Nothing's wrong with your joke, Mr. Daniel... it's just somebody take it
more serously than just a joke
Anyway, I like your jokes.., keep making ones..

Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
____________________________________________
Dukunglah Kampanye AGAMA untuk PERDAMAIAN!
Forum Mahasiswa untuk Kerukunan Umat Beragama (FORMA-KUB)
Kunjungi http://come.to/forma-kub  E-mail: [EMAIL PROTECTED]


-----Original Message-----
From: Daniel H.T. <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 26 Mei 1999 23:57
Subject: Re: [Kuli Tinta] Feodalisme, KKN, Kultus Megawati


Wah, terus terang saya kaget mendapat respon seperti ini. Bagi saya respon
ini berlebihan. Sama sekali tidak ada maksud saya mengkultuskan satu
individu tertentu ketika membuat anekdot tersebut. Dalam hal ini Megawati.
Anekdot ini juga merupakan adaptasi dari anekdot yang pernah saya baca di
sebuah buku. Di buku tersebut di posisi "Megawati" adalah Paus, dan yang di
posisi "Akbar" adalah tokoh politik Polandia.

Anekdot ini terinspirasi kembali ketika saya terjebak dalam kampanye PDI
Perjuangan. Saya melihat massa begitu antusias terhadap PDI-P Mengawati.
Kemudian membaca berita-berita bagaimana hal sebaliknya terjadi pada diri
Ketua Umum Golkar, Akbar Tanjung. Di mana di banyak tempat dia dihujat
malah sempat terpaksa mengamankan dirinya.

Sebatas itu saja yang membuat saya mengadaptsi anekdot tersebut. Sekali
lagi, tidak ada maksud sedikitpun untuk mengkultuskan Megawati.
Mengkultuskan individu tertentu, jauh dari pribadi saya. Saya juga sedikit
banyak bisa belajar dari sejarah, bagaimana jadinya ketika seseorang
dikultuskan. Sebagaimana yang terjadi pada Soekarno dan Soeharto. Saya pun,
seperti yang pernah saya katakan, belum tentu memilih PDI-P.

Lepas dari masalah pengkultuskan individu, saya akan memberi tanggapan
tentang komentar Anda.

Menurut saya apa yang Anda voniskan bahwa ketika meneriaki "Hidup Mega"
yang terpikirkan oleh mereka adalah sosok Bung Karno, terlalu tendensius.
Dan ini mirip sekali dengan apa yang dilakukan oleh pemerintahan Soeharto
tempo hari. Ketika itu seolah-olah semua yang berbau Soekarno hendak
dihapus dari muka bumi Indonesia. Gambar-gambar Soekarno pun sempat
dilarang untuk diarak dalam kampanye. Nyatanya tanpa gambar Soekarno pun
massa tetap mendukung PDI.

Memang keterikatan Megawati dengan sosok Bung Karno tidak bisa disangkal.
Itu merupakan fakta sejarah dan fakta biologis yang tidak bisa dipungkiri
oleh siapapun. Tetapi apakah lantas karena itu, Megawati tidak boleh
dicintai oleh pendukungnya? Apakah setiap kali rakyat pendukungnya
meneriaki yel-yel "Hidup Megawati" SUDAH PASTI karena dia anak Bung Karno?
Sama sekali TIDAK MUNGKIN karena sosok Megawati itu sendiri?

Massa generasi muda sekarang ini tentu tidak pernah mengenal secara
langsung sosok Soekarno (termasuk saya). Bahkan di masa Soeharto cukup
banyak bermunculan buku-buku versi penguasa yang sedemikian rupa dibuat
sehingga cukup menyudutkan Soekarno. Terutama  pada sejarah G30S/PKI.
Sehingga timbul kesan bahwa Soekarno adalah pendukung PKI. Kita tidak akan
bicara, apakah hal itu benar ataukah tidak. Tetapi yang dipertanyakan
adalah apakah benar cerita-cerita kosong yang Anda maksudkan itu mampu
mengindroktinasi massa pendukung PDI-P sedemikian hebat sampai-sampai
terbius pada kultus Soekarno, dan terbawa-bawa pada diri Megawati sekarang?

Faktor seperti yang Anda tuduhkan sedikit-banyak mungkin ada benarnya.
Tetapi menurut saya lebih besar kemungkinan adalah sosok Megawati dengan
PDI-P nya secara psikis dianggap sebagai representasi dari masyarakat yang
tertindas. Itu bisa kita lihat bagaimana perlakuan terhadap Megawati selama
Soeharto berkuasa, yang mencapai puncaknya pada Peristiwa 27 Juni 1996 yang
terkenal itu. Secara psikis secara sadar maupun tidak mereka menganggap
sosok Megawati dan PDI-P-nya mewakili perasaan tertekan mereka selama di
masa kekuasaan Soeharto. Begitu tekanan itu jebol, meluaplah kebebasan  dan
kegembiraan mereka yang mereka manifestasikan dalam bentuk dukungan yang
meriah terhadap PDI-P maupun Megawati sebagai Ketua Umumnya. Sekarang tugas
bagi kita semua untuk menghindari agar luapan emosi seperti ini jangan
sampai bermuara pada pengkultusan individu seperti yang telah terjadi pada
dua presiden kita terdahulu.

At 14:24 25/05/99 EDT, you wrote:
>In a message dated 5/25/99 12:58:13 PM !!!First Boot!!!,
[EMAIL PROTECTED]
>writes:
>
>Andaikan Bung Karno bukan Proklamator RI-- melainkan seorang penjual
martabak
>di pertigaan Depok-- apakah Megawati dielu-elukan rakyat?
>
>Ketika meneriakkan hidup Mega, sesungguhnya di kepala rakyat yang tergambar
>adalah "potret dan sosok Bung Karno". Baik karena pernah mendengar
pidatonya,
>mendengar cerita tentang dia, maupun terbuai mitos-mitos kosong dan
>berlebihan yang sengaja dibangun oleh orang-orang kosong juga.
>
>Andaikan politik dinasti, feodalisme dan KKN tidak dikembangkan rezim
>Soeharto selama 32 tahun itu, apakah seorang Megawati bisa tampil seperti
>sekarang?
>
>Kapan bangsa kita bebas dari feodalisme dan KKN begini? Sejarah membuktikan
>bahwa Soeharto menjadi takj terkontrol gara-gara feodalisme. Begitu juga
>Soekarno. Kini kaum intelektual (ha-ha-ha) tengah membangun mitos dan
kultus
>itu pada Megawati. Semangat untuk kritis dan kesiapan mengkritisi sebuah
>tindakan atau sosok tertentu, tiba-tiba menghilang dari sebagian rakyat dan
>sebagian  intelektual semu. Hidup-mati, Mega tak pernah salah dan harus
>disembah, dipuja-puja.
>
>Nggak kapok-kapoknya bangsaku yang kerdil ini.
>
>salam,
>ramadhan pohan
>(penyimak pinggiran)
>

>

Daniel H.T.



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!







______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!



Kirim email ke