Setuju sekali dengan pendapat anda berdua!
Caranya merobah melalui media massa (pers-cetak, elektronik, termasuk
internet), LSM-LSM dan terutama melalui para mahasiswa yang terorganiseer
maupun pribadi-pribadi plus pimpinan informal yang masih sungguh-sungguh
grassroot leaders.
Yang menjadi masalah: "apakah mereka itu (media massa, dll) mau mewakili
aspirasi rakyat yang sesungguhnya atau mereka hanya perpanjangan dari
anggota DPR/MPR yang asyiok bermain sendiri?"
Yang pasti bisa adalah informal leaders menggerakkan massanya!
----- Original Message -----
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Sunday, August 06, 2000 8:27 AM
Subject: Re: [Kuli Tinta] Nasib bangsa
> Benar Bung, kalau saya sempat berbincang dengan berbagai lapisan
> masyarakat yang saya temui mengenai lembaga perwakilan itu maka
> isinya hanya umpatan dan makian. De jure mereka mewakili rakyat
> namun de facto tidak.
>
> Bila demikian, bagaimana caranya agar kesalahan besar itu
> diselesaikan sebelum Pemilu 2004? Mungkinkah?
>
> Saya sih penganut penyelesaian mendahului masalah.
>
>
> ----- Original Message -----
> From: Daniel H.T. <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Saturday, August 05, 2000 10:37 PM
> Subject: Re: [Kuli Tinta] Nasib bangsa
>
>
> Juga salah besar, kalau nasib bangsa ini diserahkan kpd org2 di
> DPR/MPR yg
> namanya saja sbg wakil rakyat, tetapi kenyataannya dlm praktek
> hanya
> mewakili partai dan golongan mereka tokh.
>
> ----- Original Message -----
> From: Hercule Poirot <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Saturday, August 05, 2000 8:21 PM
> Subject: [Kuli Tinta] Nasib bangsa
>
>
> > Assalamu'alaikum Wr.Wb.
> >
> > www.detik.com
> > >Kekeliruan Besar Serahkan Nasib Bangsa Pada 4 Elit Reporter:
> Djoko
> Tjiptono
> > >detikcom - Jakarta, Ketua Umum Poros Indonesia Eros Djarot
> > >menyatakan menyerahkan nasib bangsa pada 4 tokoh elit merupakan
> > >kekeliruan yang besar. Semestinya seluruh komponen bangsa harus
> > >diikutsertakan dalam proses rekonsiliasi tak hanya tokoh-tokoh
> elit.
> >
> > Poirot:
> >
> > Setuju dengan ungakapan Eros yang menyebut "kekeliruan besar
> > serahkan nasib bangsa pada 4 elit". Yang dimaksud tentu
> > Presiden Wahid, Wapres Soekarnoputri, Ketua DPR Tanjung,
> > Ketua MPR Rais, mestinya ditambah satu Sultan HB X.
> >
> > Nasib bangsa ini harus menjadi tanggung jawab setiap
> > individu yang mencincai bangsa Indonesia dan tanah
> > air Indonesia. Setiap Individu bangsa Indonesia punya
> > tanggung jawab untuk berperan serta meningkatkan
> > kualitas hidup bangsa.
> >
> > Cara yang ditempuh oleh satu orang mungkin berbeda
> > dengan orang lain. Satu kelompok beda dengan kelompok
> > lain. Satu partai beda dengan partai lain. As long as,
> > tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa...
> > there is no reason mengapa berbedaan bisa menjadi
> > penyebab permusuhan seharusnya perbedaan bisa
> > memperkuat kinerja bangsa.
> >
> > Kalau melihat aroma kampanye pemilu...saya sering
> > prihatin. Mengapa seseorang tega menghajar peserta
> > kampanye hanya karena perbedaan partai? Toh, memang
> > kalah...yang memimpin negeri ini tetap bangsa Indonesia
> > yang tentunya punya tujuan mulian meningkatkan taraf
> > hidup bangsa Indonesia. Kalau kita tarik ke luar dalam
> > skala yang lebih besar...mestinya...there is no kekerasan
> > hanya karena perbedaan faham politik atau agama. Toh,
> > dari ujungnya...kita ini bersaudara. Sama-sama anak
> > cucu Adam-Hawa.
> >
> > Ketika nonton film Armageddon, saya sempat terpikir...
> > alangkah baiknya kalau para politisi itu sempat nonton
> > film ini. Kekuasaan, kekayaan, persaingan, perbedaan
> > faham tak lagi ada artinya ketika bumi menghadapi
> > ancaman meteor yang akan menghantam bumi. Kehidupan
> > akan musnah, dan semua mati. Bila kita sempat terpikir...
> > "Ach sebentar lagi aku mati," mungkin segala bentuk
> > pertengkaran, permusuhan dapat direm dari dalam dengan
> > pengendalian nafsu.
> >
> > Mengingat semua itu...kita jadi sadar, sebenarnya musuh
> > kita itu siapa sih? Musuh kita adalah kita sendiri. Kita
> > yang ditunggangi nafsu dan tak mampu melawan bisikan
> > iblis. Saya tidak tahu apakah ketika seseorang memasuki
> > dunia politik...baju politik mengubah semua sikap dasar
> > yang baik-baik pada diri manusia dan menyulapnya menjadi
> > badut haus kekuasaan?
> >
> > Menurut saya...mestinya tidak begitu. Tapi mengapa banyak
> > yang terlihat seperti itu?
> >
> > Wassalam,
> > +++Poirot
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> __________________________________________________________________
> ______
> > Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at
> http://www.hotmail.com
> >
> >
> > ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
> > Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> > Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> > Keluar: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
>
> ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!