Begitulah bung Manneke, kalau tingkat peradaban banyak pria masih 
setingkat syahwat. Perkawinan mengandung unsur pemenuhan kodrat 
sexual, tetapi masih mempunyai banyak fungsi luhur lainnya, yakni 
mendapatkan keturunan, membangun keluarga yang bathiniah dan lahiriah 
seimbang dan bahagia.

Seringkali saya dengar argumentasi "Tak boleh polygami? lha daripada 
ke pelacur atau punya simpanan?". Seolah hanya ini alternatif mereka.

kasihan.

salam

danardono




--- In [email protected], manneke <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> Oh, gitu toh landasan pemikirannya. Yah, gak heranlah. Tapi, apakah 
fungsi penyaluran nafsu adalah fungsi UTAMA dan TERPENTING dalam 
pernikahan? Kalo begitu, tiap kali nafsu, boleh dong menikah lagi? 
Dan, kasian banget perempuan yang dinikahi hanya untuk penyaluran 
nafsu, ya?
> 
> Kedua, apa belum cukup nafsu ini "disalurkan" pada satu orang saja 
yang sudah jadi istrinya? Apa mesti "diumbar" ke banyak perempuan--
entah lewat nikah ganda atau selingkuh?
> 
> manneke
> 
> 
> -----Original Message-----
> 
> > Date: Tue Dec 05 23:28:37 PST 2006
> > From: "gedehc" <[EMAIL PROTECTED]>
> > Subject: [mediacare] Re: Istri Kedua Aa Gym?
> > To: [email protected]
> >
> > Salah satu fungsi nikah MEMANG menyalurkan nafsu. Salurkan atau
> > kanalkanlah nafsu itu di jalan yang etis. Lebih bagus lagi, tidak
> > hanya etis menurut budaya, tetapi menurut hukum agama. Hanya saja,
> > hukum dalam setiap agam itu berbeda-beda. Dalam Islam, ya .....
> > silakan berpoligami. Kalau non-Islam.... ya... silakan juga 
monogami
> > atau yang lainnya.
> > 
> > Mas,poligami itu semacam kaca jendela di bis malam. Kalau tidak 
ada
> > kondisi daerurat, misalnya kebakaran di dalam bis, jangan 
dipecahkan.
> > Tetapi kalau darurat, silakan saja dipecahkan agar tidak 
mendapatkan
> > keburukan yang lebih besar.
> > 
> > Para poligamis, yaitu pelaku poligami yang kaya tidak sertamerta 
bisa
> > mudah menyalurkan hasrat seksnya. Aturannya tetap saja empat 
orang,
> > maksimum. Lebih dari itu, tak ada balasan selain dosa. Jadi, yang
> > sudah "tunjuk" gadis belia harus pula mampu memberikan pendidikan,
> > menyekolahkan kalau masih belum S1, S2, atau S3. Juga harus mampu
> > mendidik anak-anaknya dengan pendidikan agama. Tak sekadar sekolah
> > formal. 
> > 
> > Mas, panjang sekali kalau saya jawab langsung. Lebih baik lewat
> > artikel saja agar lebih leluasa dan lengkap.
> > 
> > Sekian dulu.
> > Salam.
> > 
> > Gede H. Cahyana
> > http://gedehace.blogspot.com
> > 
> > 
> > --- In [email protected], "Rahadian Permadi" <dietwombat@>
> > wrote:
> > >
> > > 
> > > Jika saya menarik logika anda ke dalam tataran ekstrem, negara 
beserta
> > > produk hukumnya yang berkaitan dengan pernikahan tak lebih hanya
> > > berfungsi untuk mengikuti kemauan penis semata begitu?
> > > 
> > > Kemauan penis yang liar namun alamiah kudu diatur dalam undang-
undang
> > > dan di institusionalisasikan melalui sebuah lembaga yang diakui 
dan
> > > dilindungi oleh negara yaitu pernikahan?
> > > 
> > > Banyak argumen yang kembali pada persoalan karakter alamiah 
untuk
> > > menjustifikasi persoalan-persoalan semacam ini. Namun bagi saya 
ini
> > > tidak memberikan landasan etik yang kuat.
> > > 
> > > Jika kekuatan ekonomi yang dijadikan salah satu syarat, maka 
pernikahan
> > > menjadi diskriminatif dalam tingkatan kelas. Hanya orang kaya 
saja yang
> > > boleh menuruti keliaran penisnya, sementara yang miskin? 
Mungkin karena
> > > tak mampu membeli tali nasib, uang yang tak seberapa dipakai 
untuk jajan
> > > demi sebuah manifestasi eksistensialnya sebagai makhluk yang 
memiliki
> > > 'karakter alamiah' yaitu nafsu. Atau mereka terpaksa menjadi 
pemerkosa?
> > > Jika diambil ekstremnya lagi (masih mengikuti logika anda), 
maka orang
> > > kaya memiliki lebih banyak kesempatan untuk bertindak mulia 
dalam
> > > menyalurkan hajatnya ketimbang orang miskin. 'Tegang sedikit' 
tinggal
> > > tunjuk gadis belia dan menikahinya, habis perkara. Toh negara 
mengerti
> > > betul kemauan si penis.
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > --- In [email protected], manneke <manneke@> wrote:
> > > >
> > > >
> > > >
> > > > Oooh, jadi nikah itu tujuannya untuk penyaluran nafsu toh? 
Waduh, baru
> > > tau saya...
> > > >
> > > > manneke
> > > >
> > > > -----Original Message-----
> > > >
> > > > > Date: Fri Dec 01 22:24:13 PST 2006
> > > > > From: "gedehc" gedehc@
> > > > > Subject: [mediacare] Re: Istri Kedua Aa Gym?
> > > > > To: [email protected]
> > > > >
> > > > > Mas, nafsu memang sudah dilengkapi oleh Sang Khalik ketika
> > > menciptakan
> > > > > manusia. Ia jangan dibunuh tapi juga jangan dijadikan raja 
dan
> > > > > dituruti terus. Itu sebabnya, menikah dengan alasan tak 
kuat lagi
> > > > > menahan nafsu masih lebih mulia daripada tidak menikah 
tetapi
> > > > > disalurkan lewat zina atau pacaran a la "kekinian" yang di 
luar
> > > batas.
> > > > >
> > > > > Itu sebabnya pula maka menikah lebih dari sekali, apapun 
alasannya,
> > > > > termasuk alasan NAFSU yang sulit dikekang, masih lebih mulia
> > > ketimbang
> > > > > "jajan" di jalan atau main serong atau main dengan pelacur. 
Apalagi
> > > > > kalau menikah yang kedua kalinya itu betul-betul untuk 
ibadah
> > > meolong
> > > > > sang wanita (gadis atau duda), tidak ada paksaan dari siapa 
pun
> > > juga,
> > > > > apalagi ikhlas dari sang wanita dan sang istri pertama.
> > > > >
> > > > > Lalu, apa masalahnya menikah lebih dari sekali dan memiliki 
lebih
> > > dari
> > > > > satu istri, asalkan maksimum empat. Tentu saja syarat 
lainnya ada,
> > > > > misalnya, kuat secara ekonomi, mapan kehidupan sosialnya, 
dan paham
> > > > > agama yang dianutnya. Artinya, sudah teruji emosinya.
> > > > >
> > > > > Bahkan, saya tandaskan lagi, menikah untuk kali pertama 
semata-mata
> > > > > demi menyalurkan nafsu itu menjadi WAJIB segera dilaksanakan
> > > daripada
> > > > > sang lelaki terjerumus ke perzinahan. Ini prinsip dasarnya. 
Apalagi
> > > > > kalau usianya sudah lebih dari 30 tahun. Ia harus segera 
menikah
> > > sebab
> > > > > kebutuhan syahwatnya wajib dipenuhi seperti dia memenuhi 
kebutuhan
> > > > > makan, minum, pendidikan, dll.
> > > > >
> > > > > Idem ditto, untuk pernikahan kali kedua, ketiga dan 
keempat, asalkan
> > > > > itu untuk menyalurkan nafsu di tempat yang sah, tidak ada 
masalah.
> > > > > Menjadi masalah kalau disalurkan di tempat yang haram, 
semacam zina,
> > > dll.
> > > > >
> > > > > Gede H. Cahyana
> > > > > http://gedehace.blogspot.com
> >
>


Kirim email ke