Mas Iwans...,

Kalau milih Habibie jadi calon tunggal itu, bebal dan dungu juga nggak
sih..??

Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
____________________________________________
Dukunglah Kampanye AGAMA untuk PERDAMAIAN!
Forum Mahasiswa untuk Kerukunan Umat Beragama (FORMA-KUB)
Kunjungi http://come.to/forma-kub  E-mail: [EMAIL PROTECTED]


-----Original Message-----
From: Tedy The Kion <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 29 Mei 1999 3:48
Subject: RE: [Kuli Tinta] Feodalisme, KKN, Kultus Megawati


Iwan S. wrote:
> Dan pers pun akhirnya melengkapi perspektif Megawati benar-benar
> sekedar menjadi simbol yang sesungguhnya : Simbol kedunguan
> mayoritas orang
> Indonesia tentang kebebalan dan kedunguan mencari pemimpin !!!!

Wah, mas Iwan rupanya sangat tidak setuju kalau Megawati jadi presiden ya.
Boleh-boleh saja orang tidak setuju, begitu juga bolehlah orang setuju.
Apapun pilihan masing-masing orang adalah hak dan tanggung jawab pribadi.

Saya sendiri meskipun sampai sekarang masih belum menjatuhkan pilihan,
tetapi tetap didalam alam berpikir dan perasaan saya berkata 'jangan Habibie
ataupun yang pernah jadi anak buahnya/antek orba'. Tetapi kalau ditanya
kenapa? apanya yang kurang pas? Jawaban saya adalah lebih banyak perasaannya
subjektifnya (meskipun perasaan ini banyak dipengaruhi objektifitas
kenyataan) dibandingkan alasan formal yang canggih menjelenterehkan
kekurangan Habibie. Kalaupun orang mendesak KENAPA, lebih baik saya nggak
bicarakan kejelekan orang itu saja, tetapi saya lebih baik
memperbandingkannya dengan tokoh-tokoh lain yang saya anggap layak sebagai
presiden seperti Megawati dan Amien Rais. Saya ambil alternatif penjelasan
seperti itu karena saya takut jatuh kedalam pendapat yang berbau sentimen
pribadi ketimbang sifat kritis yang evaluatif dan mendidik.

Nah, kalo ditanya kenapa koq Megawati dan Amien Rais? Yah, seribu satu
alasan dapat saya ajukan dengan argumentasi yang memang bener, yang
dipercaya bener, dan yang saya buat bener. Oleh karena itu saya lebih baik
ngaku bahwa pendapat saya itupun adalah pendapat yang lebih banyak
dipengaruhi perasaan subjektif (meskipun perasaan ini banyak dipengaruhi
objektifitas kenyataan) dibandingkan alasan formal yang canggih
menjelenterehkan kehebatan pemimpin pilihanku.

Yah, karena pada dasarnya memang aku lebih banyak dipengaruhi subjektifitas
perasaan dan segala macam sentimen yang siap menerkam kanan kiri, makanya
lebih baik aku berhati-hati dalam berpendapat karena sekarang ini bangsa ini
lebih membutuhkan jawaban-jawaban yang mendidik yang dapat ditemukan dalam
budi pekerti yang bijaksana dan moralitas tinggi ketimbang jawaban yang
asalnya dari pikiran bebas yang membingungkan tidak ada jalan keluarnya.

Junjunglah kebebasan berpikir dan jangan lupa pikirkan bagaimana agar
didalam kebebasan kita masih tetap berpikir: demi kemajuan bersama.

salam,
tedy


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!








______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

TUNTASKAN REFORMASI: Pilih MASA DEPAN BARU di Pemilu 1999!




Kirim email ke