At 12:20 PM 8/14/00 +0700, you wrote:
>On Sun, 13 Aug 2000, Irwan Hadi wrote:
>
> > At 11:50 AM 8/14/00 +0700, you wrote:
> > >Syariat Islam bukan hanya 5 rukun Islam.
> > >(Anda masih malu juga mengaku sebagai penganut Kristen? ).
>
> > Tuliskan kalau begitu ;)
>
>WAM:
>Ogah.
>Katanya anda Islam juga. Kok masih nanya? Bingung nih ye ;)

Saya tidak menyatakan itu (saya beragama Islam).
Itu kata anda.
Coba baca lagi archive message.

jangan main tuding gitu dong, nggak enak nih saya berdiskusi sama tukang 
tuding ;)

WAM:
>Anda setuju yang mau merdeka, bukan?
>Yang memberikan ide PJ adalah melaksanakan hak demokrasinya.

Oh begitu, kalau gitu yang menentang juga melaksanakan hak demokrasi nya dong ?
Apa salah kalau gitu

 > >WAM:
> > >Tidak susah. Sampaikan pertanyaan anda ke mereka yang menolak amandemen
> > >pas 29/ uud 45. Yang jelas bukan golongan Islam.
>
> > Bingung, yang menolak amandemen ada juga kan dari pihak Islam, mis Cak 
> Nur ?
> > Kalau gitu kenapa anda menulis "yang jelas bukan golongan Islam", ini
> > berdasar prinsip logika berarti 100% pihak Islam setuju dengan 
> amandement ini.
>
>WAM:
>Dan anda mau bilang, orang Minahasa, orang Kupang dan orang Nias itu orang
>Islam?
Kalau gitu jelas anda harus belajar logika lagi ;)
Saya tidak mengatakan itu.

Anda bilang "YANG JELAS BUKAN GOLONGAN ISLAM", berarti golongan Islam tidak 
ada yang tidak setuju dengan ini bukan ?
Nah saya counter pendapat anda dengan tulisan, logika anda itu salah, Cak 
Nur buktinya tidak setuju juga ?



>
> > Jika anda berkata begitu berarti 100% permasalahannya ada pada orang Non
> > Islam, begitu ?
>
>WAM:
>Tidak.
>Cuma, aneh kalau orang non Islam ikutan kelimpungan karena PJ.
>Saya sudah bilang bukan, kalian yang non Islam diam saja lah. Ini bukan
>urusan kalian. Biar orang Islam dan orang Islam yang adu argumentasi.

Katanya demokrasi ?
Anda tulis di atas itu kan ?
>Yang memberikan ide PJ adalah melaksanakan hak demokrasinya.

yang menolak juga melaksanakan hak demokrasinya bukan ?

Masa yang memberikan melaksanakan hak demokrasi, sedang yang menolak 
dibungkam ?


> > Berdasar logika, dalam suatu pengambilan keputusan, tidak mungkin 100%
> > setuju atau 100% tidak setuju, pasti ada paling tidak sekian persen (bisa
> > jadi 0,00000001 %, atau 2% yang berbeda), nah.... pernyataan anda itu 
> salah.
>
>WAM:
>Simpan saja pelajaran itu untuk ujian anda.

Orang pintar adalah orang yang mau belajar ;)
Anda tidak mau belajar ya mungkin anda sudah pintar sekali sehingga tidak 
perlu balajar, sedang proffessor pun masih belajar juga?


> > WAM:
> > >Kenapa anda, dimuka, bilang bahwa syariat Islam itu identik dengan shalat
> > >dsb? Anda mau ngaku sebagai orang Islam, dengan mangatakan pakai jilbab
> > >itu _tradisi Islam_? Masih malukah anda, di hadapan para peserta milis
> > >ini, mengaku sebagai orang Kristen?
>
> > Jika bukan tradisi, syariat, kewajiban, dsb. mengapa anda berpikir
> > pelarangan pakai Jilbab di kantor, pabrik, dsb. suatu bentuk kekejian ?
>
>WAM:
>Hanya non muslim yang bisa bertanya seperti ini.
>Dan anda masih malu mengakui hal itu, sampai saat ini, bukan?

Kok malu ?
itu kata anda ;)

>
> > BTW ini milis bebas, seperti sudah saya katakan sebelumnya, dan menjadi
> > member ini milis tidak ditulis bahwa wajib memberikan statement apa agama
> > yang dipeluk.
>
>WAM:
>Memang tidak.
>Namun, buat apa anda menolak sinyalemen saya? Padahal, makin banyak yang
>anda kemukakan tentang Islam, makin jelas anda bukan Islam. Akan lebih
>terhormat kalau anda tidak menolak sinyalemen saya.

Apakah dengan demikian anda memaksa ?


