Jujur saya sangat kecewa pada komunitas milis ini,
sebuah milis yang konon ada karena kepedulian terhadap
profesi jurnalistik. Milis yang beranggotakan para
wartawan hebat dari berbagai media besar.

Tapi sayangnya, selama ini yang diributkan
justru-lebih banyak- perkara-perkara jauh dari dunia
jurnalistik. Poligamilah, olok-olok agamalah.

Ketika ada persoalan yang langsung berkaitan dengan
profesi wartawan dan memiliki potensi menghancurkan
kredibilitas wartawan, semua diem. Bungkam! Seolah
perkara itu tak penting dan harus diabaikan.

Beberapa kali saya posting persoalan penting terkait
kewartawanan. Presepsi saya, masalah itu sangat urgen
untuk disikapi secara internal wartawan dan jika
memungkinkan jadi embrio gerakan perbaikan. Seperti
soal Porwanas yang hanya menggerogoti uang rakyat.

Terakhir saya postingkan dugaan perdagangan kartu pers
di Bengkalis. Sayangnya nyaris nihil tertarik
membahasnya. Hanya Mas Satrio yang bersedia memposting
ulang kiriman saya itu ke beberapa milis.

Jujur saya heran dengan tuan-tuan yang mengaku
wartawan hebat di berbagai media besar dan
berpengaruh. Anda berkoar-koar tentang profesionalisme
jurnalistik. Anda bicara mengenai pentingnya wartawan
bersikap adil dan proporsional dan menyikapi sebuah
persoalan, tetapi Anda tak pernah peduli pada marwah
profesi ini.

Bagi saya Porwanas adalah sebuah kesalahan besar dunia
wartawan Indonesia (baca:PIW). Meskipun dilakukan oleh
satu organisasi, namun Porwanas merupakan legitimasi
bahwa semua wartawan penggerogot uang rakyat. Selain
itu Porwanas terbukti menjadi ajang manipulasi
profesi. Setiap digelar ajang ini ada puluhan oknum
bukan wartawan diberi kartu biru PWI untuk bisa jadi
atlet. 
Kenapa Anda sekalian tidak tergerak untuk bersuara,
mengajak rekan sejawat yang sepikiran untuk bergerak
menghentikan Porwanas? Antau Anda sekalian juga
mendapat keuntungan dari kegiatan yang didanai uang
rakyat puluhan miliar itu?
Kasus wartawan tanpa media jelas atau bodrek. Mengapa
Anda sekalian juga tak peduli. Seprofesional apapun
Anda sebagai wartawan, percayalah, di pandangan umum,
Anda disamakan dengan bondrek. Bagi saya bodrek itu
sudah masuk ranah kriminal. Mereka memanfaatkan
profesi wartawan untuk melakuka penipuan. Mengapa Anda
sekalian membiarkan itu terus merebak?

Sampai sekarang nyaris tidak ada langkah signifikan
untuk menutup ruang gerak para pelaku kriminal atas
nama bodrek. Akibatnya kelompok ini semakin lama terus
berbiak dan kian membuat wajah jurnalistik Indonesia
kia berlalat.

Wahai tuan-tuan yang penuh dengan teori
profesionalisme jurnalistik, sampai kapan Anda hanya
bisa berkoar, tanpa ada langkah nyata untuk menjaga
dan memelihara marwah profesi ini?


Luah yang resah

ahmad s.udi

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke