Buddha Marah? Hm...apa pun alasannya, saya selalu mengasosiasikan kata
"marah" dgn muka yg gusar, rasa benci, keinginan utk merusak/menghancurkan,
kata-kata yg kasar, luapan emosi yg menggila....sehingga kalau dipaksakan
memakai kata Buddha Marah, maka dlm bayangan saya akan tampak wajah Buddha
tidak lagi damai dan derajat Beliau turun menjadi manusia awam lagi.

Saya rasa marah bukanlah kata yg tepat dan tidak mungkin terjadi pada
seorang Buddha. Dlm kasus pelanggaran bhikkhu tsb, saya lebih yakin bahwa
Buddha bertindak tegas dengan kelembutan demi menekankan arti pentingnya
pelanggaran tsb. Nah, perkara bagaimana sih tegas yg lembut itu, barangkali
cuma seorang Buddha dan para Arahat yg bisa melakukannya.

Salam

Chuang
Sudah baca novel ABG Buddhis?
http://trioratana.blogspot.com
----- Original Message -----
From: "siwu" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Sunday, June 17, 2007 7:24 AM
Subject: Re: [MABINDO] Arahanta = Kakek spiritual yg hangat dan penyayang


> Yg ini saya setuju, tapi kalau soal marah dan takut, hehe, tidak
sesederhana
> itu.
>
> Buddhapun bisa marah, ingat ketika salah satu bhikkhu yang berhubungan
badan
> dengan mantan istrinya, namun kemarahan itu bukan bentuk kebencian yg
> diliputi kegelapan batin, melainkan satu metode yang menekankan bahwa
suatu
> perbuatan sangat tidak layak dilakukan.
>
> Banyak hal yang tidak bisa dipahami secara harafiah atau dilihat dari luar
> kulitnya saja.
>
> Salam,
> siwu
>
>

Kirim email ke