Mungkin demikian kejadiannya bagi mereka yang "mendewakan artis"?


Nasrul
(Yang mengagumi para kiai NU di desa-desa)


http://sinarharapan.co.id/berita/0804/14/sh02.html

Dede              Terpopuler, Agum ”Ngetop”             Pengantar:
             Kemenangan pasangan Ahmad Heryawan–Dede Yusuf (Hade) dalam pilkada 
             Jawa Barat bukan sesuatu yang mengejutkan. Kemenangan Hade telah   
           diprediksi jauh hari sebelumnya dan faktor popularitas calon         
     gubernur (cagub) dan calon wakil gubernur (Cawagub) sangat              
menentukan.
             Analisa yang dilakukan Kelompok Studi Komunikasi (KS Kom) yang     
         dilakukan oleh mahasiswa Pascasarjana Universitas Padjajaran Bandung   
           sejak beberapa waktu lalu dan diperbarui 3 Februari 2008 silam,      
        hasilnya pasangan Hade tidak tergoyahkan.
             
             POPULER di mata media massa memang tidak menjamin terpilihnya      
        seorang cagub dan cawagub pada sebuah provinsi di Indonesia. Hal ini    
          masih tergantung kepada apakah masyarakat Jawa Barat sudah berpola    
          hidup media oriented atau belum.
             Pada suatu daerah yang masyarakatnya belum media oriented, popular 
             di mata media tidak memberikan pengaruh apa-apa, kalaupun ada 
hanya              sedikit sekali. Tetapi di daerah yang masyarakatnya sudah 
media              oriented, kepopuleran seorang tokoh di mata media massa 
sudah              memberikan jaminan suara kemenangan. 

             Hal itu terbukti pada masyarakat Kabupaten Tangerang ketika 
terjadi              proses pemilihan Bupati Tangerang belum lama ini, di mana 
artis ibu              kota Rano Karno berhasil memenangkan pemilihan untuk 
menjadi Wakil              Bupati. Hal itu juga terjadi pada masyarakat Amerika 
Serikat, ketika              aktor film Terminator Arnold Schwarzenegger 
memenangkan pemilihan              gubernur California. 

             Sebaliknya, pada masyarakat yang belum media oriented seperti yang 
             terjadi di Kalimantan Barat belum lama ini, ketenaran cagub dan    
          cawagub ternyata tidak berhasil menjadi pemenang, karena masih kalah  
            dengan konsep dan strategi pembai’atan aspek sukuisme, yakni Dayak.
             Bagi sebagian masyarakat Jawa Barat, media memang sudah menjadi    
          kebutuhan, tetapi belum media oriented benar, kecuali masyarakat      
        yang tinggal di perkotaan saja, seperti Kota Bandung. Tetapi bisa       
       saja, masyarakat perkotaan yang sering menjadi contoh perilaku           
   masyarakat pedesaan akan memberikan pendapat lain. 

             Artinya, tingginya popularitas Dede Yusuf yang mengalahkan Agum    
          Gumelar dan Danny Setiawan akan menjadi pemicu baru dalam kancah      
        strategi komunikasi politik di Jabar. 
             
             Jika Dede Yusuf bersama Ahmad Heryawan (cagub) bisa 
memanfaatkannya              secara benar, tepat, dan cepat hingga ke pelosok 
desa, serta sedikit              memberikan bobot program dan konsep bagaimana 
membangun Jabar              2008-2013 nanti, bisa jadi menjadi fenomena baru 
di Pilkada Jabar. 

             Dari ketiga pasang kandidat, dari segi konsep, belum ada yang 
matang              dan siap membangun Jabar seperti yang terbaca dalam berita 
media              massa akhir-akhir ini. Secara keilmuan, semua pasangan 
kandidat              pemimpin Jabar ini dianggap tidak siap membangun Jabar 
secara benar.              Yang ada kemudian hanya menyerahkan mekanisme 
birokrasi dan elemen              kepemerintahan Provinsi Jabar yang sudah ada, 
seperti Badan              Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) dan lainnya
.
             Akan tetapi, jika Dede Yusuf dan Ahmad Heryawan tidak bisa         
     memanfaatkan momentum ini, yang akan berposisi kuat adalah grafik          
    satu, di mana posisi Agum Gumelar teratas dengan posisi 45,2%              
dibandingkan Danny Setiawan yang berposisi 43,1%, apalagi jika              
posisi Ahmad Heryawan hanya 11.7%.
             Dalam waktu tiga bulan ke depan tingkat kepopuleran ini tidak      
        mungkin terkejar lagi, kecuali sekadar untuk memperbaiki persentase.    
          Jika hal ini terjadi, Danny Setiawan adalah yang paling memungkinkan  
            untuk menggeser posisi Agum Gumelar, mengingat Danny Setiawan       
       sebagai Gubernur Jabar saat ini bisa menggunakan berbagai kesempatan     
         untuk mempublikasikan dirinya secara besar-besaran. 

             Sebab bagi Danny, untuk menggeser Agum (jika Agum bersifat 
statis),              karena hanya berselisih 2% yang apabila ditakar dengan 
berita media              massa hanya membutuhkan kegiatan kampanye media 
secara maksimal              selama sebulan saja.
             Persoalannya kemudian, apakah para kandidat ini percaya bahwa 
media              massa berperan besar dalam memenangkan mereka dalam 
bertarung?              Apabila melihat kegiatan dan bobot berita yang tersaji 
pada media              massa lokal dan nasional, ketiga pasang kandidat belum 
merasa perlu              adanya penggunaan media massa secara tepat dan benar. 

             Terkesan, berita-berita tentang para kandidat yang tersaji ke      
        masyarakat tidak terlalu berbobot dan tidak dapat dijadikan kontrak     
         politik bagi masyarakat yang akan memilihnya, sehingga para kandidat   
           dalam memberikan pernyataan pers hanya semata untuk mencari aman     
         agar kelak jika menang tidak menjadi invoice politik baginya. n




 


        

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke