--- Ferli Iskandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>Hehehe, nice points. Anda betul sekali, setiap usaha pemahaman selalu
>memiliki kecenderungan utk mempertahankan struktur pemahaman yg sebelumnya.
>Ini berlaku buat semua orang, tidak hanya saya.
>
>Gini Mas eMBer, eh, Marto. Point saya mungkin lebih baik pake visualisasi
>aja ya?
>Pasti pernah denger beberapa orang buta yg berusaha memahami seekor gajah
>dgn memegang sebagian saja dari anggota tubuh gajah ybs.
>Yg pegang belalainya bilang: "Gajah itu binatang mirip ular."
>Yg pegang kakinya bilang: "Gajah itu spt batang pohon."
>Yg pegang gadingnya bilang: "Gajah itu spt tombak."
>Dst, dst.
>
>In itself, semua interpretasi ttg gajah itu "benar" karena berdasarkan
>"fakta". Jadi kalau antar para orang buta itu saling berdebat, nggak akan
>ada ketemunya. Kita, para pengamat AR yg "pintar" ini, hanyalah sekelompok
>orang buta di depan gajah besar.
>
>"AR itu partisan", "AR itu kancil licik", "AR itu pengkhianat", "AR itu
>vampire politik", adalah pengamatan2 simplistik. Mungkin tidak salah, tapi
>simplistik. Saya akan menjadi ikut2an simplistik bila hanya berusaha
>'membuktikan' bahwa "AR itu bukan kancil licik", dst.
>
>Sekali lagi, cobalah melepaskan diri dari obsesi utk tampil sekedar 'berani'
>tapi simplistik.
>Terkecuali kita memang senang terus-menerus memegang 'anus gajah'.
>
MC Ikutan ya...
Betul sekali oom Ferli analogi anda itu, dan mungkin akhir-akhir ini AR lebih banyak
memperlihatkan anusnya.
Sala,
_____________________________________________________________
Get Your Free E-Mail Account at http://www.bizbot.net
-- Situs sulap pertama di Indonesia http://www.impact.or.id/dmc-sulap/
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!