Salam,

On Sep 23, 2008, at 3:50 PM, Adi Nugroho wrote:

Yang saya ingat sih, id-linux ada untuk belajar Linux, bukan FreeBSD.
LUGU juga ada untuk belajar Linux, bukan Windows.
Beberapa LUG dan KPL lain yang saya ingat, juga berdiri mau belajar Linux,
bukan Solaris atau Mac.

Sepanjang ingatan saya juga tidak pernah ada kejadian seperti itu. Saya juga tidak pernah ngomong begitu. Maksudnya menuliskan ini apa sih?

Kelompok kelompok opensource dan free software justru populer belakangan.

Kalau ini setuju. Komunitas Java dll. memang baru belakangan populer dan itu salah satunya berkat kontribusi KPLi. Orang-orang komunitas FOSS selain Linux itu banyak yang nimbrung di KPLi sejak dulu, sehingga terjadi suatu hubungan mutual. Di satu sisi, KPLi kalau hanya murni Linux, dari segi ideologi masih susah dipahami awam, lagipula yang dicari end user adalah solusi nah FOSS menawarkan solusi yang lebih lengkap ketimbang hanya Linux saja (ketika itu). Sehingga bergabunglah mereka semua dan tumbuh berkembang serta besar bersama- sama karena saling melengkapi dan akhirnya lebih cepat meraih hati masyarakat luas. Seandainya tidak sinergi mungkin tak seperti sekarang ini perkembangannya.

Mungkin sekarang polemiknya adalah, sejalan dengan makin populernya kelompok FOSS non Linux dan masing-masing mulai bikin organisasi sendiri sebagai rumahnya, spin off dari komunitas KPLi, maka ada yang mulai mikir, mungkin sekarang saat yang tepat untuk memurnikan kembali KPLi. Yang setuju ya silahkan saja. Saya kebetulan termasuk yang tidak setuju. Alasannya sudah beberapa kali saya posting tidak perlu diulang. Gitu aja.

Maka istilah Linux disempitkan kembali ke arah "kernel doang".
Lebih aneh lagi, beberapa aktivis FOSS justru mempopulerkan aplikasi yang
dijalankan di atas sistem operasi non FOSS, hehehe...
Gak konsisten. Kalau mau FOSS ya FOSS. Jangan propietary.

Bukan tidak konsisten, tapi strategi dan tujuannya beda. Banyak aplikasi FOSS diporting ke platform lain tujuannya adalah untuk menarik peminat yang lebih luas dan mempopulerkan produknya supaya tidak dianggap sebagai underdog mulu dan sekaligus melawan FUD pihak proprietary. Diharapkan tinggal masalah waktu saja hingga pengguna FOSS di platform proprietary kemudian merasa nyaman bermigrasi ke platform yang native sesungguhnya.

Bukan hanya sudut pandangmu sendiri yang benar :) Tidak ada keharusan begini begitu. Memilih FOSS bukan berarti haram menggunakan proprietary. Tidak ada yang benar-benar hitam putih. Orang lain bisa punya cara, strategi dan upaya yang berbeda walaupun pada dasarnya punya keyakinan sama.

Makanya saya lebih senang tetap berada di LUG/KPL, karena rata rata konsisten antara kata dan perbuatan. Linux ya linux. Kalaupun perlu MS Office, ya
jalankan di atas xover :)

Whatever, pilihanmu baik untuk kamu. Belum tentu baik untuk orang lain. Orang memilih yang lain bukan berarti salah. Itu hanya beda pilihan, hak masing-masing, tidak ada benar salah.

Linux dan FOSS memang kawan dekat yang tak terpisahkan, tapi tidak sama.

Jangan lalu mengecilkan Linux dan menganggapnya sebagai himpunan
bagian/turunan dari FOSS. Linux sebagai kernel memang FOSS, tapi Linux
sebagai sistem bisa mengandung aplikasi proprietary. Banyak distro yang
menyertakan acrobat, flash player, bisa menjalankan MP3, DVD, dll.
Sebaliknya, FOSS tidak harus Linux. Bisa FreeBSD, FreeDOS, atau lainnya. Tapi
tentu bukan windows, atau acrobat, oracle, atau mp3 :)

Dan juga bisa saja FOSS tapi dengan syarat berbasis Linux. Boleh saja kalau KPLi mau begitu. Sah saja. Itu salah satu option. Tapi juga tidak ada keharusan hanya satu pilihan. Bebas saja. Yang salah adalah bila memaksakan KPLi hanya satu paham. Karena sejak awal KPLi tidak ada definisi pasti yang mengikat dan sejak dulu orang masuk KPLi dengan berbagai macam maksud dan tujuan serta bahkan ideologi.

Justru, di mata saya, mengaku aktifis FOSS masih berat, karena mesti
menginstal yang murni FOSS. Terlalu banyak aplikasi proprietary yang saya butuhkan. Kalau Windows sih sudah saya tinggalkan lama. Tapi aplikasi non FOSS lain masih banyak. Acrobat reader, flash player hanya contoh. Masih ada
beberapa lagi yang lain.

Definisi aktivis secara umum adalah siapa saja yang berkontribusi. Jadi yang dinilai hanya kontribusinya. Misalnya dia menghasilkan suatu tulisan yang membangun, tidak perlu dipermasalahkan dengan apa dia menulisnya tapi satu-satunya yang penting adalah apa yang ditulisnya. Kalaupun dia ternyata menulis dengan aplikasi yang non FOSS, tidak akan mengecilkan arti kontribusinya dibanding aktivis lainnya. Atau dia menjadi kurang aktivis apabila dibanding yang die hard FOSS atau bahkan murni Linux. Terlalu remeh hal seperti itu dipermasalahkan untuk suatu tujuan sebesar ini.

Tidak semua menuju kelembagaan formal.
Ada yang suka formal, ada yang tidak suka.
Anda mungkin suka, tapi saya termasuk yang tidak suka.

Nggak ada yang maksa kamu juga kan? Mana kalimat yang memaksa kamu? Lagipula ini milis bebas dan KPLi juga organisasi bebas, tidak ada paksa memaksa, kok anda bisa merasa terpaksa :)

Open mind dong.

Anda juga harusnya open mind. Soal kelembagaan formal itu bukan masalah saya suka atau kamu tidak suka, tetapi itu adalah amanat ILC2007. Kesepakatan banyak orang. Bahkan ketika itu saya tidak ikut hadir merumuskan. Kalau mau protes, ya sana ke ILC2007, kok ke saya? Saya hanya mendukung itu. Anda tidak mendukung ya silahkan saja, sah saja. Nggak ada yang melarang dan tidak usah dipertajam.

_______
Regards,

Pataka

--
Berhenti langganan: [EMAIL PROTECTED]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke