On Sun, 13 Aug 2000, Irwan Hadi wrote:
> BTW kalau syariah seperti melaksanakan 5 hukum Islam, rasa rasanya tidak
> dilarang ?,
> Anda berhak naik Haji, Anda berhak menjalankan ibadah puasa, anda berhak
> memberikan derma.
WAM:
Syariat Islam bukan hanya 5 rukun Islam.
(Anda masih malu juga mengaku sebagai penganut Kristen? ).
> Kalau begitu di UUD, jangan ditulis.
> dengan kewajiban menjalankan syariat syariat Islam
> cukup diganti
> dengan kewajiban menjalankan syariat syariat AGAMANYA MASING MASING.
WAM:
Betul. INi pemecahan jalan tengah. Namun, bukankah ini pun ditolak oleh
non Islam? Percayalah, orang Islam bukan orang rakus yang mau mengangkangi
seluruh Indonesia. Masalahnya selesai, kan, kalau pemecahan 3 kata itu
diterima? Kenapa mesti ngancam mau merdeka segala? Siapa yang edan kalau
gitu?
> Apa susahnya dibuat 3 kata itu ?
> Boros tinta dan boros kertas ?
WAM:
Tidak susah. Sampaikan pertanyaan anda ke mereka yang menolak amandemen
pas 29/ uud 45. Yang jelas bukan golongan Islam.
> Saya tidak menolak, cuman menyarankan.
> kalau diganti menjadi
> DENGAN KEWAJIBAN MENJALANKAN SYARIAT SYARIAT AGAMANYA MASING MASING.
WAM:
Saya terima, dan banyak orang Islam yang menerima. Permasalahannya tidak
terletak pada orang Islam.
> Nah susah kah itu ?
WAM:
Tidak, tidak susah.
> >WAM:
> >Sebutkan contohnya, dimana pelaksanaan syariat Islam bagi pemeluknya akan
> >mempengaruhi umat agama lain. Pandangan seperti itu justru makin
> >mengentalkan kecurigaan ummat Islam, bahwa ada _agenda tersembunyi_ dari
> >penolakan Piagam Jakarta itu.
> contohnya ?
> Dengan menjalankan syariat syariat Islam, bisa berarti, pemeluk agama lain
> paling tidak diminta mengikuti beberapa tradisi Islam, mis Pakai Jilbab, dsb.
WAM:
Kenapa anda, dimuka, bilang bahwa syariat Islam itu identik dengan shalat
dsb? Anda mau ngaku sebagai orang Islam, dengan mangatakan pakai jilbab
itu _tradisi Islam_? Masih malukah anda, di hadapan para peserta milis
ini, mengaku sebagai orang Kristen?
> Anda bisa bilang, ITU SALAH, itu tidak benar, ITU HANYA ditujukan BAGI
> orang Muslim.
> Tapi itu kan anda, hanya 1 orang yang betul betul sudah terdidik dan
> Pandai, dan bisa mengerti maknanya.
WAM:
Dan karena masih banyak orang _pinter_ macam anda, yang berlagak pilon.
> Tapi anda itu egois, seperti kasus Makro, suru main tutup saja tokonya
> dengan diboikot, jadi semua karyawannya baik yang brengsek maupun yang baik
> kena getahnya, tidak berpikir, kalau tidak semua orang sepandai anda, bisa
> mengerti dalam maksudnya.
WAM:
Egois? Bukankah saya membela pihak yang tertindas, dalam hal ini konsumen?
Apakah saya harus membela Makro?
> Saya mewakili pihak yang tidak setuju dengan piagam Jakarta itu berpikir,
> gimana kalau ada orang orang yang tidak sepandai anda terus salah
> mengartikan. Kan repot ?
WAM:
Jadi, anda mau bilang, seluruh orang non Islam yang kamarin rame2 nolak PJ
itu bego semua?
> Sudah tahu sebagian besar penduduk Indonesia tidak memiliki kepandaian
> seperti anda ?, paling tidak S1, terus anda mau menyama ratakan persepsi
> kepandaian anda dengan orang lain ?
WAM:
Memangnya masing-masing agama nggak ada pemimpinnya? Ataukah, anda mau
bilang, para pemimpin agama itu sama gebleknya dengan orang2 yang anda
bayangkan itu?
Saya justru beranggapan, walaupun mayoritas penganut agama (apapun) itu
berpendidikan di bawah rata-rata, toh ada pemimpin agamanya yang dapat
memberikan pemahaman yang benar. Dan saya percaya para pemimpin agama itu
memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Jadi nggak ada logikanya
dengan mengatakan _tidak semua penganut agama itu berpendidikan cukup_.
Kecuali anda menyimpulkan bahwa para pemimpin agama ini sama bodonya. (Dan
saya tidak).
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!