From: iwans <[EMAIL PROTECTED]>
DEL.
Kalau nggak tahan dikritik, jangan
mencoba jadi pemimpin. Jadilah Ibu rumah tangga saja.
----------------------------------------------------------------------
--
Tanggapan:
He.... he.... nggak ada hubungannya Bung. Itu sudah merupakan pakaian
seorang pemimpin Bung. Koq nefsong banget sih...?
Bung Iwan, isu pokok adalah bahwa dimanapun dan siapapun yang dinista
oleh sifat angkara murka akan mewakili mereka yang yang telah
merasakan kenistaan itu. Disitulah kepemimpinan mulai tersemai.
Mulai dari Pandawa yang dinista oleh Kurawa, Soekarno Hatta yan
dinista oleh penjajah Belanda, Gandhi yang dinista oleh penjajah
Inggris, Jose Rizal di Filipina, kini Amin Rais, Sri Bintang, Gus Dur,
Megawati, para aktivis, dll yang telah dinista oleh Orba. Seorang
pemimpin memang dilahirkan oleh sejarah dan bukan dielus-elus.
Seandainya saja Soekarno pada saat itu tidak ngotot dan penistaan itu
berakhir maka catatan orang pada dia tidak akan sedalam itu. Demikian
pula dengan Mega yang lebih suka meninggalkan profesi ibu rumah
tangganya, he... he....
Sekali lagi Bung, Mega dan PDIPnya beruntung karena catatan penistaan
itu lebih panjang, yaitu sejak ia yang wanita ibu rumah tangga
dikeroyok oleh Pemerintah-ABRI-Oportunis (budaya gerombolan) di
Kongres PDI Surabaya, sehingga bisa lebih lama diikuti dan dirasakan
oleh rakyat dibanding misal dengan Sri Bintang, Pius, Budiman, dll.
Orang pasti masih ingat ketika di tengah malam yang ricuh dengan lampu
padam itu akhirnya Mega mengatakan "De facto saya adalah ketua umum
PDI" Itulah tantangan pertama kali ibu rumah tangga itu terhadap
arogansi pemerintahan Orba.
��
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!