On Sun, 13 Aug 2000, Irwan Hadi wrote:

> At 11:50 AM 8/14/00 +0700, you wrote:
> >Syariat Islam bukan hanya 5 rukun Islam.
> >(Anda masih malu juga mengaku sebagai penganut Kristen? ).
 
> Tuliskan kalau begitu ;)

WAM:
Ogah.
Katanya anda Islam juga. Kok masih nanya? Bingung nih ye ;)
 
> WAM:
> >Betul. INi pemecahan jalan tengah. Namun, bukankah ini pun ditolak oleh
> >non Islam? Percayalah, orang Islam bukan orang rakus yang mau mengangkangi
> >seluruh Indonesia. Masalahnya selesai, kan, kalau pemecahan 3 kata itu
> >diterima? Kenapa mesti ngancam mau merdeka segala? Siapa yang edan kalau
> >gitu?

> Yand edan adalah 2 pihak
> 1. yang permulaan memberikan ide PJ bikin repot diskusi saja ;(
> 2. Yang ingin merdeka

WAM:
Anda setuju yang mau merdeka, bukan?
Yang memberikan ide PJ adalah melaksanakan hak demokrasinya.
 
> > > Apa susahnya dibuat 3 kata itu ?
> > > Boros tinta dan boros kertas ?

> >WAM:
> >Tidak susah. Sampaikan pertanyaan anda ke mereka yang menolak amandemen
> >pas 29/ uud 45. Yang jelas bukan golongan Islam.

> Bingung, yang menolak amandemen ada juga kan dari pihak Islam, mis Cak Nur ?
> Kalau gitu kenapa anda menulis "yang jelas bukan golongan Islam", ini 
> berdasar prinsip logika berarti 100% pihak Islam setuju dengan amandement ini.

WAM:
Dan anda mau bilang, orang Minahasa, orang Kupang dan orang Nias itu orang
Islam?
  
> Jika anda berkata begitu berarti 100% permasalahannya ada pada orang Non 
> Islam, begitu ?

WAM:
Tidak.
Cuma, aneh kalau orang non Islam ikutan kelimpungan karena PJ.
Saya sudah bilang bukan, kalian yang non Islam diam saja lah. Ini bukan
urusan kalian. Biar orang Islam dan orang Islam yang adu argumentasi.

> Berdasar logika, dalam suatu pengambilan keputusan, tidak mungkin 100% 
> setuju atau 100% tidak setuju, pasti ada paling tidak sekian persen (bisa 
> jadi 0,00000001 %, atau 2% yang berbeda), nah.... pernyataan anda itu salah.

WAM:
Simpan saja pelajaran itu untuk ujian anda.

> WAM:
> >Kenapa anda, dimuka, bilang bahwa syariat Islam itu identik dengan shalat
> >dsb? Anda mau ngaku sebagai orang Islam, dengan mangatakan pakai jilbab
> >itu _tradisi Islam_? Masih malukah anda, di hadapan para peserta milis
> >ini, mengaku sebagai orang Kristen?
 
> Jika bukan tradisi, syariat, kewajiban, dsb. mengapa anda berpikir 
> pelarangan pakai Jilbab di kantor, pabrik, dsb. suatu bentuk kekejian ?

WAM:
Hanya non muslim yang bisa bertanya seperti ini.
Dan anda masih malu mengakui hal itu, sampai saat ini, bukan?
 
> BTW ini milis bebas, seperti sudah saya katakan sebelumnya, dan menjadi 
> member ini milis tidak ditulis bahwa wajib memberikan statement apa agama 
> yang dipeluk.

WAM:
Memang tidak.
Namun, buat apa anda menolak sinyalemen saya? Padahal, makin banyak yang
anda kemukakan tentang Islam, makin jelas anda bukan Islam. Akan lebih
terhormat kalau anda tidak menolak sinyalemen saya.

> Karena itu, saya menolak permintaan anda agar saya memberikan pengakuan.
> Dengan alasan di atas.

WAM:
Terserah anda sajalah.
Anda yang pertama kali menolak saya duga sebagai orang Kristen (padahal,
saya tidak punya pretensi apa-apa. So what kalau anda Kristen? Nggak
apa-apa kan? Cuma, penolakan anda menunjukkan anda tidak jujur dalam
berdiskusi). Itu saja masalahnya. Silahkan, if you can live with that.
Jika dalam satu hal yang menjadi hak asasi anda pun (dalam hal ini,
memeluk agama yang anda yakini kebenarannya) anda masih nggak jujur,
kejujuran mana lagi yang bisa diharapkan dari anda?

> >WAM:
> >Egois? Bukankah saya membela pihak yang tertindas, dalam hal ini konsumen?
> >Apakah saya harus membela Makro?
 
> Saya tidak menyatakan anda harus membela Makro.
> Tapi solusi mengadakan boikot, sehingga mungkin saja karyawan Makro dipecat 
> (sekalipun yang innocent), cukup menggelitik saya.

WAM:
Apakah anda juga sempat berfikir seperti ini terhadap berbagai yayasan
yang dulu dikelola Suharto? Bahwa ada orang-orang tak bersalah yang akan
menjadi korban karena tindakan yang tidak berfikir panjang?  

> Dan anda belum jawab pertanyaan saya, bagaimana kalau satu orang BPPT bikin 
> salah, terus semuanya dipecat, dan andapun turut dipecat ?

WAM:
Anda sudah bisa menjawab sendiri.

> >WAM:
> >Memangnya masing-masing agama nggak ada pemimpinnya? Ataukah, anda mau
> >bilang, para pemimpin agama itu sama gebleknya dengan orang2 yang anda
> >bayangkan itu?
 
> Permasalahannya adalah.
> Pemimpin agama tidak selalu ditaati oleh penganut agama itu, apalagi kalau 
> penganutnya sudah mata gelap.

WAM:
Oh ya?
Baru tahu saya.

> >Saya justru beranggapan, walaupun mayoritas penganut agama (apapun) itu
> >berpendidikan di bawah rata-rata, toh ada pemimpin agamanya yang dapat
> >memberikan pemahaman yang benar. Dan saya percaya para pemimpin agama itu
> >memiliki tingkat kecerdasan di atas rata-rata. Jadi nggak ada logikanya
> >dengan mengatakan _tidak semua penganut agama itu berpendidikan cukup_.
> >Kecuali anda menyimpulkan bahwa para pemimpin agama ini sama bodonya. (Dan
> >saya tidak).
 
> Saya tidak mengatakan itu.

WAM:
Saya simpulkan dari pernyataan anda.
 
> Tapi justru karena mayoritas penganut agama itu berpendidikan di bawah rata 
> rata seperti kata anda, kenapa kita tidak melakukan tindakan preventif, 
> untuk mencegah mereka salah mengartikan kata kata di PJ ?

WAM:
Apakah tindakan preventif itu selalu identik dengan _menindas_?
 
> Apa anda tidak mengerti apa itu tindakan preventif ?

WAM:
Nggak.
Cuma anda seorang yang tahu. Maklum, kuliah di Elektro. Amerika lagi.
Apakah tindakan preventif itu?



->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com 
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!












Kirim email ke