menjaga persatuan dan
> > kesatuan ukhuwah Nahdliyah. Tidak boleh terbawa arus dari kepentingan
> > kepentingan politik tersebut. Syukur kalau bisa mengambil istifadah dari
> > padanya, tapi paling tidak, jangan karena itu semua warga Nahdliyin dan
> para
> > ulama NU terpecah belah antara satu dengan yang lainnya.
> > > Negeri kita telah sepuluh tahun dilanda bencana sosial sejak 1997.
> > Akibatnya adalah konflik berkepanjangan baik konflik yang berwatak
> agama,
> > suku, politik kepentingan kelompok, gangguan-gangguan separatisme,
> maupun
> > subversi asing. Itu semua telah membuat bangsa Indonesia menjadi
> kelelahan,
> > dan kurang produktif.
> > > Sedangkan pada tiga tahun terakhir, dimulai dari 26 Desember 2004,
> Tanah
> > Air kita dilanda bencana alam yang tiada henti-hentinya. Mulai tsunami
> di
> > Aceh, di Banyuwangi, di Pangandaran, gempa di Nias, Bengkulu, di
> Yogyakarta,
> > kebakaran hutan di Kalimantan, lumpur di Sidoarjo, serta banjir bandang
> di
> > Jawa Timur dan Jawa Tengah, serta di DKI Jakarta, yang tiada
> henti-hentinya,
> > ikut menambah rasa kepiluan masyarakat Indonesia.
> > > Menghadapi situasi seperti ini, hendaknya para ulama bertindak sebagai
> > penawar duka masyarakat, sebagai pengayom serta penyalur jerit tangis
> > masyarakat kepada penyelesaian yang sebaik-baiknya. Sangat tidak etis,
> kalau
> > para ulama dan pemimpin bangsa ini lebih sibuk dengan angan-angannya
> > sendiri, dengan kepentingan-kepentingan sendiri, yang terlepas dari
> derita
> > masyarakat sehari-hari.
> > > Oleh karenanya, di dalam Harlah ini kami serukan agar seluruh ulama
> > Nahdlatul Ulama dan ulama Indonesia menampati kembali posisinya sebagai
> > pengayom masyarakat dan penawar keluh kesah penderitaan umat.
> > > Agar bencana tidak lagi mendera bangsa ini, marilah kita melakukan
> empat
> > hal berikut: taqarrub ilallah, bertaubat, beramal shaleh, dan juga yang
> > paling penting bersikap ramah terhadap lingkungan dan tidak melakukan
> > pengrusakan lagi terhadap alam.
> > > Untuk itu, pada kesempatan yang mulia ini, saya berpesan agar segenap
> > komponen bangsa ini bersatu padu untuk membangun kembali Tanah Air kita
> > pasca bencana. Pemerintah dituntut pula untuk segera meningkatkan
> > kesejahteraan, kemakmuran dan kebahagiaan masyarakat, serta memajukan
> > kehidupan ekonomi bangsa ini, khususnya warga NU. Bagian terbesar bangsa
> > adalah warga Nahdlatul Ulama. Dan ukuran berhasil tidaknya pembangunan
> > kesejahteraan yang dilakukan pemerintah terhadap masyarakat bangsa ini
> > tergantung dari tercapainya kemakmuran tersebut bagi segenap warga
> Nahdlatul
> > Ulama.
> > >
> > > Demikian pesan dan taw'iyah ini saya sampaikan. Semoga bermanfaat bagi
> > kemaslahatan warga Nahdliyin dan juga bagi kemakmuran dan kebesaran
> bangsa
> > Indonesia.
> > >
> > > Wallahul muwaffiq ila aqwami thariq.
> > >
> > > Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
> > >
> > > __________________________________________________________
> > > Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
> > > http://www.yahoo.com/r/hs
> > >
> > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > >
> > > __________________________________________________________
> > > http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU
> Mesir
> > dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
> > > ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
> > > Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal
> Anda
> > harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
> > > [EMAIL PROTECTED]<kmnu2000-unsubscribe%40yahoogroups.com>
> > >
> > > Yahoo! Groups Links
> > >
> > > ---------------------------------
> > > Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try
> > it now.
> > >
> > > [Non-text portions of this message have been removed]
> > >
> > >
> > >
> >
> > __________________________________________________________
> > Edit your photos like a pro with Photo Gallery.
> > http://www.get.live.com/wl/all
> >
> > __________________________________________________________
> > http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir
> > dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
> > ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
> > Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda
> > harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
> > [EMAIL PROTECTED]<kmnu2000-unsubscribe%40yahoogroups.com>
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>  
>



-- 
A. Fawaid Sjadzili
http://fawaidku.blogspot.com


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke