Bung Daniel,

Pepatah "Keledai terperosok ke lubang yang sama dua kali" saya ambil
untuk menggambarkan bahwa bangsa ini sudah mempunyai pelajaran yang
berharga yang bisa diambil dari para pendahulunya. Sebenarnya ini
merupakan bottomlining terhadap tulisan Bung Daniel. Wah ... kalau
tulisan saya ditangkap
salah dan menggurui maka saya mohon maaf dan menerima itu dan menjadi
bahan refleksi saya untuk memperbaiki proses encoding. Yang pasti,
berdiskusi di net ini memungkinkan saya yang merasa masih terbatas ini
bisa belajar banyak dari orang lain dari segala penjuru dan lapisan
tanpa harus mengevaluasi sumber.

Mengenai  V i s i  saya menulis bahwa "tampaknya semakin banyak
masyarakat dan tokoh yang memiliki visi yang sama". Menurut saya, ini
merupakan butir positif dan harus didukung. Apakah tulisan itu bisa
diartikan negatif?

Bahwa visi sama namun strategi dan tindakan berbeda itu sangat
mungkin. Visi -> Misi -> Tujuan -> Strategi -> Kebijaksanaan ->
Taktik. Jadi perbedaan
pendapat yang Bung Daniel sampaikan itu bukan pada tataran visi namun
lebih pada tataran strategi ke bawah. Yusril pagi ini di Indosiar
menyampaikan visi PBB mengenai hakekat Islam dalam implementasi
kehidupan politik negara Indonesia yang tidak berbeda dengan Gus Dur,
dan Amin dimana Islam mampu memberi pengayoman dan rasa tenteram
kepada semua orang tanpa terkecuali (Persatuan dan Kebangsaan). Kalau
kita membaca kembali risalah perdebatan dalam BPUPKI maka kita bisa
melihat bagaimana serunya perdebatan itu pqadahal mereka memiliki
tujuan yang sama yaitu mendirikan negara Indonesia Merdeka. Masih
ingat bukan bagaimana proses pergantian Pancasila menurut rumusan
Piagam Jakarta ke rumusan UUD 45? Islam sebagai mayoritas adalah fakta
bahkan sebelum kemerdekaan.  Nah saya bisa membayangkan situasi saat
itu dengan meneropongnya lewat Amin, Gus Dur, dan Yusril. Saya melihat
kemiripan semangat itu ada pada situasi saat ini.

Jadi visi yang saya tangkap dari masyarakat dan para tokoh adalah
keinginannya untuk membangun Indonesia masa depan yang lebih baik
berdasar keragaman yang ada dan itu berarti seperti semboyan negara RI
Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis dalam simbol negara. Kata
"keragaman" mempunyai arti yang sangat luas. Bukankah semboyan ini
yang telah ditepiskan oleh Orba dengan model pembangunan top down dan
homogen itu dimana agama menjadi salah satu kendaraan politiknya?
Sebelum Singapore berkembang, Orla telah menetapkan Sabang sebagai
pelabuhan bebas dan itu sangat strategis. Kalau ada daerah berkembang
pesat melebihi pusat kekuasaan kan dianggap "njongkeng kawibawan
ndalem" atau merongrong kewibawaan raja. Itu kan bagian dari sejarah
kerajaan-kerajaan Jawa. Kalau ada kabupaten yang maju dan berkembang
lalu dianggap "mbalelo".

salam.


-----Original Message-----
From: Daniel H.T. <[EMAIL PROTECTED]>
---

Yang disebut "kita" bukan hanya Anda, saya dan rekan2 milis ini,
tetapi
masyarakat luas. Itu yang dimaksud saya. Tolong jangan terlalu
terfokus
pada diri sendiri, kalau berpikir.  Jadi kalau Anda sudah merasa
pandai,
tugas Anda juga untuk "mendidik" masyarakat agar jangan menuju ke arah
yang
salah. Sebab ada juga orang merasa diri paling pandai sendiri, tetapi
menyimpan kepandaiannya itu untuk diri sendiri, untuk kemudian
terus-menerus mengejek orang lain bodoh, dan sebagainya. Mudah2-an
anda tdk
termasuk di sini.

Soal visi yang sama, apakah itu salah? Saya malah melihat sebaliknya,
setelah era Soeharto justru polemik di media massa terbuka luas.
Apalagi di
media internet (milis) seperti ini. Yang namanya polemik tentu
unsurnya ada
perbedaan pendapat. Kalau semua sama pendapatnya, tidak ada polemik.

Dari kubu2 polemik itu, tentu saja akan ada beberapa orang yang punya
pandangan substansi yang sama, yang berbeda dng kelompok lain.
Termasuk di
dalamnya visi. Kenapa kalau, misalnya saya dng si A, B, C punya visi
yang
sama -- yang berbeda dng Anda,-- dipersoalkan?



Daniel H.T.



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!







______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!




Kirim email ke