Saudara Sekalian,
Hari ini saya membaca dua buah komentar penganut Kristen dari dua milis .
Mimbarbebas dan Kuli-tinta. ( terlampir dibawah).
Sdr. Kopral Djono di milis mimbar-bebas terang2an minta maaf kepada ummat Islam
karena merasa saudara2nya yang seiman gagal mengungkapkan Kasih yang menjadi
inti ajaran Kristen. Sdr. Djono merasa malu karena kalangan aktifis Kristen (
Mahasiswa , intelektual, Pendeta ) gagal muncul mengutuk kekejian kemanusiaan
yang sedang berlangsung di Ambon. Dengan bahasanya : bagaimana konsistensi
kemanusiaan kalian yang cuma macet di Timor Timur ?
Sdr. Martin Manurung di Kuli-Tinta menyesalkan dan tidak membenarkan kejadian di
Ambon. Harapannya agar semua yang bersalah segera diproses secara hukum tidak
pandang bulu meskipun yang seagama dengannya sekalipun. Walaupun begitu Sdr.
Manurung juga berpendapat bahwa peristiwa itu sebaiknya tidak usah
dipublikasikan secara besar2an. Setuju dengan Alwi Shihab , dia berpendapat
peristiwa itu bukan berlatang belakang agama . Kalau agama kok baru muncul
sekarang ?
Sebagai orang Islam yang suka terus terang, saya tidak mau menyembunyikan
sebersit kelegaan ditengah kekecewaan dan kegalauan hati ini. Lumayan ada dua
tulisan dari dua orang penganut Kristen yang masih bisa melihat dengan mata
kemanusiaan. Mungkin masih banyak lagi tapi mungkin kurang pandai menulis atau
tidak begitu pandai berbicara. Tidak mungkin sama sekali hati-hati yang selalu
diisi oleh Kasih dan Kasih dan Kasih , tidak menangis seperti kami-kami yang
beragama Islam melihat ribuan orang kecil eksodus bergantungan dikapal . Tidak
mungkin hati mereka tidak Shock mendengar berita puluhan nyawa melayang atau
darah mengalir atau Amien yang sembilan tahun berlarian ketengah hutan
menyembunyikan nyawanya dari para pembunuh orang tuanya.
Bagaimana dahsyat efek positifnya bila para tokoh Kristen dengan gagah berani
bicara vokal mengutuk kezaliman yang terjadi. Kemudian bekerja bahu-membahu
dengan kaum muslimin , PPP, PBB, Partai Keadilan, mahsiswa Islam ( yang sekarang
sibuk luar biasa) ? Dimana Frans Seda , atau ( yang saya tidak ada harapan )
Theo Syafei, atau Adicondro, dll. vokalis Kristen ? Where are you ?.
Kenyataan memang jauh berbeda dari lamunan........
Saya setuju kita harus berkepala dingin menghadapi Ambon. Tapi jangan pula kita
mengecilkan peristiwa tersebut, dengan mengurangi publikasi. Ini peristiwa BESAR
yang tidak kurang dari peristiwa 13-14 Mei. Semua kita harus well informed bahwa
sedang terjadi eksodus besar2an dari penduduk Muslimin Ambon karena teror keji
yang mengancam nyawa. Semua agar bisa menyadari bagaimana kecetekan penghayatan
keagamaan dapat menghasilkan kekejian yang keterlaluan seperti itu ?. Masyarakat
mesti juga sadar dan tahu benar bagaimana ABRI, si penyandang senjata, gagal
total melindungi masyarakat kecil ? ABRI sama sekali tidak pandai menjalankan
fungsi perlindungannya, seperti telah terbukti berkali-kali di Aceh, Banyuwangi,
dsb. ABRI baru pandai sekali dalam menembaki masyarakat sebangsanya.
Saya tidak setuju kalau dikatakan peristiwa Ambon bukan dilatarbelakangi masalah
agama. Ini masalah antar agama yang terang seperti mataharii. Mudah-mudahan kita
sudak kapok dengan bahasa munafik yang menyembunyikan fakta ajaran orde-baru
dan suharto. Masyarakat kita amat rawan dalam masalah agama. Tidak terus terang
dalam hal ini cuma menunda pemikiran serius mengobati penyakit itu didalam tubuh
bangsa ini. Yang harus ditekankan kepada masyarakat adalah perbuatan2 keji yang
terjadi adalah jauh dari ajaran agama manapun. Bahwa ada kelakuan keji dan
biadab dari orang yang mengaku beragama menunjukkan masih ceteknya penghayatan
agama bersangkutan.
Wassalam.
Martin Manurung wrote:
> Saya sangat menyesalkan dan tidak membenarkan kejadian-kejadian yang
> berlangsung di Ambon akhir-akhir ini.
>
> Tetapi, kepada rekan-rekan semua yang saya kasihi, hendaklah kita
> berhati-hati untuk tidak memperuncing permasalahan menjadi kasus
> pertentangan agama. Dr. Alwi Shihab mengatakan bhw kalau kerusuhan Ambon adl
> karena latar belakang agama, maka tidak baru sekarang dia pecah. Alwi Shihab
> mengatakan pula, bahwa kerusuhan Ambon lebih dilatarbelakangi faktor
> eksternal. Saya setuju dengan analisis Dr. Alwi ini.
>
> Sebagai bahan pembanding, ketika kerusuhan di Tasikmalaya lalu juga terjadi
> bermacam peristiwa biadab. Satu diantaranya ialah seorang pendeta dan
> keluarganya dikunci di dalam rumah, lalu rumah itu dibakar. Akhirnya pendeta
> dan keluarganya itu mati hangus terbakar di dalam rumahnya. Dari kesaksian
> penduduk setempat, yang membakar itu adalah orang-orang yang mengaku
> beragama Islam, karena mereka meneriakkan "Allahu Akbar" berkali-kali. Oh
> ya.., dimanakah aparat ketika kejadian tersebut berlangsung? Aparat ada
> tepat di depan orang-orang yang membakar rumah pendeta itu. Tapi, mereka
> tidak bertindak apa-apa.Mendengar hal itu, membuat panas orang-orang Kristen
> dan mereka berniat untuk membuka kasus itu secara besar-besaran. Tetapi,
> saya ketika itu mencegah dan mengatakan, "Tidak masuk di akal sehat saya
> bahwa saudara-saudaraku yang beragama Islam membunuh dan membantai orang
> sambil meneriakkan Allahu Akbar. Jadi, menurut saya, yang melakukan hal itu
> sengaja untuk menimbulkan kebencian di hati kita kepada saudara-saudara
> muslim. Karena itu, saya tidak sependapat bila hal itu dibuka secara
> besar-besaran, karena hanya akan menguntungkan si arsitek kerusuhan.
> Berarti, tujuannya untuk menimbulkan konflik Islam-Kristen menjadi tercapai.
> Menurut saya, biarlah kasus itu dituntut secara hukum, tanpa harus
> dipublikasikan besar-besaran."
>
> Artinya, diperlukan kearifan dan kejernihan memandang persoalan yang ada
> sekarang ini. Tentunya pula, perbuatan biadab yang dilakukan di Ambon itu
> tidak bisa dibenarkan, apapun alasannya. Karena itu, saya tetap mengharap
> agar aparat dan penegak hukum secara cepat memproses orang-orang yang telah
> melakukan tindakan biadab itu, apapun agamanya tanpa pandang bulu. Saya,
> walaupun beragama Kristen, tetap menuntut apabila yang melakukannya juga
> orang yang beragama Kristen, agar segera dihukum menurut peraturan yang
> berlaku.
>
> ------------------------Martin Manurung-----------------------------
> [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED]
> Homepage: http://www.cabi.net.id/users/martin
>
Kopral Djono wrote:
> Para Netters,
> Biarpun kebanyakan manusia itu cuma beragama Islam, tetap saja hati ini
> begitu trenyuh melihat
> begitu banyak manusia terusir dari kediamannya menyelamatkan nyawanya.
> Bergandulan berdesakan membawa
> sebungkus dua yang ringan dijinjing.
>
> Biarpun cuma mesjid , hati ini tetap saja sedih melihat teganya manusia
> memburu nyawa manusia
> sampai ketempat ibadah itu.
>
> Biarpun cuma tiga belas yang ditembaki , Biarpun mereka cuma orang Islam ,
> manusia kan tetap manusia......
>
> Biarpun cuma orang Islam yang terusir, ijinkanlah saya sebagai pemeluk agama
> Kristen untuk secara
> tulus minta maaf kepada saudara-saudara umat Islam. Saya minta maaf karena
> banyak saudara saya
> gagal menunjukkan ajaran Kasih yang menjadi inti ajaran Kristen. Entah
> bagaimana Setan Iblis yang
> saya kira cuma berada di Bosnia, ternyata potensiil berada dihati ummat
> Yesus di Nusantara ini.
>
> Saya sungguh malu pada kebisuan pejuang-pejuang hak asasi manusia ,
> pendeta-pendeta ,
> mahasiswa terutama yang beragama sama dengan saya. Sampai kapan sikap-sikap
> pura-pura tidak
> tahu, tidak mau tahu , perasaan tidak berdosa terus dilakukan.... Bagaimana
> konsistensi kemanusiaan kalian yang cuma macet di Timor Timur ?
>
> Meskipun mereka itu bukan orang Kristen, bukankah mereka itu manusia
> sebangsa .........
> Sekali lagi, mohon maaf atas semua kelakuan kawan-kawan saya yang seiman ,
> yang mencoreng-moreng
> wajah Kasih Yesus Kristus.......
> Malu....
>
> Salam.
> ____________________________________________
> "Love your enemies, do good to those who hate you"
>
> -----Original Message-----
> From: Beby Asvi Yunita <[EMAIL PROTECTED]>
>
> Astaghfirullah Al Adziim...
>
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
> Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Indonesia Baru: berkeadilan tanpa kekerasan!