----- Original Message -----
From: "Ferli Iskandar" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, January 18, 2000 8:04 PM
Subject: RE: [Kuli Tinta] amien lagi
Bicara soal interpretasi, apakah Anda sadar
pengamatan Anda bahwa 'AR
partisan' itu juga hanya sekedar sebuah bentuk
interpretasi?
--------------------------------------
Ya memang sebuah intepretasi, tapi intepretasi itu
ada dasarnya. Dasarnya adalah omongan AR sendiri.
Dengan membentuk PAN dan sekarang jadi ketum MPR
kupikir AR sudah keluar dari kepompongnya dan jadi
kupu-kupu, ee setelah jadi kupu-kupu ternyata
balik lagi masuk kepompong. Setelah jadi Ketum
MPR, omongannya kok masih kayak sidang umum MPR
dulu juga. Melihat itu apa aku tidak berhak
berintepretasi ? Tulisan James Dananjaya kemarin
apa juga bukan intepretasi ?
Coba baca berita di bawah ini. Satu dari
satunet.com, satunya dari Tempo, interpretasi dari
Gunawan Mohamad (yang pernah muncul di
Berpolitik.com), yang juga penggagas PAN. Dari
dasar itulah aku berani tulis kalau AR itu
PARTISAN atau mbelani kepompongnya saja.
Sebenarnya sih sebodo amat omongan orang lain,
wong intepretasi itu hak pribadiku kok.
-------------------------------------------------
------------------
Acara tabligh akbar berubah jadi acara Poros
Tengah - 07/1/2000, 08:59 WIB
Laporan Woro Yudhi Anggraini dan Kleofas Klewen
--------------------------------------------------
------------------------------
satunet.com - Acara tabligh akbar Jihad Ambon di
Monas yang dihadiri ribuan warga Muslim secara
perlahan-lahan berkembang menjadi sebuah acara
politik Poros Tengah dengan cita-cita
mempersatukan partai-partai Islam menghadapi
pemilu 2004.
Seruan bagi pembentukan satu partai Islam itu
disuarakan baik oleh Ketum PPP Hamzah Haz, Ketum
PAN Amien Rais maupun Presiden Partai Keadilan
Didin Hafiduddin.
Dikatakan oleh Hamzah, berpencarnya suara umat
Islam dalam berbagai partai politik dirasakan
"tidak menguntungkan" bagi aspirasi atau
penyuaraan sikap Islam di tataran politik
Indonesia. Untuk itu, katanya, ia sudah meminta
Amien Rais yang mantan Ketum Muhammadiyah untuk
ikut bergabung dan dibenarkan oleh Amien pada
kesempatan yang sama.
"Tinggal bicarakan hal-hal teknis," kata Amien.
Menurut Hamzah, sesuai dengan pengelompokan
partai-partai di masa depan seperti yang
disuarakan deklarator Partai Kebangkitan Bangsa KH
Abdurrahman Wahid, bahwa yang tersisa hanyalah dua
partai besar saja maka umat Islam perlu
memanfaatkan momentum itu dengan bersatu.
Pada sisi lain ia menyayangkan sikap Presiden Gus
Dur yang dinilainya kurang memperhatikan suara
umat Islam. "Seharusnya Gus Dur yang dipilih
(sebagai presiden) oleh Poros Tengah jangan
meninggalkan umat Islam," tukasnya.
Hamzah selaku menko kesra setengahnya dipaksa
mundur oleh Gus Dur dengan desas-desus yang
dilontarkannya soal adanya tiga menteri yang
terlibat KKN. Meski tidak pernah ada konfirmasi
bahwa Hamzah adalah satu dari tiga menteri
dimaksud, namun rumor di masyarakat cenderung
mempercayai hal itu. Belakangan, Gus Dur entah
karena tidak sabar lagi, mengumumkan 'menyetujui'
pengunduran diri Hamzah, sementara yang
bersangkutan belum menyampaikan surat pengunduran
dirinya kepada presiden.
Hamzah, Amien dan Didin juga sama-sama mengecam
Komnas HAM sebagai lembaga yang tidak aspiratif
terhadap keinginan umat Islam dan didesak untuk
dibubarkan saja. Didin mendesak pendirian lembaga
serupa yang diisi hanya oleh orang-orang Islam
saja guna menandingi Komnas HAM yang ada sekarang
ini.
Atas nama umat Islam, Hamzah mengancam akan
menyelesaikan kasus Ambon 'dengan cara-cara umat
Islam' apabila pemerintahan duo Gus Dur-Mega tidak
kunjung bisa menyelesaikan hal itu. Ia menuntut
diberlakukannya darurat militer di sana karena apa
yang terjadi di sana sudah lebih gawat daripada
Aceh.[mgh]
======================
Dari Tempo
http://www.temponews.com/majalah/index-isi.asp?rub
rik=kol&nomor=4
Kolom - Edisi Khusus Tahun 2000
Dalam Lima Bahaya
Goenawan Mohamad
Redaktur Senior TEMPO
Galau dan bengis, mungkn itu yang bisa dikatakan
tentang keadaan di
pelbagai wilayah di Indonesia kini. Terutama di
Ambon. Apa yang terjadi
hampir mengingatkan akan pembunuhan massal pada
tahun 1965, ketika
puluhan bahkan ratusan ribu orang dibantai karena
dituduh sebagai
"komunis". Tapi ada satu hal yang tak kalah
menakutkan kali ini: yang
dibantai melawan dan membalas membantai. Keduanya
atas nama agama.
-------------------dihapus--------------------
Sementara itu, Ketua MPR-yang mengkritik secara
terbuka pihak
eksekutif-juga kurang bersikap sebagai pemimpin
nasional. Ia tampak
kurang berlaku sebagai negarawan, khususnya dalam
menghadapi masalah
Ambon. Solidaritas kepada nasib umat Islam yang
dibunuh dan dianiaya di
Ambon memang wajib dikemukakan, tetapi seorang
Ketua MPR
seharusnya juga melihat bahwa kekerasan dan
kesengsaraan di sana tak
akan menjadi berkurang jika kita hanya mengikuti
syak wasangka,
kemarahan, dan kebencian orang ramai-yang
sebenarnya terbit dari
benturan sosial yang lokal sifatnya. Akan lebih
baik seandainya Ketua
MPR memandang konflik di Ambon sebagai sesuatu
yang menimbulkan
korban di semua pihak, dan bersama itu ia tampil
dengan agenda
"penyelesaian konflik" yang dapat dijalankan.
--------------------dihapus------------------
-=== FREE Handphone @ http://www.indoglobal.com/dedicated.php3 ===-
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!