Nuwun sewu, nimbrung dikit, Barangkali, Kyai Ihsan Jampes penulis terakhir yang mencapai reputasi internasional, setidaknya hingga kini. Hebatnya lagi, dia tidak pernah lama di Mekkah, kecuali ngaji musiman beberapa bulan dan beberapa kali(lihat tulisan Nurhakim, di Studia Islamika, jika tdk keliru). Dia generasi yang agak belakangan, karena wafat sekitar tahun 50-an (lahir 1901). Sebelum generasi dia, tampil ulama2 semisal Nawawi Banten dan Mahfuz Termas yang karyanya mendunia. Sebenarnya, masih banyak lagi ulama pesantren (kyai) di penghujung abad 19 yang karya-karyanya termuat dalam tarajim atau biografi ulama. Misalnya: Syaikh Mukhtar Utarid Bogor, K. Ahmad Nahrawi Banyumas (penulis Tadrīb al-ṣubyān li-baʿḍ furūʿ dīn Allāh al-Mannān),Syaikh Abdul Hamid Kudus (karyanya belasan dalam bahasa Arab), Abū Bakr b. ʿAbd al-Qudūs al-Ṭūbānī (Tuban, penulis qamus Arab-Jawa-Melayu), Muḥammad b. Muḥammad Ilyās al-Ǧāwī al-Qandalī (Kendal, penulis al-Salsal al-mudḵil fī ʿilm al-ṣarf), dan lain2. Nama2 ini mungkin tidak sepopuler Nawawi. Tapi mereka telah membuktikan kepengarangannya di kancah internasional. Karya mereka sekarang ini mungkin sulit ditemukan di Indonesia. Saya menemukannya di perpus Leiden, beberapa diantaranya tertanda dan dihadiahkan ke Al-Allamah al-Adib al-Alma'i al-Duktur Snouck Hurgronje bi Layden.
salam SD --- In [email protected], "Mohamad Abdun Nasir" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kawan Nasrul, > > Kitab Syekh Ihsan Jampes itu memang terkenal. Ada karya lain juga > terbit menyusul, saya lupa namanya. Ciri-ciri utama karya Kyai Ihsan > adalah kental dengan warna fiqh tasawufnya. Jadi menyandingkan aspek > exoteric fiqh yang formalisitk dengan unsur esoteris fiqh yang sangat > kaya dengan makna dan symbol, dimana untuk point belakang ini tidak > banyak diekplorasi dalam kebanyakan kitab-kitab fikih. Inilah saya > kira nilai lebih karya-karya KH Ihsan. Saya tidak tahu persis apakah > tradisi menulis Kyai Ihsan menurun kepada generasi sesudahnya. > Sekarang, Kyai sepuh atu generasi kedua setelah Kyai Ihsan di PP > Jampes Kediri sudah tidak ada, setelah KH Abdul Malik [Gus Malik] > meninggal dunia sekitar awal 2007 lalu. > > Nasir > > > --- In [email protected], Nasrul Afandi <gusgaul@> wrote: > > > > 'Id milad SAW. > > > > Beberapa waktu lalu, ketika saya mau mengikuti diskusi tasawwuf, > di perpustakan campusku, saya menemukan 2 jilid buku ''Sirajuttalibin" > tertulis penulisnya dalah syeikh Ikhsan al-Jampesi al-Kadiri, sebagai > sarah dari "Minhajul Abidin'' karya al-Ghozaly. > > > > Tampaknya yang beredar di Maroko itu cetakan lama,hanya tertulis > mathba'ah Qohiroh(tanpa tahun) lagi. > > > > Ya, karena saya pernah lihat, kalau yang cetakan baru (sebuah > penerbit di surabaya) itu cukup lebih bagus. > > > > > > Ketika saya bercerita kepada kawan-kawan dan beberapa dosen(bukan > orang Indonesia) atas buku tersebut, mereka seakan-akan tidak > percaya(bahwa) itu karya orang Indonesia; dan memang identitas > penulisnya gak ditulis al-Indonesi(umpamanya). Tapi hanya al-Jampasy > al-Kadiri. > > > > Masih adakah generasi ilmiah Syeikh ikhsan Jampes? > > > > > > > > Nasrul > > Pemuda NU 27 tahun, Mantan pembalap liar(Yamaha/Toyota) di jalur > Cirebon -Indramayu, sering keluar masuk rumah sakit karena kecelakaan > kendaraan(tapi wajahnya tetap ganteng) Kini sedang mengaji di Maroko. > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > --------------------------------- > > Never miss a thing. Make Yahoo your homepage. > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > >
