Juga salah besar, kalau nasib bangsa ini diserahkan kpd org2 di DPR/MPR yg
namanya saja sbg wakil rakyat, tetapi kenyataannya dlm praktek hanya
mewakili partai dan golongan mereka tokh.
----- Original Message -----
From: Hercule Poirot <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, August 05, 2000 8:21 PM
Subject: [Kuli Tinta] Nasib bangsa
> Assalamu'alaikum Wr.Wb.
>
> www.detik.com
> >Kekeliruan Besar Serahkan Nasib Bangsa Pada 4 Elit Reporter: Djoko
Tjiptono
> >detikcom - Jakarta, Ketua Umum Poros Indonesia Eros Djarot
> >menyatakan menyerahkan nasib bangsa pada 4 tokoh elit merupakan
> >kekeliruan yang besar. Semestinya seluruh komponen bangsa harus
> >diikutsertakan dalam proses rekonsiliasi tak hanya tokoh-tokoh elit.
>
> Poirot:
>
> Setuju dengan ungakapan Eros yang menyebut "kekeliruan besar
> serahkan nasib bangsa pada 4 elit". Yang dimaksud tentu
> Presiden Wahid, Wapres Soekarnoputri, Ketua DPR Tanjung,
> Ketua MPR Rais, mestinya ditambah satu Sultan HB X.
>
> Nasib bangsa ini harus menjadi tanggung jawab setiap
> individu yang mencincai bangsa Indonesia dan tanah
> air Indonesia. Setiap Individu bangsa Indonesia punya
> tanggung jawab untuk berperan serta meningkatkan
> kualitas hidup bangsa.
>
> Cara yang ditempuh oleh satu orang mungkin berbeda
> dengan orang lain. Satu kelompok beda dengan kelompok
> lain. Satu partai beda dengan partai lain. As long as,
> tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa...
> there is no reason mengapa berbedaan bisa menjadi
> penyebab permusuhan seharusnya perbedaan bisa
> memperkuat kinerja bangsa.
>
> Kalau melihat aroma kampanye pemilu...saya sering
> prihatin. Mengapa seseorang tega menghajar peserta
> kampanye hanya karena perbedaan partai? Toh, memang
> kalah...yang memimpin negeri ini tetap bangsa Indonesia
> yang tentunya punya tujuan mulian meningkatkan taraf
> hidup bangsa Indonesia. Kalau kita tarik ke luar dalam
> skala yang lebih besar...mestinya...there is no kekerasan
> hanya karena perbedaan faham politik atau agama. Toh,
> dari ujungnya...kita ini bersaudara. Sama-sama anak
> cucu Adam-Hawa.
>
> Ketika nonton film Armageddon, saya sempat terpikir...
> alangkah baiknya kalau para politisi itu sempat nonton
> film ini. Kekuasaan, kekayaan, persaingan, perbedaan
> faham tak lagi ada artinya ketika bumi menghadapi
> ancaman meteor yang akan menghantam bumi. Kehidupan
> akan musnah, dan semua mati. Bila kita sempat terpikir...
> "Ach sebentar lagi aku mati," mungkin segala bentuk
> pertengkaran, permusuhan dapat direm dari dalam dengan
> pengendalian nafsu.
>
> Mengingat semua itu...kita jadi sadar, sebenarnya musuh
> kita itu siapa sih? Musuh kita adalah kita sendiri. Kita
> yang ditunggangi nafsu dan tak mampu melawan bisikan
> iblis. Saya tidak tahu apakah ketika seseorang memasuki
> dunia politik...baju politik mengubah semua sikap dasar
> yang baik-baik pada diri manusia dan menyulapnya menjadi
> badut haus kekuasaan?
>
> Menurut saya...mestinya tidak begitu. Tapi mengapa banyak
> yang terlihat seperti itu?
>
> Wassalam,
> +++Poirot
>
>
>
>
>
> ________________________________________________________________________
> Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com
>
>
> ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!