Pada Tanggal 6/8/1999, Sari - menulis :

> Laki-laki dan perempuan adalah sederajat, begitu ajaran Islam yang saya
> pahami. Sehingga pada prinsipnya mereka punya hak yang sama untuk hidup,
> berusaha, bekerja, beribadah dan kesempatan masuk surga. Tak ada yang
> dilebihkan Tuhan hanya karena jenis kelaminnya saja. 

> Namun laki-laki dan perempuan diciptakan punya tubuh yang berbeda yang
> kemudian menyebabkan timbulnya pembagian tugas yang adil diantara keduanya
> demi terciptanya keseimbangan hak dan kewajiban dalam kehidupan keluarga dan
> masyarakat. 
--cut--
> Mencari nafkah dan menjadi pemimpin sebaliknya adalah KEWAJIBAN laki-laki
> untuk memungkinkan perempuan melakukan kewajibannya terhadap anak dan keluarga
> berlangsung dengan baik. 

> Potongan hadist yang sering dikutip bahwa sebuah negeri akan hancur bila
> dipimpin perempuan bukanlah berarti kehancuran tersebut terjadi karena ketidak
> mampuan perempuan tersebut. Namun saya kira lebih banyak disebabkan karena
> laki-laki di negeri itu lebih bodoh, dungu, loyo dan tidak berkualitas
> dibandingkan dengan perempuan yang kemudian terpaksa maju ke depan untuk
> memimpin negerinya sehingga ada bahaya bahwa kewajiban utamanya mempersiapkan
> generasi baru penerus bangsa tak dapat terlaksana dengan baik. Maka hancurlah
> bangsa itu. 
Anda perempuan ?... fantastis... :)
BTW, Sebenernya satu yang harus diingat, tiap orang itu punya pendapat
dan keyakinan, satu punya pendapat alangkah baiknya seorang wanitapun
menjadi pemimpin seperti yang ramai didiskusikan.. dan satu lagi
alangkah baiknya bila laki-laki terlebih dahulu, kalau tak ada yang
mampu baru boleh wanita. Hargailah semuanya... Toh kalo kita tanya
langsung pada wanita, tidak semua wanita setuju kalo wanita jadi
pemimpin, juga sebaliknya.
Kalau saya harus memilih untuk kehidupan nyata, saya akan pilih wanita
yang mau dirumah untuk mengurus anak-anak saya, kalo istri saya
repot di politik, mati saya!, bagaimana anak-anak saya, siapa yang
ngurus, babby sitter ? huh.. noway! Atau minimal boleh kerja, tapi
yang tidak fulltime, kasihan anak-anak saya. nanti broken home.
Tapi eit.. tunggu dulu, ini saya loh, bagi anda yang merelakan
istrinya menjadi pemimpin yang sibuk misalnya, silahkan saja, itu khan
keinginan anda. Asal jangan setuju wanita jadi pemimpin, tapi pas
giliran istri anda jadi pemimpin anda menolak. Yang harus disabari
tentunya, silahkan sabar menunggu istri anda tidak pulang karena rapat politik dan
harus sabar menahan dorongan sex yang tentunya disalurkan pada istri
anda...Yah masing-masing ada resikonya :)
Atau silahkan yang harus sabar kalo jam 9 malam istri anda belom
pulang, lalu anda menelepon ke HPnya, lalu terdengar jawabannya, "Papa
ini gimana sih, mama khan lagi rapat, pulang nanti jam 11 malam".
BTW, Semua orang punya pendapat, saya ambil yang pertama, miliser yang
lain ? silahkan pilih sendiri, ini negara demokrasi bung... :)

Wassalam,
8^)
Wawan P. Siswoyo, Newbie Sekali             mailto:[EMAIL PROTECTED]



______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!





Kirim email ke