Ikutan yaaa...
Uraian teori bung Martin cukup valid, tetapi penguatan nilai tukar rupiah
pada era Habibie bukan hanya karena koreksi eksternal semata, tetapi juga
karena intervensi Bank Indonesia. Intervensi inilah kontribusi Pemerintah
Habibie dalam menahan laju terpuruknya nilai tukar rupiah. Jadi ada jugalah
kontribusi itu, biasanya lewat Bank Mandiri, sekitar 5 juta dollar per hari.
Sayangnya yang dipakai intervensi uang hasil ngutang IMF, jadi beban itu
harus ditanggung rakyat.
Faktor lain adalah menguatnya cadangan devisa kita karena kenaikan harga
minyak bumi, dan masih terus berlangsung sampai sekarang. Kenaikan
pendapatan yang terjadi karena kenaikan harga jual tentu tidak dapat
dianggap sebagai prestasi.
Sedangkan ekonomi riil belum bergerak, walaupun sektor swasta tetap
menyumbangkan devisa melalui perdagangan hasil hutan dan laut terutama dari
kawasan diluar Jawa.
Tidak banyak pilihan untuk bangkit pada masa krisis yang dipicu oleh over
investment ini, sehingga pertahanan kita hanya mengandal pada hasil bumi
(existing revenue) dan ngutang.
Untuk memperkuat perekonomian, pilihannya tetap harus memperkuat ekonomi
riil, dan itu biasanya didorong oleh aliran kredit Bank. Tetapi sistim
perbankan kita sedang sakit, sehingga walaupun bunga simpanan sudah sangat
rendah, tetap saja Bank belum bisa mengalirkan kredit, walaupun logisnya
dengan spread 10% sekalipun, pengusaha kita masih mampu bermain diangka 22%
untuk bunga kredit. Itulah mengapa IMF tetap ngotot agar skandal BB
dituntaskan, karena ditengarai sebagai puncak gunung es (iceberg tip) yang
diharapkan mampu menguak kebobrokan dibawah permukaan, yang kata rumor
jumlahnya ratusan triliun, sehingga konsep penyembuhannya jelas.
Sekarang dihadapkan pada Kabinet Wahid dengan komposisi dan sistim garansi
yang berlaku, belum ada kepastian Skandal BB dab BRI akan terungkap. Kata
Akbar Tanjung pengungkapan Long Form PwC melanggar UU kerahasiaan Bank.
Jawaban ini sama persis dengan jawaban You Don't Know (eh ... Billy Yudono),
yang nggak lebih adalah pola covering up.
Semoga Bambang satunya yang masuk Depkeu mampu menyajikan terapi penyehatan
Bank, yang kalau perlu meninggalkan pola lama rekapitulasi, dan masuk
sepenuhnya ke pola penyembuhan berdasarkan kekuatan pasar.
Pola pasar ini akan menyakitkan bagi banker kita, karena local player
kemungkinan besar akan tersisih, tetapi beban hutang rakyat tidak makin
membengkak akibat kelambatan program rekap, yang setiap hari bebannya
bertambah ratusan milyard. Dan selama masalah ini belum selesai, ekonomi
riil belum akan bergerak, sekalipun kita meletakkan 1000 Yusuf Kalla atau
Kwik Kian Gie sekaligus di Kabinet.
Dengan indikasi pasar yang penuh keraguan seperti hari ini, sungguh kita
berada disimpang jalan. Masih ingin merayakan pesta kemenangan?
Yap
>From: "Martin Manurung" <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: Re: [Kuli Tinta] Pesta usai sudah
>Date: Mon, 25 Oct 1999 23:33:02 +0700
>
>Kalau anda bicara ekonomi, ada baiknya anda belajar lebih banyak ttg ilmu
>ekonomi. Bukan malah mencela Rizal Ramli yang sangat fasih ekonomi.
>
>Menguatnya rupiah ketika Habibie secara signifikan memang bukan karena
>kinerja Habibie. Hal itu terjadi, karena koreksi eksternal dengan
>melemahnya
>Dollar AS karena gebrakan Greenspan yang menurunkan tingkat bunga di AS
>sehingga permintaan Dollar AS menurun. Dalam pasar yang tipis (demand dan
>buyersnya sangat sedikit) waktu itu, maka menguatnya rupiah memang karena
>faktor eksternal. Dalam bahasa ekonomi, penguatan itu terjadi karena
>perubahan eksogen (exogenous). Sewaktu Megawati naik menjadi Wapres dengan
>sebelumnya Gus Dur menjadi presiden, tekanan eksternal itu secara marjinal
>tidak ada. Artinya, tidak ada persentase perubahan tekanan eksternal
>terhadap satu unit persentasi perubahan domestik. Yang terjadi pada waktu
>itu di pasar spot Singapura (dan juga pada indeks saham di Jakarta),
>demandnya meningkat (endogenous), banyak yang memborong rupiah karena
>ekspektasi positif dari naiknya duet Gus Dur-Mega yang memberikan optimisme
>pasar pada perbaikan ekonomi. Ekspektasi itu dengan harapan bahwa di masa
>datang rupiah akan lebih kuat lagi, karena itu demandnya meningkat agar
>memperoleh gain/expected returns.
>
>"Kepercayaan" anda itu tidak salah: bahwa nilai tukar mata uang erat
>kaitannya dengan faktor non ekonomi, termasuk "eksekutif". Tetapi,
>penilaian
>tidak dapat diberikan bablas begitu saja. Harus cermat: perubahan pada
>variabel eksogen ataukah endogen. Dengan cermat, kita tidak salah dan tidak
>asal bunyi. Jadi, pernyataan Rizal Ramli dan "Si Botak" AS Hikam, itu juga
>tidak salah.
>
>Atas hal ini, saya siap untuk berargumentasi dengan anda.
>
>Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
>____________________________________________
>[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
>"Love your enemies, do good to those who hate you"
>
>-----Original Message-----
>From: Wisnu Ali Martono <[EMAIL PROTECTED]>
>To: Kuli Tinta <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: 25 Oktober 1999 9:21
>Subject: Re: [Kuli Tinta] Pesta usai sudah
>
> >Tanya saja pada Rizal Ramli dan si botak Hikam AS.
> >Keduanya mengatakan bahwa naiknya kurs Rupiah tempo hari nggak ada
> >hubungannya dengan kinerja Habibie. Jadi, gimana tiba2 kenaikan Mega
> >dikaitkan dengan naiknya Rupiah?
> >
> >Saya termasuk yang percaya bahwa naik turunnya kurs itu terkait dengan
> >kepercayaan terhadap eksekutif. Dengan kata lain, Rizal Ramli dan Hikam
> >(menurut alur logika saya) adalah penipu. Dia tidak mau mengakui
> >keberhasilan, kalau itu terkait dengan Habibie. Ini bukan sikap jujur
> >seorang ilmuwan.
>
>
>______________________________________________________________________
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
>dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!