Ketakutan soal kristenisasi terjadi karena: 1. Kurang mengenal akrab siapa itu orang kristen 2. memang ada praktek2 kristenisasi
Kurang mengenal akrab tentang kristen; ada banyak jenis kristen, yang satu sama lain bisa dianggap sebagai agama yang berbeda. Katolik misalnya, tidak mengenal pembaptisan instan. Untuk menjadi katolik, orang harus belajar dulu selama 1 tahun. Kalau dia terlalu banyak bolos, harus mengulang setahun lagi. Teman saya yang secara baik2 pindah agama mau masuk katolik harus mengulang pelajaran agama katoliknya selama 3 kali alias 3 tahun sebelum akhirnya dibaptis. Itu karena dia sering bolos pelajaran. Kecuali yang mau dibaptis sedang sakit keras dan hampir meninggal, umumnya gereja katolik tidak mengenal baptis saat itu juga. Kristen lainnya setahu saya bisa langsung dibaptis, walaupun beberapa juga mengidealkan adanya pelajaran agama sebelum masuk kristen. Banyaknya jenis kristen ini mengakibatkan umat butuh gereja yang bermacam-macam. Umat katolik dg kristen pantekosta misalnya, masing2 butuh gereja sendiri (seperti kata Ida Khouw) dan tidak bisa beribadat dalam satu gereja. Oleh karena itulah banyak gereja yang dibangun walaupun jemaatnya sedikit. Praktek kristenisasi sampai sekarang memang ada, namun saya tidak tahu seberapa intensnya dan dilakukan oleh golongan yang mana - karena setiap agama punya golongan yang sering dikatakan sebagai golongan radikal. Namun yang jelas ketakutan terhadap kristenisasi dibesar-besarkan untuk kepentingan politis dan penggalangan dukungan umat. Siapa yang tampil membela umat ke depan tentu yang akan dapat nama. Maka bahaya yang (sering) diciptakan adalah antara lain kristenisasi. Sehingga gereja yang berdiri baik-baik dicurigai sebagai misi kristenisasi. Bukti-bukti thd tuduhan kristenisasi kurang diteliti dg baik. Berita Hidayatullah yang di forward kader PKS di milis ini misalnya tidak mencoba mencari pihak kristennya dan mengklarifikasi berita yang dimaksud. Begitu banyak berita-berita kabur semacam ini. Contohnya lagi penemuan 3 buah buku bergambar kristen dalam ratusan buku sumbangan korban gempa di Yogya dianggap sebagai kristenisasi, padahal dari segi proporsi saja sudah tidak representatif kalau itu dibilang kristenisasi. Dari kaum kristen sendiri tidak cerdas menangani isu ini, mereka diam saja sehingga seolah-olah membenarkan bahwa kristenisasi ada. Jika kelompok Islam punya Forum Anti Pemurtadan, mungkin ada baiknya kelompok kristen bikin Forum Klarifikasi Pemurtadan, yang bekerja sama erat dg Forum Anti Pemurtadan.Jika ada pemurtadan dg tipu muslihat seperti dikabarkan Hidayatullah, maka harus segera ditindak dan diambil langkah hukum. Dari sisi teologis, kasus-kasus semacam ini menunjukkan bahwa memang pengakuan terhadap pluralitas adalah situasi yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena kristenisasi maupun Islamisasi (sebetulnya kita banyak menutup mata terhadap islamisasi - padahal jauh lebih gencar daripada kristenisasi. Di mall-mall atau di banyak tempat buku-buku yang sifatnya "menggoyahkan" iman kristen banyak dijumpai, dan diterbitkan sebagian oleh penerbit2 berafiliasi Islam) bersumber dari anggapan teologis bahwa mereka yang ada di luar agamaku adalah kafir, sehingga perlu diselamatkan. Dengan mengakui bahwa keselamatan ada di dalam agama lain, maka sebetulnya kita bisa mencegah kristenisasi atau islamisasi yang sangat mengganggu kehidupan berbangsa. Dalam postingan Ida ada hal yang menarik; yaitu ide jangan-jangan isu kristenisasi disebarkan dalam rangka pecah-belah. Artinya bisa jadi ada pihak2 yang berperan sebagai kristen dan pura2 mau mengkristenkan umat lain dg cara2 yang vulgar dan menimbulkan amarah. Mengingat konflik2 sektarian di tanah air sering terjadi, bukan tidak mungkin hal ini yang terjadi. _____ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Rahadian Permadi Sent: 07 Januari 2007 17:14 To: [email protected] Subject: [mediacare] Re: Geger "Kristenisasi" di Depok Sudah berkali-kali berita semacam ini diposting. Dari beberapa yang saya baca memang berasal dari satu sumber Hidayatullah. Ada baiknya jika pihak gereja sendiri diberikan ruang untuk bicara. Namun tampaknya sumber berasal dari satu pihak saja. Barangkali memang ada kelompok Kristen yang radikal tetapi saya belum melihat mereka melakukan Kristenisasi. Pada paragraf terakhir, Ade menulis bahwa "berita-berita buruk semacam ini justru dapat kita manfaatkan untuk perbaikan di masa depan." Masih belum jelas apa maksud berita buruk yang anda maksud? Apakah maksudnya kristenisasi itu adalah berita buruk atau penulisan beritanya yang buruk? Saya juga ingin tahu bagaimana pendapat Wido si pengirim berita tentang persoalan ini? --- In [email protected], [EMAIL PROTECTED] wrote: > > Rekan-rekan. > Saya risau sekali dengan komunikasi yang terjalin soal isu kristenisasi ini. > Saya berasumsi bahwa para peserta milis ini tergolong kaum berpendidikan > yang diharapkan justru bisa mengarahkan masyarakat luas untuk hidup dengan > penuh kedamaian. > Tapi kentara sekali bahwa banyak peserta diskusi yang mengedepankan emosi > seraya mengabaikan substansi masalah. > Saya rasa, berita dari hidayatullah itu justru perlu diangkat secara luas, > selama kita bersedia membicarakannya secara dingin. > Maksud saya begini: > > Pertama-tama, kalau berita itu benar, saya rasa itu persoalan serius. Dan > kita ditantang untuk menjawab sebuah pertanyaan besar: apakah layak > penyebaran agama dilakukan dengan cara menipu dan mengiming-imingi > anak-anak? Apakah penyebaran agama layak dapat dilakukan dengan prinsip > 'tujuan menghalalkan cara'. Saya akan menjawab tidak. Lebih dari itu saya > menyarankan agar kita bersama-sama menyuarakan penolakan terhadap > bentuk-bentuk penyebaran agama dengan cara tidak etis semacam itu. > > Kedua, kalau berita itu benar, apakah model penyebaran agama semacam itu > mewakili arus utama dalam organisasiu-organisasi Kristen, atau sekadar > mewakili kalangan ekstrem tertentu. Sepanjang yang saya ketahui, ini > adalah gaya kalangan radikal Kristen tertentu dan bukan ciri mainstream > Kristen. Karena itu, sebagaimana layaknya kita harus membedakan antara > arus utama umat islam dengan kelompok radikal Islam, kita juga tidak > mudah2 menuduh apa yang terjadi sebagai kesalahan umat Kristen secara > umum. Dalam hal ini, saya menyarankan juga teman-teman beragama Kristen > bisa menjelaskan secara proporsional kepada umat non-Kristen tentang kaum > Kristen eksklusif tersebut. > > Ketiga, bagaimana kalau berita itu ternyata tidak benar? Karena itu, > alih-alih langsung bereaksi keras, yang bisa dipertanyakan adalah > kesahihan berita Hidayatullah tersebut. Apakah ini ditulis dengan gaya > 'jurnalisme katanya' seperti yang secara sangat memalukan terjadi dalam > kasus pemberitaan 'adam air' , atau memang dengan mengikuti > prinsip-prinsip jurnalistik yang benar. Kalau tidak salah sih, berita ini > tidak ditulis dengan peliputan berimbang (cover both sides). Akibatnya > akurasi dan kebojektifannya pun mungkin bisa diragukan. > > Saya rasa dengan bersikap lebih hati-hati semacam ini, berita-berita buruk > semacam ini justru dapat kita manfaatkan untuk perbaikan di masa depan. > Kalau setiap berita buruk dihadapi dengan cercaan, saya kuatir kita justru > tidak cukup siap menghadapi kondisi-kondisi yang mensyaratkan respons > bersama. > > Salam > > ade% >
