Yang saya sampaikan tidak senada dengan Mas Reez. Karena itu, apa yang ditulis Mas reez tidak bertentangan dengan tulisan saya. Yang saya tulis juga tidak menentang tulisan Mas Reez. Tak tahu kalau arahnya ke selain diriku.
Ok, tentang TERUKUR. Itu yang penting dari sebuah level-level kebenaran dalam tanda kutip. Karena itulah ada adaptasi dan ada dialog. Itulah makna pengukuran, ukuran dan terukur. Itulah sebabnya ada slogan "fatwa berkembang dengan waktu dan tempat". Itulah sebab ada slogan "al-adat muhakkamah". Itulah sebab saya menerima NU. Ini juga faktor MENGUKUR. Jadi harus dibuat dulu standarnya. Saya mengambil logika NU sebagai patokan bagi kerja pengukuran. Saya, sebagai pelajar eksakta, bicara pengukuran sudah sampai ke tingkat filsafatnya. Insya Allah. bahkan sampai kepada penerapan skala keterukuran dalam banyak dimensi. Karena itulah kecermatan ahli pengukuran boleh dipegang. Insya Allah. ________________________________ From: "[email protected]" <[email protected]> To: [email protected] Sent: Thu, May 20, 2010 3:58:50 PM Subject: Re: [kmnu2000] Re: Apakah berdebat untuk mencari kebenaran? Saya malah lain lagi. Saya tidak anti fundamentalist, tidak anti pluralist, tidak anti liberalist. Yang penting terukur. Tidak semua faham fundamentalis saya terima , Tidak semua faham liberalis saya terima, semuanya terukur. Jika ada pertentangan di antaranya saya lebih memilih mana yang lebih manfaat dan tidak membatalkan tawasul saya. Semisal masalah aurat, kenapa kita pusing membahas negara2 yang tidak mengerti hal aurat dan membela mereka, sedangkan kita sudah faham dan mengerti manfaat menutup aurat. Almost generaly di barat, religion hanya milik orang tua-tua yang sudah tidak produktif, itu sudah menjadi paradigma kaum muda dan produktif disana. Jadi jika pemerintahan ditata oleh kaum2 yang demikian sudah pasti agama hanya mendapat perhatian sebelah mata, karena mereka totally tidak faham agama, agama apapun. Paling tidak hanya pendekatan agama dari sisi psycho atau filsafat saja oleh ahli2 dlm pemerintahan. That's it, kalau kita mempertentangkan masalah menutup aurat misalnya, berarti kita sendiri tidak faham dan tidak pernah merasakan manfaat menutup aurat. Terlebih2 membela agama2 lain yang jelas jelas tidak mampu mengatur umatnya menghentikan judi dan mabuk mabukan. Bahkan tidak dapat memimpin arah pemerintahan suatu negara semisal Amerika untuk menghentikan prostitusi, judi dan mabuk. Dimanakah kesadaran perjuangan kita jika kita ini umat islam, apakah kita senantiasa menganggap penyimpangan2 perilaku kehidupan tersebut kita toleransi, sedangkan kita mempunyai tanggung jawab rahmatan lil 'alamin. Kita terlalu sibuk menata wajah sedangkan musibah tetap kita biarkan berlarut larut tak tertangani. Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: sofwan nadi <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Wed, 19 May 2010 20:45:58 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [kmnu2000] Re: Apakah berdebat untuk mencari kebenaran? Pak Abdul: "kebenaran yang hakiki itu adalah milik Allah" Betul sekali. Namun begini yang terjadi di lapangan, hal itu terjadi dalam beberapa episode transformasi pemaknaan. Dan ini yang perlu kaum fundamentalis fahami logikanya. Pertama: Tulisan di Kitab Allah Kedua: Pemaknaan pertama = terjemahan Ketiga: Pemaknaan kedua = penafsiran Keempat: Pemaknaan ketiga = perancangan implementasi di ranah amal perbuatan Kelima: Pemaknaan keempat = Setelah ada feed back, terjadi adaptasi-adaptasi ... ... Ke-n: Penerimaan budaya. Ini lah mengapa Gus Dur bilang: formalisasi "teks" itu a historis. Karena dari tingkat kebenaran level pertama kepada tingkat kebenaran yang mewujud menjadi budaya itu sudah mengalami adaptasi-adaptasi, dialog-dialog. Secara jujur saja, adaptasi-adaptasi, dialog-dialog, seringkali pada esensinya mengalami "reduksi", walaupun hanya 0.5% (kecil sekali), tetap saja namanya reduksi. Dari nalar di lapangan... inilah mengapa saya memilih ikut NU, karena logika berfikir kaum Nahdliyin realistis. Dan inilah mengapa saya menolak Fundamentalis, karena nalarnya tidak mengakui fakta keadaan yang terjadi pada diri mereka sendiri. Mereka mengingkari bahwa hasil pikiran mereka tetap dari mereka, bukan yang orisinil dari tuhan. Contoh ini banyak. Salah satu yang saya tidak setuju adalah dengan hasil tafsir ulama