Salam.
Gus Dur tidak butuh gelar pahlawan. Itu jelas. Itu benar.
Tapi dalam level kenegaraan, hitam diatas putih itu penting dan perlu.
Masyarakat yang punya tanah, tanpa sertifikat, kepemilikannya tidak diakui.
Imam Bonjol yang bukan pahlawan, menurut saya, karena tidak jelas apa
kepahlawanannya, tapi diabadikan di buku-buku SD.
Budi
Utomo (BU) yang dibilang perintis kebangkitan nasional, padahal aneh: Siapa
merintis apa?. Pakar sejarah Unpad (Ahmad Mansur Suryanegara) tidak
setuju dengan BU sbg perintis kebangkitan, sebab Jawa minded. Lagi, tidak ada
bukti langsung sumbangsih terhadap kebangkitan nasional.
Bagi Prof
Suryanegara, Syarikat Islam adalah perintis kebangkitan nasional.
Karena Islam dalam konteks sejarah dimasa itu adalah kontra
kolonialisme, mencita-citakan kedaulatan yang pernah ada dimiliki
secara kolektif, perlu direbut dan dikembalikan kepada masyarakat. Karena
kolonialis
datang merebut kedaulatan dari kerajaan-kerajaan Islam sebelumnya. Sedangkan
nama Indonesia belum
dikenal saat itu.
Tapi karena formal kenegaraan sudah mengatakan
begitu, disetiap buku pelajaran sejak SD, anak-anak bangsa dicekoki
untuk mengakuinya, karena formalitas kenegaraan sudah menuliskannya.
Gus
Dur tanpa gelar formal kepahlawanan.... tak ada seorangpun yang dapat
menuliskan kepahlawannannya di buku SD, kecuali di buku ke-NU-an atau
di buku-buku yang tidak populis.
Jadi siapa yang butuh Gus Dur mendapat gelar pahlawan?
Gus Dur, tidak.
Anda dan saya? Mungkin juga tidak.
Apa perlunya bagi anda dan saya gelar tersebut?
Tapi
lain artinya bagi semangat perjuangan apa saja yang diperjuangkan Gus
Dur. Ia memerlukan legitimasi perjuangan. Dengan Gus Dur, sebab
kejuangannya di ranah itu, disebut pahlawan, maka nilai-nilai
perjuangan yang beliau perjuangkan memperoleh legitimasi untuk terus
diperjuangkan, bahkan sampai kepada penanaman nilai-nilai tsb di
buku-buku SD.
[Non-text portions of this message have been removed]