Wanita menjadi pemimpin dalam Islam bukan tidak mampu dan bodoh, akan tetapi
para ulama dulu berpendapat bahwa bila masih ada laki-laki yang mampu lebih
baik didahulukan laki-laki daripada perempuan. 
Sementara sebagian ulama juga berpendapat bahwa laki-laki sebagai pemimpin
hanyalah dalam kontek rumah tangga, dan yang lainnya boleh boleh saja.  
> ----------
> From:         Tedy The Kion[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Reply To:     [EMAIL PROTECTED]
> Sent:         Tuesday, June 08, 1999 1:07 AM
> To:   [EMAIL PROTECTED]
> Cc:   [EMAIL PROTECTED]
> Subject:      RE: [Kuli Tinta] Wanita Muslim Tidak Berkualitas sbg
> Presiden?
> 
> Bung Abdullah Hasan,
> 
> Apakah dapat saya simpulkan demikian dari tulisan Anda: Bahwa AGAMA sedang
> dijadikan ALAT (DIPERALAT) politik?
> 
> BTW, poin-poin Anda sangat clear dan mengena sekali.
> 
> salam,
> tedy the kion
> 
> 
> > Bung Danil,  Para Netters,
> > Yang diatas itu dari agama.  Kalau didalam politik semuanya bisa
> > macam2. Dalam politik segala yang bisa dipakai akan dipakai.
> > Kelompok Islam bodoh sekali kalau tidak menggunakan tafsiran yang
> > menguntungkankelompok politiknya .  Kelompok lainpun juga sama
> > bodohnya kalau  menciptakan kebodoh2an yang bisa dimanfaatkan
> > lawan politiknya. Isyu Sembahyangnya Mega di Puri adalah inovasi
> > yang baik bagi lawan , kebodohan bagi kelompok Mega. Isyu Caleg
> > non-moslem inovasi bagi sekelompok partai, kelemahan bagi PDIP.  Dsb.
> 
> > Demikian pula adalah sangat sah dan inovativ bila Mega
> > menggunakan karisma bapaknya buat menarik suara.  Adalah inovasi
> > politik pula tampilan citra tertindas pada diri Mega yang bisa
> > menarik kaum muda .
> > Adalah amat tolol bagi Mega untuk mau berdebat dengan pakar2
> > seperti yang dilakukan oleh Amin Rais dan Yusril.  Apa guna
> > mempertontonkan "kebegoan" dalam menarik suara ?  Para inteletual
> > boleh menjerit atau menangis sekalipun , masa bodo!
> >
> > Dalam demokrasi,  menarik kertas dalam kotak suara merupakan
> > faktor terpenting. Kita tidak bisa cengeng terhadap berbagai
> > inovasi politik yang lazim itu . Dalam negara maju Iklan TV  dan
> > Politik adalah dua hal yang erat berhubungan. Apa arti iklan ?
> > Kita lebih dari tahu bahwa iklan adalah upaya "membujuk" untuk
> > membeli barang yang kita punya dengan cara yang canggih dan halus.
> >
> > Yang diperlukan adalah pendidikan masyarakat . Lebih canggih
> > masyarakat lebih sulit orang politik buat main "tipu" demikian.
> > Masyarakat terdidik secara wajar tidak akan mudah membeli barang
> > dengan bumbu ayat2 kitab suci. Bisa nek dengan sendirinya.
> > Masyarakat terdidik tidak bakal mau membeli calon presiden yang
> > cuma mampu diam membisu. Presiden membutuhkan kefasihan yang
> > cukup buat menjelaskan kemampuan dirinya.
> >
> > Tapi optimislah ! Mudah2an bangsa ini mampu menjalankan lompatan
> > demokrasi dan lompatan pendidikan disamping beberapa lompatan2
> > yang telah disebut seperti lompatan teknologi dan ekonomi.
> >
> > Wassalam.
> >
> >
> > ----- Original Message -----
> > From: Daniel H.T. <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: <[EMAIL PROTECTED]>
> > Cc: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>
> > Sent: Sunday, June 06, 1999 11:44 AM
> > Subject: [Kuli Tinta] Wanita Muslim Tidak Berkualitas sbg Presiden?
> >
> >
> > > Perempuan oleh Islam katanya dilarang sebagai pimpinan pemerintahan.
> > > Alasannya katanya, perempuan (Islam) tidak becus menjadi
> > pimpinan. Padahal
> > > dalam kenyataan seorang perempuan mampu untuk menjadi pimpinan
> > > pemerintahan, apakah itu sebagai presiden, ataukah sebagai
> > Perdana Menteri.
> > > Demikian hal semacam ini tidak menjadi tabu di negara-negara
> > yang mayoritas
> > > penduduknya beragama Kristen atau non-muslim lainnya. Kita mengambil
> > > sedikit contoh saja, seperti "wanita besi" dari Inggris atau PM
> > Margareth
> > > Thatcher, kemudian ada Presiden Philipina Ny. Qorazon Aquino. Bahkan
> > > sebenarnya, Islam pun (pernah) punya PM dari Pakistan yang
> > sangat ulet dan
> > > solid sampai sekarang.
> > >
> > > Kalau memang wanita (muslim) tidak boleh menjadi presiden karena
> katanya
> > > tidak becus, atau apapun alasannya, berarti jelas ada
> > diskriminasi gender,
> > > dan berarti pula secara tidak langsung mengakui kualitas wanita
> (muslim)
> > > kalah dengan perempuan-perempuan di negara-negara non-muslim.
> Bagaimana
> > > ini? Ada yang bisa jelaskan? Pak Abdullah Hasan di Kuli-Tinta,
> mungkin?
> > >
> > > Daniel H.T.
> > >
> > >
> > >
> > > ______________________________________________________________________
> > > To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> > > To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> > >
> > > PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> >
> >
> 
> 
> ______________________________________________________________________
> To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
> 
> PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!
> 
> 
> 
> 
> 
> 

______________________________________________________________________
To subscribe, email: [EMAIL PROTECTED]
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]

PEMILU 7 Juni 1999: Pilih MASA DEPAN BARU bagi Indonesia!





Kirim email ke