Saudi yang dipostingkan untuk menolak pluralisme. Tafsiran-tafsiran semodel inipun ada di kalangan Nahdliyin. Contoh ayat-ayat jilbab. Sebagian orang Arab menghasilkan pemikiran: Niqab. Sementara Syekh Al Azhar menghasilkan pemikiran: Niqab itu budaya Arab, bukan Islam. Bagi saya, jelas baik pendapat sebagian ulama Arab dan juga pendapat Syekh Al Azhar kedua-duanya bukanlah kebenaran hakiki. Meskipun berbagai dalil-dalil yang mereka gunakan. Kiai di Indonesia pun berbeda-beda hasilnya dari kajian. Nah, mana yang benar? Saya berkata: Lebih baik bertanya: mana yang menenteramkan? Akhirnya: Saya setuju kebenaran ada pada Kitab Allah. Saya tidak setuju bahwa pendapat manusia itu kebenaran. Saya setuju bahwa kebenaran hakiki milik Allah Saya berkata bahwa manusia hanya punya kebenaran dalam tanda kutip. Yang lebih pas: ketenteraman. ________________________________ From: abdul <[email protected]> To: [email protected] Sent: Thu, May 20, 2010 11:05:34 AM Subject: [kmnu2000] Re: Apakah berdebat untuk mencari kebenaran? Sdr sofwan nadi---------Bismilahirrahmanirrahiim Bisa yes atau no.... Yes..sesungguhnya kebenaran yg hakiki itu adalah milik ALLAH begitu bukan? Kebenaran itu sudah ditulis di dalam kitab2nya..mari kita pelajari kebenaran2 itu ,bukankah begitu? Bisa no, kalau berdiskusi itu dgn tujuan selain mencari kebenaran, tapi utk hanya mengalakan, atau debat kusir...tdk berdasarakan kepada kebenaran ALLAH atau ayat2 ALLAH. Bagimana kalau begitu sdr Sofwan. salam --- In [email protected], sofwan nadi <de_a...@...> wrote: > > Ada sebuah pandangan yang saya kurang sependapat dalam hal berdebat atau > mengkritik dalam hal ilmu. > > Ia itu "berdebat dalam rangka mencari kebenaran". > Bagi saya lebih pas kalau dikatakan begini: berdebat untuk mencari kebenaran > dalam tanda kutip: 'kebenaran' > > Kenapa begitu? > 1) kalimatnya mencari kebenaran saja sudah kesombongan dan bid'ah. Yang > disuruh adalah "menuntut ilmu" bukan "menuntut kebenaran" > 2) kebenaran adalah misteri tuhan. Nilainya prerogatif tuhan. Penentuannya > nanti di pengadilan tuhan. > > Saya lebih pas kalau berkata: berdebat untuk mencari ketenteraman. Ya, > ketenteraman, bukan kebenaran. Tentu saja yang dimaksud tenteram disini > adalah ketenteraman jiwa, ketenteraman fitrah. Bukan ketenteraman nafsu. > > Sebagian santri yang terpancing kedalam perdebatan sehingga terseret kepada > "menghujat" adalah sebab prasangka bahwa ia berada pada kebenaran. Padahal > sebetulnya, ia berada pada kebenaran dalam tanda kutip, 'kebenaran'. Ia itu > ketenteraman. Soal kebenarannya, nanti akan diperiksa di hadapan Allah. > > Sekarang apa itu ketenteraman yang disangka kebenaran? > Tentu, sebuah keprcayaan atau pengetahuan dirasa 'kebenaran' ketika > menenteramkan. > Sedangkan ketenteraman itu adalah sebuah keterbiasaan psikis manusia > berdasarkan kebiasaan dia sendiri. > Ketenteraman yang dimiliki santri Ahlussunnah adalah terjadi apabila konsep > kepercayaan bersesuaian dengan: > 1) Kitab Allah dan riwayat-riwayat mutawatir > 2) Hadits Nabi, bahkan meskipun lemah (biasanya dipakai untuk nasehat; > termasuk kedalam ini perkataan ulama pendahulu) > 3) Ijmak. Ijmak ini bukan kesepakatan persekongkolan. Melainkan kesepakatan > ilmiah tanpa dikehendaki bersekongkolan. Jadi kalau orang-orang NU saja atau > orang-orang Wahhabi saja bersepakat, bukan disebut ijmak. Ini lebih pas > disebut "kesepakatan golongan" > > Meskipun ada dalil-dalil yang absolut, tetap saja pemahaman daripadanya > bukanlah kebenaran, melainkan ketenteraman. Ini kebanyakan begitu. Memang ada > yang sudah menjadi kebenaran. Yang berlabelkan kebenaran pasti harus > merupakan barang mutawatir. Bagi saya, barang mutawatir yang dimaksud di sini > adalah sebuah derajat mutawatir pada tingkat pemahaman/ pemaknaan. Artinya > sebuah kesepakatan ilmiah tentang lahiriah sebuah perbuatan yang diperoleh > dari kajian dalil-dalil dari kesepakatan banyak pihak yang tidak mungkin > melakukan kesengajaan untuk sepakat. > Jadi perihalnya sangat sedikit sekali. Nah inilah yang saya pegang sebagai > kebenaran. Selebihnya ketenteraman. > > Nah, karena itu... mari kita biasakan "PERBANYAK SALAWAT, HINDARI MENGHUJAT" > > > Seperti apa semangat orang berdebat untuk mencari kebenaran? Ya seperti kaum > Khawarij. Karena merasa dirinya diatas kebenaran maka mulailah dia menghujat. > Menyebarkan hujatan dari mulut dan tulisannya. Ini pertama. > Kedua, menyebarkan fitnah bahwa lawannya kafir... lawannya halal darahnya. > Ketiga, melakukan aksi kekerasan fisik. Sampai-sampai Sahabat Umar, Sahabat > Utsman, Sahabat Ali... semua dibunuh. > > Bertaburan hujatan di milist kmnu ini dapat direkam. Dan siapa yang semakin > banyak menuliskan hujatan, semoga menginsyafi.. bahwa benih perilaku Khawarij > sudah mulai ada. Segera singkirkan cepat-cepat dari sana, kalau kita > benar-benar santri NU. > > Kalau bicara ilmu tidak bisa, diam saja lah (fal yaqul khoiron aw liyashmut) > Kalau bicara secara ilmu tidak bisa, tulis apa saja asal bukan hujatan; kalau > masih tidak ketemu, tulis saja banyak-banyak Salawat; kalau masih tidak bisa, > diam sajalah. > > Viva untuk NU. > > > >________________________________ > From: "ree...@..." <ree...@...> > To: [email protected] > Sent: Thu, May 20, 2010 8:18:07 AM > Subject: Re: [kmnu2000] MARI KITA JAUHI IMAGE YANG UGLY DALAM > BERDISKUSI. > > Kalo memang bisa saling introspeksi its ok, tapi kalo nggak bisa siapa dulu > yang ugly? > > > Sent from my BlackBerry® > powered by Sinyal Kuat INDOSAT > > -----Original Message----- > From: "abdul" <latifabdul...@...> > Sender: [email protected] > Date: Thu, 20 May 2010 00:02:34 > To: <[email protected]> > Reply-To: [email protected] > Subject: [kmnu2000] MARI KITA JAUHI IMAGE YANG UGLY DALAM > BERDISKUSI. > > MARI KITA JAUHI IMAGE YANG UGLY DALAM BERDISKUSI. > > Assalamu 'alaikum wr. wb > > Di dalam menyampaikan dakwah, kita tidak terlepas dari perdebatan. Bahkan > perdebatan itu terkadang sampai melukai hati orang lain. Akhirnya, apakah > perdebatan yang kita lakukan itu adalah menuju kebaikan ? Padahal dari sana > kita telah berbuat suatu "kejahatan". > > Mengutip dari buku yang pernah saya baca,Berdebat bisa dibagi menjadi 2 > kategori : > > 1] DEBAT TERPUJI, yaitu perdebatan yang ditujukan untuk kebaikan, yakni > berdebat dengan pihak-pihak yang diharapkan kembali dari kebathilan kepada > kebenaran. > > Firman Allah SWT surah An-Nahl :125 yang artinya : > "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik > dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang > lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang > lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. > > Surah Al-'Ankabut:46 yang artinya : "Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli > kitab, melainkan dengan cara yang paling baik." > > 2] DEBAT TERCELA, yaitu perdebatan yang tidak dimaksudkan untuk sampai kepada > kebenaran dan melaksanakannya, melainkan semata-mata ditujukan untuk > permusuhan dan memuaskan kemarahan terhadap orang lain. > > Debat kusir akan memperlihatkan image muslim yang UGLY, sering kita sebut > seperti itu. Dan ini merupakan salah satu perdebatan tercela. Hindarilah > perdebatan tercela karena akan bisa menyebabkan hilangnya kebaikan. > > "Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud > membantah saja, sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar." > (Az-Zukhruf:58) > > Dan dari perdebatan ini juga akan muncul permusuhan. Apakah kita ingin > mencari musuh dengan berdebat ?? Na'udzubillah min dzalik. Apa keuntungannya > setelah itu ? Wallahu 'alam bissawab. > > PERBEDAAN ITU SEHARUSNYA MEMBAWA ILMU DAN BERKAH. > > Bukan saya orang yang "takut" berdebat, tapi alangkah baiknya jika kita > berdebat secara terpuji. Hindarkan "personal attack", tetap dlm topik. > > Insya Allah tulisan saya ini tidak menimbulkan "perdebatan tercela". Senyum > manis > > wassalamu 'alaikum wr.wb > > Contoh perdebatan yang baik itu seperti Obama(LIBERAL) dan John Mc Cain ( > Fundamentalis) > Setelah selesai berdebat panjang selama 1 tahun, tapi hatinya tetap berteman > sampai hari ini. > > IT IS REALLY COOL---ISLAMI. > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > ------------------------------------ > >__________________________________________________________ > http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan > KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. > ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ > Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus > meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: > [email protected] > Yahoo! Groups Links > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
