Sekedar berbagi berita, barangkali(masih) ada rakyat yang tertarik dengan "bungkusan promosi" parpol.
Nasrul (Rakyat Indonesia, selalu golput setiap pemilu/karena semua parpol cuman promosinya saj yang bagus) http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=330173&kat_id=3 Senin, 14 April 2008 Parpol Islam Hadapi Tantangan Beda pengaruhnya jika kasus serupa menimpa Golkar dan Demokrat. JAKARTA -- Lampu kuning bagi kalangan parpol Islam untuk menjaga kelakuan. Pengamat menilai, parpol berideologi seperti ini lancung sedikit saja-- bakal terimbas suaranya di Pemilu 2009. Pandangan itu menyusul dugaan suap yang menimpa anggota DPR dari Fraksi Persatuan Pembangunan (PPP), Al Amin Nasution, yang ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), belum lama ini. ''Kasus Amin itu menjadi tantangan untuk parpol Islam di Pemilu 2009,'' cetus Direktur Indo Barometer, M Qodari, kepada Republika, Ahad (13/4) siang. Keadaannya menjadi lebih susah untuk PPP, menurut Qodari, karena pada saat bersamaan mengalami krisis basis sosial. Pertama, PPP berebut massa yang sama dengan PKS dan PKB. Kedua, PPP tidak memiliki tokoh yang menonjol. ''Krisis itu diperparah oleh penangkapan Amin,'' kata Qodari. Dalam kaitan Amin, sebelumnya juga masalahnya, dia menikahi penyanyi dangdut Kristina. Untuk yang terakhir ini, Qodari menilai yang paling besar pengaruhnya bagi citra PPP. ''Selebriti Kristina itu mengundang banyak peliputan gosip di televisi. Padahal, di level masyarakat penonton cukup besar pengaruhnya nanti saat memilih,'' sambung Qodari. Pernyataan tersebut didukung data distribusi pemilih dalam Pemilu 2000. Delapan tahun lalu, pemilih PPP didominasi perempuan, yaitu 66,7 persen. PPP dalam pemilu legislatif terakhir (2204) mendapat delapan persen suara. Dalam programnya untuk Pemilu 2009, partai berlambang Ka'bah ini menargetkan mendulang suara 15 persen. Variabel pemilih Survei Indo Barometer terakhir, Desember 2007, PPP diprediksi hanya mampu meraup suara tiga sampai empat persen. ''Akan susah untuk mereka mencapai delapan persen sekalipun,'' kata Qodari, Uniknya, bila kasus serupa menimpa parpol yang tidak berlandaskan ideologi, dampak ke perolehan suaranya akan lebih kecil. Kader Golkar di DPR sudah ada yang ditahan KPK, yaitu Saleh Djasit. Dan, dua orang lagi tersangkut dugaan menerima suap aliran dana BI, yaitu Hamka Yamdu dan Anthony Z Abidin. Sementara itu, Demokrat beberapa waktu lalu tersandung kasus calo pemondokan haji, yaitu Aziddin, yang kemudian di-recall. ''Buktinya, sampai saat ini masih banyak yang suka Golkar dan Demokrat,'' ujar Qodari. Memang, sambung dia, hubungan persepsi masyarakat ke parpol yang tengah disorot kasus korupsi tidak selalu segaris-sejalan bahwa parpol yang kadernya tengah ada kasus korupsi bakal ditinggal pemilihnya. ''Variabel pemilih itu memang banyak,'' katanya. Dia memaparkan, ada yang memilih parpol karena kebiasaan, seperti Golkar. Ada yang memilih parpol karena programnya jelas, seperti PKS. Ada juga yang memilih partai karena mewakili ideologi, seperti Islam NU yang berkiblat ke PKB. Faktor memilih juga akan tergantung dari besar tidaknya sorotan media pada kasus tersebut. Dalam kasus Golkar, sorotan media terhadap sejumlah kadernya tidak begitu besar, termasuk saat Ketua Fraksi Golkar di DPR, Priyo Budi Santoso, jadi saksi kasus korupsi di Bapeten. Berbicara terpisah, Wakil Ketua Komisi IV DPR, Suswono, mengatakan, dengan banyaknya kasus yang menimpa anggota DPR saat ini, harus membuat masyarakat makin cerdas menentukan pilihannya di Pemilu 2009. Masyarakat harus bisa memilih parpol mana yang benar-benar bersih. ''Kalau masyarakat melihat bahwa partai itu atau kadernya tidak bersih, ya, jangan dipilih lagi tahun depan,'' kata anggota Fraksi PKS itu. evy ( ) [Non-text portions of this message have been removed]
