Kalau anda bicara ekonomi, ada baiknya anda belajar lebih banyak ttg ilmu
ekonomi. Bukan malah mencela Rizal Ramli yang sangat fasih ekonomi.
Menguatnya rupiah ketika Habibie secara signifikan memang bukan karena
kinerja Habibie. Hal itu terjadi, karena koreksi eksternal dengan melemahnya
Dollar AS karena gebrakan Greenspan yang menurunkan tingkat bunga di AS
sehingga permintaan Dollar AS menurun. Dalam pasar yang tipis (demand dan
buyersnya sangat sedikit) waktu itu, maka menguatnya rupiah memang karena
faktor eksternal. Dalam bahasa ekonomi, penguatan itu terjadi karena
perubahan eksogen (exogenous). Sewaktu Megawati naik menjadi Wapres dengan
sebelumnya Gus Dur menjadi presiden, tekanan eksternal itu secara marjinal
tidak ada. Artinya, tidak ada persentase perubahan tekanan eksternal
terhadap satu unit persentasi perubahan domestik. Yang terjadi pada waktu
itu di pasar spot Singapura (dan juga pada indeks saham di Jakarta),
demandnya meningkat (endogenous), banyak yang memborong rupiah karena
ekspektasi positif dari naiknya duet Gus Dur-Mega yang memberikan optimisme
pasar pada perbaikan ekonomi. Ekspektasi itu dengan harapan bahwa di masa
datang rupiah akan lebih kuat lagi, karena itu demandnya meningkat agar
memperoleh gain/expected returns.
"Kepercayaan" anda itu tidak salah: bahwa nilai tukar mata uang erat
kaitannya dengan faktor non ekonomi, termasuk "eksekutif". Tetapi, penilaian
tidak dapat diberikan bablas begitu saja. Harus cermat: perubahan pada
variabel eksogen ataukah endogen. Dengan cermat, kita tidak salah dan tidak
asal bunyi. Jadi, pernyataan Rizal Ramli dan "Si Botak" AS Hikam, itu juga
tidak salah.
Atas hal ini, saya siap untuk berargumentasi dengan anda.
Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
____________________________________________
[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
"Love your enemies, do good to those who hate you"
-----Original Message-----
From: Wisnu Ali Martono <[EMAIL PROTECTED]>
To: Kuli Tinta <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 25 Oktober 1999 9:21
Subject: Re: [Kuli Tinta] Pesta usai sudah
>On Fri, 22 Oct 1999, [iso-8859-1] �� wrote:
>
>> Merdeka!
>
>> Yang pasti kini kita sudah melihat bukti bahwa pergantian
>> pimpinan nasional itu langsung mengangkat index dan menguatkan
>> nilai rupiah. Baru saja saya ketemu dengan seseorang yang dengan
>> lesu mengatakan akan menjual dolar karena menurut dia dolar akan
>> turun terus. Beberapa praktisi pasar yang hari ini saya temui
>> pada umumnya mengatakan "edaaaaan tenan yo....! medun
>> tenan...."" artinya gila! ternyaa benar.... turu benar.....
>
>> Apakah masih akan ada yang mempunyai argumentasi lain?
>
>WAM:
>Tanya saja pada Rizal Ramli dan si botak Hikam AS.
>Keduanya mengatakan bahwa naiknya kurs Rupiah tempo hari nggak ada
>hubungannya dengan kinerja Habibie. Jadi, gimana tiba2 kenaikan Mega
>dikaitkan dengan naiknya Rupiah?
>
>Saya termasuk yang percaya bahwa naik turunnya kurs itu terkait dengan
>kepercayaan terhadap eksekutif. Dengan kata lain, Rizal Ramli dan Hikam
>(menurut alur logika saya) adalah penipu. Dia tidak mau mengakui
>keberhasilan, kalau itu terkait dengan Habibie. Ini bukan sikap jujur
>seorang ilmuwan.
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!