Di milis lain, saya sudah memberikan pendapat tentang amandemen UUD 1945..
.....from [EMAIL PROTECTED]
Anyway, revisi UUD 1945 memang suatu point penting dalam meniti langkah
menuju demokrasi. Dan saya setuju bila UUD 1945 harus diamandemen. Tapi, ada
faktor lain yang tidak boleh dilupakan. Mengubah suatu konstitusi perlu
fundamental konstruksi sosial yang lebih rapih, tidak sedang acak-acakan
seperti sekarang. Isu sentimen ras dan agama masih sangat kental
dipermainkan oleh petualang politik machiavelis. Dapatkah anda bayangkan,
bila Pasal 6 UUD 1945 yang jelas-jelas hanya mensyaratkan "orang Indonesia
asli" untuk menjadi presiden (suatu persyaratan yang simple), masih harus
dieksploitasi dengan isu agama untuk menjegal seseorang menjadi Presiden?
Tidakkah anda rasakan betapa dashyat dan bergaungnya sentimen agama
dikumandangkan oleh berbagai kelompok machiavelis sekarang ini?
Saya pikir, sebagai necessary condition untuk kemudian dapat mengamandemen
UUD 1945, kita harus melakukan rekonstruksi fundamental sosial yang telah
dirusak Soeharto dengan dikotomi-dikotomi "devide et impera"-nya
(sipil-militer, muslim-non muslim, pri-non pri, jawa-non jawa, dll). Jauh
lebih urgent usaha rekonstruksi fundamental sosial itu dilakukan, ketimbang
mengamandemen UUD 1945. Bila kita mampu mencapai konstruksi sosial yang
cukup baik, at least seperti awal-awal Orde Baru (akhir Orde Lama),
amandemen UUD 1945 itu harus kita lakukan. Kemauan untuk mengubah atau tidak
mengubah UUD 1945, from my point of view, untuk saat ini bukan syarat yang
membedakan status-quo dan reformis. Diskoneksi terhadap masa lalu, anti KKN
dan anti kekerasan, adalah tiga syarat penting reformasi.
Supaya yang duduk tidak lupa berdiri, batasilah masa jabatan presiden. Dan
hal itu, sudah ditetapkan dalam TAP MPR. Dan kalau Megawati sampai lupa
berdiri, saya akan berada di barisan depan untuk memintanya mundur. Hal itu
sudah saya katakan ke Pak Sabam Sirait dalam suatu pertemuan kami, "untuk
saat ini saya dukung Mega menjadi presiden. Tapi, begitu dia sampai di kursi
kepresidenan, saat itu juga saya akan menjadi oposisi terhadap Megawati!".
Karena itu pula, saya menolak ketika ditawarkan untuk menjadi anggota PDI
Perjuangan.
Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
____________________________________________
Dukunglah Kampanye AGAMA untuk PERDAMAIAN!
Forum Mahasiswa untuk Kerukunan Umat Beragama (FORMA-KUB)
Kunjungi http://come.to/forma-kub E-mail: [EMAIL PROTECTED]
-----Original Message-----
From: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 02 Juni 1999 2:54
Subject: Re: [Kuli Tinta] Feodalisme, KKN, Kultus Megawati
In a message dated 6/1/99 10:26:50 AM !!!First Boot!!!,
[EMAIL PROTECTED] writes:
<<
Eh, perasaan kok belum ada yang ngebahas tentang banyaknya caleg berbau
KKN di tubuh PDI-P, ya ? Bahkan suami sang Ibu Ketua sendiri pun ikut
serta dalam daftar tsb, dan kayaknya belum (atau nggak) diubah. Saya
pengin tau nih tanggapan rekan-rekan netters ttg hal ini. Masih pantes
nggak PDI-P disebut partai reformis ?
>>
Subj: Re: [bincang] Pabottingi: PDI Mega Anti Reformasi
Date: 6/1/99 5:27:00 PM !!!First Boot!!!
From: MADHANp
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Kalau menggunakan istilah Samson Kaber dari PDI-P Washington DC, ''Ah, itu
kan hanya gosip.''
Jika saya orang PDI-P, apa tanggapan saya?
1. Saya berterima kasih sekali karena diingatkan oleh tokoh sekaliber
Mochtar
Pabottingi. Jika Anda rajin membaca jurnal-jurnal dan analisis politik
maupun
kolom (ini biasanya berat, tapi sebenarnya nikmat lho), Anda bakal tahu
bobot
MP. Ini bukan gosip, lho.
Apalagi kritikan EEP.
2. Saya tidak akan manut, pasrah bongkokan memberhalakan atau mengultus
partai apalagi figur. Juga tidak akan reaktif apalagi meraung-raung
(menangis-nangisss seperti anak kecil) nyebut-nyebut Megawati dan PDI-P
reformis.
3. Saya akan pertanyakan soal ini secara obyektif kepada DPP PDI--P. Jika
tidak mendapat tanggapan obyektif pula, makaakan saya katakan goodbye
Megawati dan PDI-P nya. Lebaik baik gabung PRD atau Partai Krisna..
4. Lebih baik dicaci-maki karena mencari kebenaran daripada terpaksa
berlaku
hamba sahaya. Saya tak mau hidup di dunia yang tak sampai seabad ini harus
diisi dengan kekonyolan dan kekeliruan sesat. Otak kita dipakai untuk
berpikir, bukan untuk jadi budak politik.
Salam merdeka, dan mari tetap berpikir kritis.
Salam,
ramadhan pohan
(penyimak piggiran)
______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!