----- Original Message -----
From: "Ferli Iskandar"
<[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Wednesday, February 02, 2000 9:06
PM
Subject: RE: [Kuli Tinta] amien lagi
>
> MB:
> Anda ini lucu, contoh gajah dan orang
buta ini khan juga simplistik.
>
> FI:
> Hehe, iya semakin lucu ;).
> Contoh itu adalah usaha saya
menyamakan 'impedansi' dgn cara berpikir
Anda,
> lho.
> Misalnya dgn analogi & hiperbolisme
spt "AR sbg Ken Arok", "AR sbg kupu2 &
> kepompong".
> Habis, tanpa visualisasi kayak gitu
spt-nya nggak nyambung2.
Ooo gitu, jadi nyambung aku sekarang.
Jadi posting yang seabrek dengan sekian
macam grundelan itu, itu intinya tho.
Nah anda setuju enggak dengan analogi
saya di atas ?
>
> MB:
> Wahai para komentator AR anda-anda
semua itu orang buta. Jangan komentari
AR
> jangan kritik AR. AR maha Besar dan
Agung untuk dikomentari dan dikritik.
> Biarkan dia di Singgasananya dengan
segala tingkah polahnya. Anda cuma boleh
> liat saja dan ngempet.
>
> FI:
> Mas MBr (whatever), did I say that?
> Lihatlah siapa yg nggak bisa lepas
dari cara pikir oversimplifikasi dan
> hiperbolisme.
Ah rupanya Anda termasuk orang buta yang
mencoba memegang saya eh gajah. Jelas
Anda memang tidak mengatakan itu. Yang
di atas itu khan persepsi/interpretasi
saya (terhadap tulisan anda). Kalau
tulisan di atas adalah cermin cara
berpikir saya --- yang oversimplifikasi
atau hiperbolisme--- itu khan hanya
persepsi/interpretasi anda saja. Ini
analogi dengan yang anda bilang ke saya
diposting sebelumnya. Bahwa yang saya
tulis dulu tentang AR itu hanyalah
persepsi saya. Sama saja apa dengan yang
anda tulis tentang cara berpikir saya di
atas. Itu ya cuma persepsi/interpretasi
anda terhadap saya. Saya cuma mau
ngikuti cara berpikir anda saja kok.
>
> Ngulangin point saya lagi: masalah
kolektif utama kita sebenarnya bukan
> terletak di peristiwa2 (pembantaian,
kerusuhan, pembakaran, kebangkrutan),
> tapi pada cara kita berpikir dan
menyikapi peristiwa2 itu.
Gitu. Jadi cara kita berpikir itu yang
bermasalah dan musti dibetulkan dahulu ?
Sebelum dibetulkan musti diam dan
ngempet ? Repot rek bila sudah ada
polisi tukang betulin pikiran begini.
AR ini memang nularin penyakit kok.
Dalam salah satu wawancara dgn Radio
Nederland Gus Dur bilang AR itu
sebenarnya menderita penyakit 'takut
sama demokratisasi'. Ketakutan bawah
sadar itu muncul jestru pada saat AR
melihat konsekuensi demokrasi saat
beliau sekolah di AS. Segala gerak AR
selama ini rupanya mencerminkan
ketakutan itu.
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!