Assalamu'alaikum Wr.Wb.
www.detik.com
>Kekeliruan Besar Serahkan Nasib Bangsa Pada 4 Elit Reporter: Djoko Tjiptono
>detikcom - Jakarta, Ketua Umum Poros Indonesia Eros Djarot
>menyatakan menyerahkan nasib bangsa pada 4 tokoh elit merupakan
>kekeliruan yang besar. Semestinya seluruh komponen bangsa harus
>diikutsertakan dalam proses rekonsiliasi tak hanya tokoh-tokoh elit.
Poirot:
Setuju dengan ungakapan Eros yang menyebut "kekeliruan besar
serahkan nasib bangsa pada 4 elit". Yang dimaksud tentu
Presiden Wahid, Wapres Soekarnoputri, Ketua DPR Tanjung,
Ketua MPR Rais, mestinya ditambah satu Sultan HB X.
Nasib bangsa ini harus menjadi tanggung jawab setiap
individu yang mencincai bangsa Indonesia dan tanah
air Indonesia. Setiap Individu bangsa Indonesia punya
tanggung jawab untuk berperan serta meningkatkan
kualitas hidup bangsa.
Cara yang ditempuh oleh satu orang mungkin berbeda
dengan orang lain. Satu kelompok beda dengan kelompok
lain. Satu partai beda dengan partai lain. As long as,
tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa...
there is no reason mengapa berbedaan bisa menjadi
penyebab permusuhan seharusnya perbedaan bisa
memperkuat kinerja bangsa.
Kalau melihat aroma kampanye pemilu...saya sering
prihatin. Mengapa seseorang tega menghajar peserta
kampanye hanya karena perbedaan partai? Toh, memang
kalah...yang memimpin negeri ini tetap bangsa Indonesia
yang tentunya punya tujuan mulian meningkatkan taraf
hidup bangsa Indonesia. Kalau kita tarik ke luar dalam
skala yang lebih besar...mestinya...there is no kekerasan
hanya karena perbedaan faham politik atau agama. Toh,
dari ujungnya...kita ini bersaudara. Sama-sama anak
cucu Adam-Hawa.
Ketika nonton film Armageddon, saya sempat terpikir...
alangkah baiknya kalau para politisi itu sempat nonton
film ini. Kekuasaan, kekayaan, persaingan, perbedaan
faham tak lagi ada artinya ketika bumi menghadapi
ancaman meteor yang akan menghantam bumi. Kehidupan
akan musnah, dan semua mati. Bila kita sempat terpikir...
"Ach sebentar lagi aku mati," mungkin segala bentuk
pertengkaran, permusuhan dapat direm dari dalam dengan
pengendalian nafsu.
Mengingat semua itu...kita jadi sadar, sebenarnya musuh
kita itu siapa sih? Musuh kita adalah kita sendiri. Kita
yang ditunggangi nafsu dan tak mampu melawan bisikan
iblis. Saya tidak tahu apakah ketika seseorang memasuki
dunia politik...baju politik mengubah semua sikap dasar
yang baik-baik pada diri manusia dan menyulapnya menjadi
badut haus kekuasaan?
Menurut saya...mestinya tidak begitu. Tapi mengapa banyak
yang terlihat seperti itu?
Wassalam,
+++Poirot
________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!