Kalian semua betul....
Kita prihatin dengan kayak begituan....
Tapi kan yang anda dan saya khawatirkan itu sama saja.... pada satu 
keprihatinan yang sama. Mental yang sama, biar bajunya dari S.Ag berganti 
menjadi ph.D, ya samanya saja. Orang mentalnya sama. Jadi sampean kalau 
prihatin yang jelas dulu apa yang diprihatinkan.

Nah, sekarang buktikan dulu...  bahwa para santri mampu tidak merubah nasib 
mereka untuk menjadi doktor yang berkualitas. Gus Dur itu tidak sampai ke gelar 
doktor... tetapi memiliki penghargaan doktor yang banyak. Artinya beliau itu 
maha doktor.

Terus terang.... apa yang dikhawatirkan Mas Rizki dan Mas Kebenaran... bagi 
saya, itu terjadi pada yang doktor dan yang bukan.

Impian saya adalah.... para santri bisa membantu untuk membangun bangsa ini.
Membangun bangsa ini perlu dengan merubah teologi komitmennya.

Sekarang, apa yang anda khawatirkan??? Mari kita analisa permasalahannya.

Maaf ya. Saya tidak mau becermin dengan para mental doktor yang temen-temen 
khawatirkan. Tengok lah ke saudara-saudara di India, Cuba dan Venezuela.
Karena itu... saya menyarankan para doktor kita pergi dulu volunteer ke Afrika, 
ke Amerika Latin, dan ikut jadi volunteeran PBB dimana-mana. jangan dulu balik 
ke Indonesia. Ikuti dulu teladan Syekh Yusuf Makasar.

Aku cerita nih. Ketika itu aku baru selesai semester I MANU. Setelah itu aku 
kabur. Bosan. Sebel. Aku kabur-kaburan sampai ke Jawa Timur. Ya jadi preman di 
pasar. di terminal. dimana saja yang penting bisa hidup. Setelah 5 bulan, Mbah 
Fuad Hasyim (Allahumma yarham) memanggil aku.
Beliau bertanya, "Cung, kenapa kamu tak lanjut sekolah?"

"Kiyai, untuk apa sekolah? Kiyai saja yang ijazah SDnya hilang bisa jadi doktor 
honoris causa dan profesor kehormatan di universitas di Australia," jawabku 
mantap.

Timpal Kiyai: "Cung, jamanku dengan jamanmu lain. Kamu harus lanjut sekolah"
Jawabku, "Saya tak mau sekolah yang jurusannya hanya ke IAIN. Ntar, saya 
bertengkar melulu dengan para dosennya"
Gampangnya, Kiyai memberi jalan bahwa tak musti ke IAIN. Ke mana saja bisa.

Sebelum Kiyai wafat, Kiyai membawa saya bertemu Gus Dur. Saya perhatikan Gus 
Dur sangat menyuruh santri untuk lanjut sampai doktor.
Kiyai dan Gus Dur sama-sama berharap banyak doktor dari kalangan santri. Itu 
saya denger sendiri.
Saya tahu, dulu sekolahan Mbah Sahal ditabukan untuk memiliki ijazah formal 
pemerintah. Tapi saya tahu Mbah Sahal sangat menghargai kalau santri bertekad 
belajar sampai doktor.

Nah, sekarang anda-anda pada khawatir kalau para santri jadi doktor, tetapi 
teladan-teladan saya mendukung para santrinya menjadi doktor.
Mari kita pecahkan, apa kekhawatiran anda mengenai hal itu?

Kang Aji. Saya menyesal, pada usia sekarang, saya belum mengalami apa yang Mas 
Aji alami. Meski hanya satu gelar doktor, saya tidak punya. Tapi saya bertekad, 
akan mengkampayekan para santri untuk meraih doktor. 
Saya tahu, dari jutaan santri yang mondok di pondok NU, paling 1% atau kurang 
yang menjiwai idealisme kesantrian.
Dan saya tidak akan putus asa, bila dari 100 santri tiap tahun yang belajar 
doktor, meski hanya 0.1% saja yang menjadi doktor luar dalam.

