Mengapa perempuan Islam tidak berkualitas memimpin???

Begitulah mungkin contoh cara pandang orang yang terlebih dulu memikirkan HAK
sehingga melupakan KEWAJIBAN. 

Laki-laki dan perempuan adalah sederajat, begitu ajaran Islam yang saya
pahami. Sehingga pada prinsipnya mereka punya hak yang sama untuk hidup,
berusaha, bekerja, beribadah dan kesempatan masuk surga. Tak ada yang
dilebihkan Tuhan hanya karena jenis kelaminnya saja. 

Namun laki-laki dan perempuan diciptakan punya tubuh yang berbeda yang
kemudian menyebabkan timbulnya pembagian tugas yang adil diantara keduanya
demi terciptanya keseimbangan hak dan kewajiban dalam kehidupan keluarga dan
masyarakat. 

Perempuan ditakdirkan untuk hamil, melahirkan dan menyusui, hal-hal penting
dengan tanggung jawab yang berat dalam upaya melanjutkan kesinambungan
generasi yang tidak mungkin dilakukan oleh laki-laki, sehingga hal-hal
tersebut merupakan KEWAJIBAN perempuan dalam masyarakat manusia (dan sebagian
besar hewan juga). Laki-laki juga berHAK hamil dan melahirkan. Tapi apa
bisa???

Mencari nafkah dan menjadi pemimpin sebaliknya adalah KEWAJIBAN laki-laki
untuk memungkinkan perempuan melakukan kewajibannya terhadap anak dan keluarga
berlangsung dengan baik. 

Perempuan memang punya HAK bekerja untuk menghasilkan uang seperti Khadijah
R.A, menjadi pemimpin seperti Ratu Bulkis atau menjadi intelektual yang hasil
kerjanya menjadi rujukan seperti Aisyah R.A., namun KEWAJIBAN utama perempuan
dalam masyarakat dan keluarga tetaplah hamil, melahirkan dan menyusui.
Perempuan yang membantu suami mencari nafkah berarti memberi sedekah pada
keluarga. 

Potongan hadist yang sering dikutip bahwa sebuah negeri akan hancur bila
dipimpin perempuan bukanlah berarti kehancuran tersebut terjadi karena ketidak
mampuan perempuan tersebut. Namun saya kira lebih banyak disebabkan karena
laki-laki di negeri itu lebih bodoh, dungu, loyo dan tidak berkualitas
dibandingkan dengan perempuan yang kemudian terpaksa maju ke depan untuk
memimpin negerinya sehingga ada bahaya bahwa kewajiban utamanya mempersiapkan
generasi baru penerus bangsa tak dapat terlaksana dengan baik. Maka hancurlah
bangsa itu. 

Mengapa Inggris belum hancur? Ya karena yang menggantikan Tatcher bukan
perempuan lagi dan masih cukup banyak ibu-ibunya yang tetap melakukan
kewajibannya dalam keluarga. 

Kalau laki-laki di negeri ini tidak ada satupun lagi yang mampu untuk maju
sebagai pemimpin negeri, kami para perempuan Indonesia termasuk yang Muslim
siap saja menggantikan.Kalau memang laki-laki di negeri kita sudah bodoh,
tolol tak bermoral semuanya, sehingga malah berbahaya kalau diangkat menjadi
pemimpin maka yakinlah bahwa perempuan Indonesia mampu untuk maju ke depan
memimpin bangsa.

Tapi selain memikirkan kemungkinan kehancuran bangsa karena ibu-ibu tidak
sempat lagi mengurus anak dengan baik seperti seharusnya maka pikirkan juga
apa sih gunanya laki-laki kalau tidak cukup berkualitas untuk bisa melakukan
kewajibannya itu dengan baik? 

Hamil tidak bisa apalagi melahirkan dan menyusui. Kalau cuma untuk urusan
reproduksi sih peran laki-laki sudah bisa diganti dengan teknologi kloning. 

Kalau perempuan harus maju mengerjakan semuanya termasuk menjadi pemimpin sih
bisa saja karena itu juga HAKnya .....dan laki-laki cuma akan menjadi
penganggur parasit tak berguna karena gagal melaksanakan KEWAJIBANnya.

Ah ...bahagianya terlahir sebagai perempuan .........

SARI


From: Daniel H.T. <[EMAIL PROTECTED]>

>Perempuan oleh Islam katanya dilarang sebagai pimpinan pemerintahan.
>Alasannya katanya, perempuan (Islam) tidak becus menjadi pimpinan. Padahal
>dalam kenyataan seorang perempuan mampu untuk menjadi pimpinan
>pemerintahan, apakah itu sebagai presiden, ataukah sebagai Perdana Menteri.
>Demikian hal semacam ini tidak menjadi tabu di negara-negara yang mayoritas
>penduduknya beragama Kristen atau non-muslim lainnya. Kita mengambil
>sedikit contoh saja, seperti "wanita besi" dari Inggris atau PM Margareth
>Thatcher, kemudian ada Presiden Philipina Ny. Qorazon Aquino. Bahkan
>sebenarnya, Islam pun (pernah) punya PM dari Pakistan yang sangat ulet dan
>solid sampai sekarang.
>
>Kalau memang wanita (muslim) tidak boleh menjadi presiden karena katanya
>tidak becus, atau apapun alasannya, berarti jelas ada diskriminasi gender,
>dan berarti pula secara tidak langsung mengakui kualitas wanita (muslim)
>kalah dengan perempuan-perempuan di negara-negara non-muslim. Bagaimana
>ini? Ada yang bisa jelaskan? Pak Abdullah Hasan di Kuli-Tinta, mungkin?


Bung Daniel memang betul, cuma M.Thatcher, Q.Aquino, B.Bhutto, mau
dibandingkan dengan siapa di Indonesia? Namun memang sepengetahuan saya,
tidak bisa dibandingkan. Karakteristik wanita di setiap daerah, dengan
perbedaan alam, perbedaan situasi&kondisi, dan perbedaan-perbedaan lainnya
yang membentuk pribadi seorang manusia sangat mempengaruhi hal tersebut.
Bisa dihitung dengan jari, wanita di Indonesia yang punya kapasitas seperti
3 orang wanita yang sudah disebutkan di atas.
Karena apa? Mari kita tunggu pendapat anggota milist yang wanita...
Tidak semua wanita bisa jadi pemimpin, tapi pasti ada yang bisa! ;-)

peace,
DEZIG!







____________________________________________________________________
Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!





Kirim email ke