Bung Wawan yang baik..
apakah menurut Anda tidak ada di antara wanita yang berpikiran sama atas
suami mereka?
Wanita pun ingin suaminya tidak sering rapat (rapet?)  di luar rumah..
Sering di rumah saling bahu membahu mengasuh dan mendidik anak..
Karena bagi anak, kehadiran kedua orang tua memberikan arti yang sangat
besarnya dalam hal yang berbeda..
maskulinitas dan femininitas yang diterima dari pola pengasuhan kedua orang
tua sangat berpengaruh bagi perkembangan anak..
Jadi mengasuh anak bukan kewajiban ibu seorang diri..

Alasan yang selama ini saya dengar adalah sang ayah sibuk mencari nafkah
sehingga urusan mengasuh anak diserahkan kepada istri saja..
Ini salah satu yang saya anggap sebagai tidak bertanggung jawab..

Saya mengusulkan suatu kerja sama.
Sejak awal buat pembagian tugas antara suami dan istri..

1. Tanyakan dulu apa keinginan masing-masing.. Apabila si istri juga ingin
berkarir di luar rumah, ini adalah hak individunya. Bukankah merupakan hak
setiap orang untuk terus mengembangkan dirinya?

2. Lalu apabila kedua belah pihak ingin berkarir, pertimbangkan anak..(ingat
urusan anak bukan hanya tanggung jawab sang ibu)
pertimbangkan kemungkinan di antara kedua karir tersebut, adakah kemungkinan
untuk berkantor di rumah misalnya? Atau bisa pula membuat kesepakatan
mengenai pembagian waktu..

3. Apa pun hasil akhirnya bisa jadi si istri memilih untuk menjadi ibu rumah
tangga atau justru sebaliknya sang suami lebih suka menjadi orang rumahan..
yang paling utama adalah kedua belah pihak menerima dengan senang hati,
hindari sebisa mungkin salah satu pihak terpaksa memendam keinginannya.


PS
Anda mengatakan bahwa ini negara demokrasi dan setiap orang bebas memilih,
tapi anda tidak merelakan istri anda berkarir?
Istri anda (saya asumsikan) adalah orang juga..masa tidak boleh memilih?
Sebuah paradoks?

salam
Ita

-----Original Message-----
From: Wawan P. Siswoyo <[EMAIL PROTECTED]>
To: Sari - <[EMAIL PROTECTED]>
Date: martes, 08 de junio de 1999 12:45
Subject: Re: [Kuli Tinta] Laki-laki tak berguna

>Anda perempuan ?... fantastis... :)
>BTW, Sebenernya satu yang harus diingat, tiap orang itu punya pendapat
>dan keyakinan, satu punya pendapat alangkah baiknya seorang wanitapun
>menjadi pemimpin seperti yang ramai didiskusikan.. dan satu lagi
>alangkah baiknya bila laki-laki terlebih dahulu, kalau tak ada yang
>mampu baru boleh wanita. Hargailah semuanya... Toh kalo kita tanya
>langsung pada wanita, tidak semua wanita setuju kalo wanita jadi
>pemimpin, juga sebaliknya.
>Kalau saya harus memilih untuk kehidupan nyata, saya akan pilih wanita
>yang mau dirumah untuk mengurus anak-anak saya, kalo istri saya
>repot di politik, mati saya!, bagaimana anak-anak saya, siapa yang
>ngurus, babby sitter ? huh.. noway! Atau minimal boleh kerja, tapi
>yang tidak fulltime, kasihan anak-anak saya. nanti broken home.
>Tapi eit.. tunggu dulu, ini saya loh, bagi anda yang merelakan
>istrinya menjadi pemimpin yang sibuk misalnya, silahkan saja, itu khan
>keinginan anda. Asal jangan setuju wanita jadi pemimpin, tapi pas
>giliran istri anda jadi pemimpin anda menolak. Yang harus disabari
>tentunya, silahkan sabar menunggu istri anda tidak pulang karena rapat
politik dan
>harus sabar menahan dorongan sex yang tentunya disalurkan pada istri
>anda...Yah masing-masing ada resikonya :)
>Atau silahkan yang harus sabar kalo jam 9 malam istri anda belom
>pulang, lalu anda menelepon ke HPnya, lalu terdengar jawabannya, "Papa
>ini gimana sih, mama khan lagi rapat, pulang nanti jam 11 malam".
>BTW, Semua orang punya pendapat, saya ambil yang pertama, miliser yang
>lain ? silahkan pilih sendiri, ini negara demokrasi bung... :)
>
>Wassalam,
>8^)
>Wawan P. Siswoyo, Newbie Sekali             mailto:[EMAIL PROTECTED]
>
>
>
>______________________________________________________________________
>To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
>To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>
>PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!
>
>
>
>
>
>


______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!






Kirim email ke