> > Karena itu, saya menolak permintaan anda agar saya memberikan pengakuan.
> > Dengan alasan di atas.
>
>WAM:
>Terserah anda sajalah.
>Anda yang pertama kali menolak saya duga sebagai orang Kristen (padahal,
>saya tidak punya pretensi apa-apa. So what kalau anda Kristen? Nggak
>apa-apa kan? Cuma, penolakan anda menunjukkan anda tidak jujur dalam
>berdiskusi). Itu saja masalahnya. Silahkan, if you can live with that.
>Jika dalam satu hal yang menjadi hak asasi anda pun (dalam hal ini,
>memeluk agama yang anda yakini kebenarannya) anda masih nggak jujur,
>kejujuran mana lagi yang bisa diharapkan dari anda?

Hah hah hah, anda sendiri juga tidak memberikan statement agama anda bukan ?
Ya sudah, tidak perlu memaksa lah ;) toh saya juga tidak memaksa anda ?
heran, anda ini suka memaksa sekali ya ?


> > >WAM:
> > >Egois? Bukankah saya membela pihak yang tertindas, dalam hal ini konsumen?
> > >Apakah saya harus membela Makro?
>
> > Saya tidak menyatakan anda harus membela Makro.
> > Tapi solusi mengadakan boikot, sehingga mungkin saja karyawan Makro 
> dipecat
> > (sekalipun yang innocent), cukup menggelitik saya.
>
>WAM:
>Apakah anda juga sempat berfikir seperti ini terhadap berbagai yayasan
>yang dulu dikelola Suharto? Bahwa ada orang-orang tak bersalah yang akan
>menjadi korban karena tindakan yang tidak berfikir panjang?

Dalam melakukan sesuatu kita harus memperhitungkan banyak hal, yayasan yang 
dikelola Suharto sebagian besar didirikan dengan modal KKN, tentu itu 
salah, sedang Makro saya rasa tidak.

> > Dan anda belum jawab pertanyaan saya, bagaimana kalau satu orang BPPT 
> bikin
> > salah, terus semuanya dipecat, dan andapun turut dipecat ?
>
>WAM:
>Anda sudah bisa menjawab sendiri.

Saya tidak bisa menjawab tuh, tolong anda jawab dong ;)

> > >WAM:
> > >Memangnya masing-masing agama nggak ada pemimpinnya? Ataukah, anda mau
> > >bilang, para pemimpin agama itu sama gebleknya dengan orang2 yang anda
> > >bayangkan itu?
>
> > Permasalahannya adalah.
> > Pemimpin agama tidak selalu ditaati oleh penganut agama itu, apalagi kalau
> > penganutnya sudah mata gelap.
>
>WAM:
>Oh ya?
>Baru tahu saya.

baru tahu ? sudah jelas jelas ditulis di banyak media massa, contohnya 
kasus ambon, agar masing masing pihak diminta berhenti, oleh pemimpinnya 
lagi, mis dari PGI (apa perlu saya carikan archivenya), atau dari pihak 
Islam juga.
Ternyata masih berantem juga ;)


> > >Saya justru beranggapan, walaupun mayoritas penganut agama (apapun) itu
> > >berpendidikan di bawah rata-rata, toh ada pemimpin agamanya yang dapat
> > >memberikan pemahaman yang benar. Dan saya percaya para pemimpin agama itu
> > >memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Jadi nggak ada logikanya
> > >dengan mengatakan _tidak semua penganut agama itu berpendidikan cukup_.
> > >Kecuali anda menyimpulkan bahwa para pemimpin agama ini sama bodonya. (Dan
> > >saya tidak).
>
> > Saya tidak mengatakan itu.
>
>WAM:
>Saya simpulkan dari pernyataan anda.

Kalau gitu kesimpulan anda salah ;)


>
> > Tapi justru karena mayoritas penganut agama itu berpendidikan di bawah 
> rata
> > rata seperti kata anda, kenapa kita tidak melakukan tindakan preventif,
> > untuk mencegah mereka salah mengartikan kata kata di PJ ?
>
>WAM:
>Apakah tindakan preventif itu selalu identik dengan _menindas_?
>
> > Apa anda tidak mengerti apa itu tindakan preventif ?
>
>WAM:
>Nggak.
>Cuma anda seorang yang tahu. Maklum, kuliah di Elektro. Amerika lagi.
>Apakah tindakan preventif itu?

Mencegah terjadinya suatu permasalahan yang akan timbul di kemudian hari.
Contohnya, anda tidak menaruh jerigen bensin di samping kompor yangmenyala 
bukan ?
itu tindakan preventif namanya.

BTW jangan suka nuding seperti itu dong ;(, nggak enak nih, dituding tuding 
sama tukang tuding diskusinya ;)
jadi ngeri saya, dituding seperti itu .


->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke