Pada Tanggal 6/9/1999, Ita & Felix menulis :

> Bung Wawan yang baik..
> apakah menurut Anda tidak ada di antara wanita yang berpikiran sama atas
> suami mereka?
> Wanita pun ingin suaminya tidak sering rapat (rapet?)  di luar rumah..
> Sering di rumah saling bahu membahu mengasuh dan mendidik anak..
> Karena bagi anak, kehadiran kedua orang tua memberikan arti yang sangat
> besarnya dalam hal yang berbeda..
> maskulinitas dan femininitas yang diterima dari pola pengasuhan kedua orang
> tua sangat berpengaruh bagi perkembangan anak..
> Jadi mengasuh anak bukan kewajiban ibu seorang diri..

Benar apa yang anda katakan, bahwa mengurus anak bukan kewajiban ibu
saja, harus kedua orang tuanya. Tapi begini... Tidak mungkin kedua
orang tuanya mencurahkan 100 % bila keduanya bekerja, harus ada salah
satu yang mengalah... misalnya sang ibu atau sang bapak...
Disini porsinya yang berbeda dalam mengurus anak sehari-hari, misalnya
sang bapak harus mampu membiayai... atau sebaliknya..sekali lagi
porsinya, punya kewajiban masing-masing... Juga perlu ada yang
bekerja..

> Alasan yang selama ini saya dengar adalah sang ayah sibuk mencari nafkah
> sehingga urusan mengasuh anak diserahkan kepada istri saja..
> Ini salah satu yang saya anggap sebagai tidak bertanggung jawab..

Loh... mengurus anak dan bekerja itu sesuatu yang bertanggung jawab...
Memang gampang mengurus anak ?, tugas mengurus anak itu TUGAS MULIA,
sebab anak itu masa depan keturunan saya dan istri saya... harus dipelihara
baik-baik....dan hubungan pertama yang dekat itu adalah ibu, dialah
yang melahirkan, menyusui ASI (bukan susu sapi, emang anak sapi ?)
Saya juga tidak setuju kalau sang bapak benar-benar mengabaikan tidak
mengurus anak... saya bukan mengarah kesana, tapi porsi yang
berbeda... Jangan membuat sesuatu kalimat bahwa sesuatu yang
bertanggung jawab itu hanya mengarah kepada uang...!!! Bekerja juga
mengurus anak merupakan sala satu 2 jenis Tugas Mulia...

> Saya mengusulkan suatu kerja sama.
> Sejak awal buat pembagian tugas antara suami dan istri..

> 1. Tanyakan dulu apa keinginan masing-masing.. Apabila si istri juga ingin
> berkarir di luar rumah, ini adalah hak individunya. Bukankah merupakan hak
> setiap orang untuk terus mengembangkan dirinya?

Lah wong saya juga udah nanya kok, jadi saya tidak ada pemaksaan, tapi
karena saya ingin istri yang tidak bekerja full time, maksimal part
time.. dan dia setuju.. so what so ever, apa saya salah... perasaan
saya tidak maksa kok.. lagian dianya juga mau...

> 2. Lalu apabila kedua belah pihak ingin berkarir, pertimbangkan anak..(ingat
> urusan anak bukan hanya tanggung jawab sang ibu)
> pertimbangkan kemungkinan di antara kedua karir tersebut, adakah kemungkinan
> untuk berkantor di rumah misalnya? Atau bisa pula membuat kesepakatan
> mengenai pembagian waktu..

Nah ini saya cukup setuju, yah itu, berkantor di rumah, seperti bikin
home industri... Tapi saya tidak setuju kalau keduanya berkarir full
time di rumah, siapa yang ngurus anak, baby sister ? No way buat saya.
Banyak temen yang broken home karena kasus seperti itu... Tidak
selamanya uang menyelesaikan masalah...

> 3. Apa pun hasil akhirnya bisa jadi si istri memilih untuk menjadi ibu rumah
> tangga atau justru sebaliknya sang suami lebih suka menjadi orang rumahan..
> yang paling utama adalah kedua belah pihak menerima dengan senang hati,
> hindari sebisa mungkin salah satu pihak terpaksa memendam keinginannya.

> PS
> Anda mengatakan bahwa ini negara demokrasi dan setiap orang bebas memilih,
> tapi anda tidak merelakan istri anda berkarir?
> Istri anda (saya asumsikan) adalah orang juga..masa tidak boleh memilih?
> Sebuah paradoks?

Siapa yang tidak merelakan ?, bukan ini intinya, tapi saya maksa atau
tidak. Justru disini demokrasinya saya tidak
memaksa wanita yang tidak mau kawin dengan saya.. dan saya juga tidak
akan protes.. dia-dia.. saya-saya... Sebab ternyata calon istri saya
mau kok sama saya, dan dia tidak mau kerja di luar rumah secara full
time, bisa kayak part time, misalnya guru, atau justru buka home
indutri... Sekali lagi masalahnya saya tidak memaksa wanita yang tidak
mau sama saya, dan anda juga jangan memaksa supaya wanita harus kerja
di luar 100 %, masih banyak juga kok yang mau di rumah...
Anyway, saya tidak akan protes juga bila ada keluarga yang
berkebalikan dengan saya, itu hak mereka, bukan paradoks, tapi itu hal
yang lumrah, asalkan setiap pihak mau menerima, itu intinya..
Seperti saya tidak mempermasalahkan anda seperti saya atau tidak,
misalnya istri anda bekerja sementara anda di rumah... semuanya
terserah anda, yang penting mau nerima...sekali lagi mau nerima..
DAN CALON ISTRI SAYA MAU MENERIMA, DAN YANG PENTING MAU SAMA SAYA..
Itu saja.. terima kasih banyak...dengan rasa legowo :)

Wassalam,
8^)
Wawan P. Siswoyo, Newbie Sekali             mailto:[EMAIL PROTECTED]



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke