Bung ac, pers bebas disepakati oleh tiga elemen besar pers (artinya
meminimalisir fungsi sensor) Baca tulisan saya tentang politik kanan-kanak
bagian ke II (pers), yang salah satunya editor republika yang banyak memuat
tulisan
Rosihan Anwar, turut beropini agar pers itu harus bebas. Tetapi jika (yang
saya tangkap) keinginan bung ros adalah menghidupkan kembali fungsi sensor.
Saya secara pribadi mengatakan bung ros (yang juga dikenal tokoh 66, bersama
Rendra dan anti PKI) bukanlah seorang reformis.
Dalam masyarakat yang menglobal dan kapitalistik seperti sekarang mau tak
mau pers akan dipengaruhi oleh ekonomi dan politik. Untuk lebih jelas anda
baca tulisan
saya tentang publik harus belajar dari penceraian Desiratnasari.
Saya buat gambaran sangat jelas dengan contoh yang ringan dan dapat dipahami
publik, mudah-mudahan.
MMA
----- Original Message -----
From: �� <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 10 Nopember 2000 2:19
Subject: Re: [Kuli Tinta] politik kanak-kanak-I
> --- "M. Mashuri Alif" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > Karena politik kita dewasa ini melupakan hal-hal
> > yang lebih substansial. Penekanan selalu dititik
> > beratkan pada demagogi dan propaganda
> > layaknya iklan yang dilahap mentah-mentah
> > oleh media massa yang memang makanannya.
>
> Saya pikir politisi yang disebut 'kanak-kanak' itu tidak akan 'hiperaktif'
bila pers mampu
> 'mengunyah' makanan dengan baik dan tidak main telan mentah saja. Terlepas
dari sikap politisi
> yang 'norak, hiperaktif, dan clemang-clemong' tersebut, yang saya lihat
justru pers yang selama
> ini terjebak hanya mengejar keuntungan bisnis semata. Tidak ada filter
atau 'kunyahan' memadai
> dari pers.
>
> >>>>��:
> Sangat setuju.
> Beberapa orang lama seperti Rosihan Anwar pernah berbicara mengenai hal
itu dan menyebutnya sebagai hal yang harus kita lalui.
>
> Namun, mungkin bukan hanya persoalan bisnis semata. Saya melihat, ambisi,
idealisme orang muda (apalagi lepas sarjana), dan kesadaran untuk bisa
mempengaruhi masa lewat medianya entah itu untuk kepentingan politiknya,
golongannya, kelompoknya, atau bahkan pribadinya.
>
>
> Agus Satrio:
> Apakah itu tai kerbo atau sampah, bila itu keluar dari para politisi, pers
langsung
> saja memuat jadi headline, halaman depan. Kupikir pers kita (tidak semua
tentunya) sudah mulai
> kehilangan sifat mendidiknya, opini yang membangun tidak terbentuk, yang
banyak isinya cuma
> propaganda, provokasi, rumor ataupun isu. Hilangnya sifat itu, juga
berperanan besar bila nanti
> sampai terjadi gesekan hebat di bawah, disini pers harus ikut memikul
tanggung jawab secara moral.
>
> Gimana nih, pak Mashuri yang redaktur pelaksana ?
>
> >>>>��:
> Setuju lagi. Pak Mashuri juga mempunyai tanggung jawab moral dan profesi.
>
> Bahkan, saya tambahkan mas Agus, public figure atau pejabat sejak jaman
Orba sepertinya pasang posisi dan mejeng untuk dikejar Pers. Nah setelah
dikerubuti oleh Pers maka munculah bintang sinetron baru.
>
> Jadi, bagaimana nih tangapan Pak mashuri terhadap ucapan Rosihan Anwar?
>
> salam
>
>
>
> >>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
> ->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
> Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
> Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
> Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
> Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>>>> 2.5 Mbps InternetShop >> InternetZone << Margonda Raya 340 <<<<
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!