Saya akan tarik Kang Aji ke Lembaga yang akan saya kembangkan, kalau memang 
qualified. Saya akan turun ke kancah nasional pada saat yang Allah ridloi, 
Insya Allah.

Saya akan belajar dari pola hidup Dr Ashraf Ghani, orang Afghanistan itu.

Saya akan pancangkan layar untuk menantang hembusan angin yang kelak Allah 
taala berikan. Mohon doa.




________________________________
From: Rizky Hardyhatmoko <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Wed, January 27, 2010 9:26:44 AM
Subject: Re: [kmnu2000] Teologi Santri Menuju Prestasi Doktor

Btw, hakekat fiqh dan tasawuf tidak bakalan ditemui lewat sekolahan berpattern 
konvensional begini pak.


Sent from my BlackBerry®
powered by Allah swt

-----Original Message-----
From: Aji Hermawan <[email protected]>
Date: Tue, 26 Jan 2010 15:44:51 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [kmnu2000] Teologi Santri Menuju Prestasi Doktor

Kang Sofwan 

Maaf, sy pernah 4 kali sekolah tngkat doktoral di 4 universitas yang berbeda. 
Jadi sy tdk menganggap doktor sbg sesuatu yg istimewa.  Yang perlu hati2 PhD 
itu sdh banyak terdegradasi. Banyak doctor of philosophy yg tdk memahami 
filosofi ilmunya. Saya setuju saja kalau yg dimaksud adalah substansi 
kedoktorannya.  Bagaimana menciptakan orang nu berkualitas doctor of 
philosophy, tidak skdr ahli fiqh praktis dan tasawuf praktis, fiqh dan 
tasawufnya gak sampai jeroannya. . 

Salam 
Aji 



Powered by RAMP-IPB® 

-----Original Message----- 
From: sofwan nadi <[email protected]> 
Date: Tue, 26 Jan 2010 04:13:01 
To: <[email protected]> 
Subject: [kmnu2000] Teologi Santri Menuju Prestasi Doktor 

Teologi Santri Menuju Prestasi Doktor. 

Ada baiknya materi Kongkow Bareng Gus Dur yang diasuh Mas Guntur di 68H 
(dikopi-paste langsung dari facebooknya) sebelum kepada teologi yang diajukan. 
Yaitu sbb: 


Mengurus Tuhan 

Friday, January 15, 2010 at 11:06am 
Pada setiap kongkow biasanya awal acara selalu dibacakan 
mutiara hikmah dari Kitab Al Hikam, yang biasa dibacakan oleh KH.Wahid Maryanto 
(Pa Acun), ini adalah salah satunya : 
"istirahatkan dirimu dari mengatur urusanmu karena segala yang telah 
diurus untukmu oleh selain mu tak perlu engkau turut mengurusnya". 

Disini Gus Dur mengemukakan bahwa "kalau Tuhan sudah mengurus kamu mengapa 
kamu mengurus dirimu sendiri,nah disini akan timbul pertannyaan,lalu kamu 
(manusia) mengurus apa? jawabnya kamu mengurus Tuhan". (Petuah Pertama) 

Maka Gus Durpun menerangkan keterkaitan dengan kalimat Al Hikam yang lain : 
"kuburkan dirimu dalam bumi kekosongan,melakukan sesuatu tanpa 
pamrih/tanpa berharap apapun,terserah Tuhan saja". (Petuah Kedua) 

Dari yang diterangkan Gus Dur diatas,kita bisa tahu kenapa Gus Dur selama ini 
membela apa yang orang lain tidak mau membela,karena bepikir untung 
rugi,sedangkan Gus Dur malah melakukan semua itu tanpa mengharapkan 
apapun/tanpa pamrih,karena hanya berharap ridho Allah. 

menguburkan diri dalam bumi kekosongan,ini sangat indah.mengubur diri dalam 
kekosongan adalah tidak berbuat apapun sekalipun sudah berbuat apapun.Tidak 
melakukan apapun sekalipun sudah melakukan apapun.Karena yang melakukan dan 
berbuat sesungguhnya adalah Allah sendiri.Manusia hanya digerakan oleh yang 
maha penggerak,di dalam kubur yang kosong sesungguhnya manusia memasuki kawasan 
kebaqaan Allah,maka manusia menjadi majas.sehingga yang berbuat adalah Allah 
itu sendiri.Allahuakbar. 
maka sesungguhnya menguburkan diri didalam bumi kekosongan adalah manifestasi 
men Taslimkan diri kita kepada Allah,menyerahkana semuannya kepada ketidak 
terbatasan jangkauan milik Allah, 
Mungkin disini pula maksud "mengurus Tuhan". ????????????? waslam. 
Acun.& GN 

Komentar Sofwan: 

Saya sangat sangat tercerahkan...dan sangat tepat sekali bila petuah Gus Dur 
dijadikan Teologi Santri Mengukir Prestasi Doktor, begini. 
Saya ingin berbagi 
makna yang dicerna dari petuah Gus Dur yang pertama dari Alhikam tersebut. 


Kita sekarang ini terjerat oleh budaya masyarakat: "Nak sekolah, nanti cari 
kerja, lalu kawin" Jadi budayanya: Sekolah atau mondok-Cari kerja-lalu Kawin. 
(Disingkat dengan PKN: mPondok-Kerja-Nikah) 
Kalau ambil hikmah dari pituah Gus Dur (yang pertama), seharusnya santri yang 
muda-muda dibekali teologi: 
sekolah-sekolah-sekolah (tamat S3). (Disingkat 3S sampai S3) 

Lho...dari mana biayanya? 
Menurut petuah pertama: Itu urusan tuhan. Kita tak boleh ngurusi urusan 
tuhan. 
Logikanya begini:... dengan menggunakan analogi berperahu tradisional, sbb: 

Kita dorong perahu ke tengah laut.  Kita buka layar perahu. Kalau 
layar sudah terkembang, urusan angin biar urusan tuhan. Kerja kita buka layar 
dorong perahu. Bukan membuat/ mencari angin. Tak tahu diri. 

Begitu juga sekolah-sekolah-sekolah. 

Kita siapkan 
diri dengan tekad belajar yang sungguh-sungguh. Lengkapi informasi. Kembangkan 
ikhtiyar mendapat peluang sampai S3. 

Nanti kalau ada tawaran kerja, ya ambil, tapi tetap 
menuju S3. Kalau ada tawaran nikah, ya ambil, tapi tetap menuju S3. 

Dengan cara berfikir ini...insya Allah.. kaum 
nahdliyin kelak banyak santri S3 nya. Lah, nanti gimana? Njubel rebutan di 
tanah air.. jadi makelar? 

Ya kalau udah S3..cari pengalaman keliling 
dunia...jadi volunteer di Afrika, Eropa, Amerika Latin, Asia... kalau pada 
punya pengalaman kayak gitu kan NU jadi kebanggaan dunia. Bikin kreatifitas 
menyebarkan berkah ke-NU-an dimana-mana. Aamiin. 

Takdir itu tergantung budaya. Budaya kita dahulu PKN... makanya kaum nahdliyin 
terpinggirkan... Gak bisa bantu Presiden Gus Dur. Itu terbukti. 
Kita ubah budaya. Kita ubah teologi. Maka kita mendapat takdir yang unggul. 

Manusia itu hidup dalam lingkaran dunia yang dibuatnya sendiri. 
Didefinisikannya sendiri. 
Maka keluar lah darikungkungan lingkaran itu. Buat lingkaran definisi baru. 
Masuki, jangan ragu-ragu. Maka kita mengubah takdir. 

Insya Allah. Petuah Gus Dur berkah. Aamiin. 


      

[Non-text portions of this message have been removed] 




[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links





------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke