Bung Yap yang rasional,
untuk mendidik (pada awal kabinet baru ini) sebaiknya long form Pricewater
disiarkan secara luas. Bukan hanya untuk pendidikan mental, tetapi juga
untuk sungguh-sungguh untuk "menciptakan kebudayaan baru", yaitu keterbukaan
serta yang bersalah yaaa bersalah dan yang baik pasti kelihatan. Dengan
disertai harapan agar lembaga judikatif mengambil tindakan sebagai
kelanjutannya. Pendapat Ketua DPR/Golkar agar jangan disiarkan adalah
biasaaaa....
Jadi kalau disiarkan luas, bukanlah karena ditekan oleh IMF, tetapi karena
kesadaran kita sendiri untuk memulai clean government; sehingga jika ada
menteri kabinet sekarang berbuat yang mirip dengan kasus BB atau
sama-tapi-tidak-sejenis-kasus BB, lebih mudah kita untuk mengambil tindakan
yang patut ditreimanya.
Kapan lagi jika tidak dimulai pada awal kabinet ini???
What is your comment, my friend?
J.Sujanto
----- Original Message -----
From: Yap C. Young <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 27 October 1999 21:01 PM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Pesta usai sudah
> Ikutan yaaa...
>
> Uraian teori bung Martin cukup valid, tetapi penguatan nilai tukar rupiah
> pada era Habibie bukan hanya karena koreksi eksternal semata, tetapi juga
> karena intervensi Bank Indonesia. Intervensi inilah kontribusi Pemerintah
> Habibie dalam menahan laju terpuruknya nilai tukar rupiah. Jadi ada
jugalah
> kontribusi itu, biasanya lewat Bank Mandiri, sekitar 5 juta dollar per
hari.
> Sayangnya yang dipakai intervensi uang hasil ngutang IMF, jadi beban itu
> harus ditanggung rakyat.
>
> Faktor lain adalah menguatnya cadangan devisa kita karena kenaikan harga
> minyak bumi, dan masih terus berlangsung sampai sekarang. Kenaikan
> pendapatan yang terjadi karena kenaikan harga jual tentu tidak dapat
> dianggap sebagai prestasi.
>
> Sedangkan ekonomi riil belum bergerak, walaupun sektor swasta tetap
> menyumbangkan devisa melalui perdagangan hasil hutan dan laut terutama
dari
> kawasan diluar Jawa.
>
> Tidak banyak pilihan untuk bangkit pada masa krisis yang dipicu oleh over
> investment ini, sehingga pertahanan kita hanya mengandal pada hasil bumi
> (existing revenue) dan ngutang.
>
> Untuk memperkuat perekonomian, pilihannya tetap harus memperkuat ekonomi
> riil, dan itu biasanya didorong oleh aliran kredit Bank. Tetapi sistim
> perbankan kita sedang sakit, sehingga walaupun bunga simpanan sudah sangat
> rendah, tetap saja Bank belum bisa mengalirkan kredit, walaupun logisnya
> dengan spread 10% sekalipun, pengusaha kita masih mampu bermain diangka
22%
> untuk bunga kredit. Itulah mengapa IMF tetap ngotot agar skandal BB
> dituntaskan, karena ditengarai sebagai puncak gunung es (iceberg tip) yang
> diharapkan mampu menguak kebobrokan dibawah permukaan, yang kata rumor
> jumlahnya ratusan triliun, sehingga konsep penyembuhannya jelas.
>
> Sekarang dihadapkan pada Kabinet Wahid dengan komposisi dan sistim garansi
> yang berlaku, belum ada kepastian Skandal BB dab BRI akan terungkap. Kata
> Akbar Tanjung pengungkapan Long Form PwC melanggar UU kerahasiaan Bank.
> Jawaban ini sama persis dengan jawaban You Don't Know (eh ... Billy
Yudono),
> yang nggak lebih adalah pola covering up.
>
> Semoga Bambang satunya yang masuk Depkeu mampu menyajikan terapi
penyehatan
> Bank, yang kalau perlu meninggalkan pola lama rekapitulasi, dan masuk
> sepenuhnya ke pola penyembuhan berdasarkan kekuatan pasar.
>
> Pola pasar ini akan menyakitkan bagi banker kita, karena local player
> kemungkinan besar akan tersisih, tetapi beban hutang rakyat tidak makin
> membengkak akibat kelambatan program rekap, yang setiap hari bebannya
> bertambah ratusan milyard. Dan selama masalah ini belum selesai, ekonomi
> riil belum akan bergerak, sekalipun kita meletakkan 1000 Yusuf Kalla atau
> Kwik Kian Gie sekaligus di Kabinet.
>
> Dengan indikasi pasar yang penuh keraguan seperti hari ini, sungguh kita
> berada disimpang jalan. Masih ingin merayakan pesta kemenangan?
>
> Yap
>
>
> >From: "Martin Manurung" <[EMAIL PROTECTED]>
> >Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
> >To: <[EMAIL PROTECTED]>
> >Subject: Re: [Kuli Tinta] Pesta usai sudah
> >Date: Mon, 25 Oct 1999 23:33:02 +0700
> >
> >Kalau anda bicara ekonomi, ada baiknya anda belajar lebih banyak ttg ilmu
> >ekonomi. Bukan malah mencela Rizal Ramli yang sangat fasih ekonomi.
> >
> >Menguatnya rupiah ketika Habibie secara signifikan memang bukan karena
> >kinerja Habibie. Hal itu terjadi, karena koreksi eksternal dengan
> >melemahnya
> >Dollar AS karena gebrakan Greenspan yang menurunkan tingkat bunga di AS
> >sehingga permintaan Dollar AS menurun. Dalam pasar yang tipis (demand dan
> >buyersnya sangat sedikit) waktu itu, maka menguatnya rupiah memang karena
> >faktor eksternal. Dalam bahasa ekonomi, penguatan itu terjadi karena
> >perubahan eksogen (exogenous). Sewaktu Megawati naik menjadi Wapres
dengan
> >sebelumnya Gus Dur menjadi presiden, tekanan eksternal itu secara
marjinal
> >tidak ada. Artinya, tidak ada persentase perubahan tekanan eksternal
> >terhadap satu unit persentasi perubahan domestik. Yang terjadi pada waktu
> >itu di pasar spot Singapura (dan juga pada indeks saham di Jakarta),
> >demandnya meningkat (endogenous), banyak yang memborong rupiah karena
> >ekspektasi positif dari naiknya duet Gus Dur-Mega yang memberikan
optimisme
> >pasar pada perbaikan ekonomi. Ekspektasi itu dengan harapan bahwa di masa
> >datang rupiah akan lebih kuat lagi, karena itu demandnya meningkat agar
> >memperoleh gain/expected returns.
> >
> >"Kepercayaan" anda itu tidak salah: bahwa nilai tukar mata uang erat
> >kaitannya dengan faktor non ekonomi, termasuk "eksekutif". Tetapi,
> >penilaian
> >tidak dapat diberikan bablas begitu saja. Harus cermat: perubahan pada
> >variabel eksogen ataukah endogen. Dengan cermat, kita tidak salah dan
tidak
> >asal bunyi. Jadi, pernyataan Rizal Ramli dan "Si Botak" AS Hikam, itu
juga
> >tidak salah.
> >
> >Atas hal ini, saya siap untuk berargumentasi dengan anda.
> >
> >Martin Manurung <http://www.cabi.net.id/users/martin>
> >____________________________________________
> >[EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
> >"Love your enemies, do good to those who hate you"
> >
> >-----Original Message-----
> >From: Wisnu Ali Martono <[EMAIL PROTECTED]>
> >To: Kuli Tinta <[EMAIL PROTECTED]>
> >Date: 25 Oktober 1999 9:21
> >Subject: Re: [Kuli Tinta] Pesta usai sudah
> >
> > >Tanya saja pada Rizal Ramli dan si botak Hikam AS.
> > >Keduanya mengatakan bahwa naiknya kurs Rupiah tempo hari nggak ada
> > >hubungannya dengan kinerja Habibie. Jadi, gimana tiba2 kenaikan Mega
> > >dikaitkan dengan naiknya Rupiah?
> > >
> > >Saya termasuk yang percaya bahwa naik turunnya kurs itu terkait dengan
> > >kepercayaan terhadap eksekutif. Dengan kata lain, Rizal Ramli dan Hikam
> > >(menurut alur logika saya) adalah penipu. Dia tidak mau mengakui
> > >keberhasilan, kalau itu terkait dengan Habibie. Ini bukan sikap jujur
> > >seorang ilmuwan.
> >
> >
> >______________________________________________________________________
> >Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> >dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> >Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> >Keluar: [EMAIL PROTECTED]
> >
> >Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
> ______________________________________________________
> Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>
> ______________________________________________________________________
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!