DL - Haaah ..... bantuan AS ke Palestina lebih banyak dibanding bantuan AS ke 
Indonesia? Mungkin itu sebabnya AS dicaci-maki setan oleh muslim Indonesia, AS 
bagi-bagi duitnya sedikit sih ke Indonesia, he he he. Anyway, lucu kok tingkah 
laku muslim Indonesia, bolehlah jadi bahan tontonan banyolan dari luar negeri 
sini, ihik ihik .......... :-).


SUARA PEMBARUAN DAILY 
--------------------------------------------------------------------------------

The Global Nexus

Palestina Lebih Prioritas daripada RI
 

Christianto Wibisono 

Pada 15 Desember 2006 Or- ganization of Economic Cooperation and Development 
(OECD) mengumumkan ranking prioritas bantuan luar negeri AS ke Dunia Ketiga. 

Diluar Irak dan Afghanistan, Indonesia masuk sebagai juru kunci dari 10 besar. 
Dan yang mengejutkan, Palestina di nomor 9 memperoleh bantuan US$ 180 juta. 
Sedang Indonesia hanya US$ 161 juta. 

Karena penduduk Indonesia lebih dari 220 juta, maka jelas per kapita bantuan AS 
ke Palestina jauh berlipat ganda dibanding Indonesia. 

Bantuan ke Irak melebihi US$ 10 miliar begitu pula Afghanistan US$ 1,4 miliar. 
Di luar dua negara yang sedang perang itu, maka Sudan menduduki ranking pertama 
dengan US$ 771 juta, Ethiopia 625 juta, Mesir 397 juta, Pakistan 362 juta, 
Yordania 354 juta , Kolumbia 334 juta Uganda 242 juta, Serbia/Montenegro 181 
juta. 

Setelah Palestina dan Indonesia, maka 8 negara lain ialah Haiti US$ 154 juta, 
Eritrea dan Congo masing masing 141 juta, Kenya 138 juta, Afrika Selatan 137 
juta, Meksiko 129 juta, Zambia 124 juta, dan Nigeria 120 juta. 

Angka bantuan itu di luar bantuan militer yang jelas sangat besar untuk 
Pakistan dan Mesir dalam perang teror maupun dalam perimbangan terhadap Israel. 

Perkembangan mutakhir kemelut internal Palestina mengungkapkan bahwa Mesir 
memberi bantuan kepada kelompok Fatah pimpinan Presiden Mahmoud Abbas untuk 
menandingi Hamas. 

Sebanyak 2.000 laras senjata laras otomatis dan 22.000 dengan dua juta peluru 
diserahkan melalui Mesir kepada kelompok Fatah. 

Sementara di Teheran, Wali Kota Mohamad Baqer Qalibaf, pensiunan Marsekal 
Angkatan Udara, menguasai DPRD Teheran dan hanya menyisakan dua kursi untuk 
klik pendukung Presiden Ahmadinejad. 

Qalibaf sangat populer karena memperbaiki jalan raya Teheran yang berkubang, 
membersihkan sampah, dan membangun rekreasi kanak-kanak di daerah kumuh di 
selatan Teheran. 

Ahmadinejad dinilai hanya pintar berpidato mengutuk AS, tapi tidak melakukan 
tindakan konkret bagi perbaikan ekonomi dan nasib penduduk miskin Iran. 

Menghadapi Iran, elite politik Arab Saudi juga terpecah dua. Waperdam dan 
Menhan Pangeran Sultan termasuk garis keras yang tidak ingin melihat Iran 
menjadi polisi regional Timur Tengah bersenjata nuklir. Sementara kubu Menlu 
Saud al Faisal bisa menerima dialog dengan Teheran. 

Akibatnya terjadi dualisme politik Arab Saudi yang tercermin dalam heboh 
pergantian Dubes Arab Saudi di Washington DC. Selama 22 tahun, Pangeran Bandar 
(putra Pangeran Sultan) menjadi dubes terlama di Ibukota AS. 

Baru 15 bulan lalu ia digantikan oleh Pangeran Turki bin Faisal (saudara dari 
Menlu Pangeran Saud) yang ditarik dari Dubes di London. Sebelumnya Turki adalah 
Kepala Dinas Intelijen Arab Saudi, yang mengatur pengungsian keluarga Bin Laden 
dari AS , segera setelah teror 911. 

Pangeran Bandar tetap mondar mandir ke Washington bahkan Dubes Turki bin Faisal 
tidak tahu menahu kedatangan apalagi misi Bandar ke Ibukota AS. 

Ternyata Bandar melakukan manuver langsung ke Gedung Putih untuk tidak terlalu 
moderat dalam menghadapi Iran. 

Dubes Turki al Failsal mengundurkan diri dan akan diganti oleh diplomat muda 
Adel Al Jubier alumnus Georgetown University Washington DC. Adel sudah menjadi 
jubir dan public relations andal untuk Arab Saudi, bahkan sejak era Dubes 
Bandar bin Sultan. 


Diplomasi Global 

Di tengah percaturan diplomatik global yang serba "selingkuh" itu, bagaimana 
Indonesia bisa mencuat agar bisa mempunyai leverage atau bargaining position 
yang kuat dan memperoleh prioritas dalam ranking kepentingan global AS. 

Eduardo Lachica, mantan kolumnis The Wall Street Journal adalah pengagum Susilo 
Bambang Yudhoyono. 

Ia heran mengapa ide cemerlang Yudhoyono tentang Irak yang dilontarkan di Bogor 
tidak bergema. Saya menyatakan bahwa orang di Indonesia semua sibuk dan was-was 
kalau ada insiden dalam kunjungan mampir Bush ke Bogor. 

Jadi orang tidak mempunyai gagasan, wawasan, atau wacana untuk memanfaatkan 
pertemuan itu secara substansial. Kecuali mengamankan teater diplomatik itu 
secara audio visual. 

Substansi apa yang mestinya diperjuangkan oleh Indonesia dalam diplomasi global 
yang begitu rumit bila kita terjebak pada sikap apriori anti-AS, anti-Bush, 
anti-Barat, anti-asing dan segala macam retorika yang lebih Hamas dari Hamas, 
lebih Hezbollah dari Hezbollah, dan mungkin lebih Arab dari Arab Saudi sendiri. 

Hamas dan Hezbollah pun sekarang harus belajar berdiplomasi jika ingin memasuki 
medan kekuasaan politik dan tidak bisa lagi mengandalkan teorisme atau 
kekerasan. 

Fatah di bawah Mahmoud Abbas sekarang malah menjadi mitra yang dipercaya AS 
dalam melahirkan Palestina yang bersedia berkoeksistensi dengan Israel. 

Mesir dan Yordania dengan cerdik berdiplomasi dengan Israel dan kemudian 
menagih kuitansi bantuan militer ekonomi ke AS, yang jumlahnya tercermin dalam 
ranking yang diumumkan OECD. Begitu pula Pakistan dan India, semuanya berbentuk 
kemitraan strategis bernilai miliaran dolar. 

Pertanyaan Eduardo Lachica yang gagasannya untuk mengorbitkan ide perdamaian 
Timur Tengah dari Jakarta tentu sulit saya jawab karena publik dan elite di 
Jakarta, dalam persaingan domestik kadang-kadang tidak memperhitungkan 
kepentingan nasional secara arif bijaksana. 


Lebih Agresif 

Artinya, kalau Riyadh, Kairo, dan Amman berhati-hati dalam menyambut kemenangan 
Hezbollah yang berarti dominasi Iran di Timur Tengah yang semakin kokoh, maka 
elite Jakarta tampaknya malah lebih agresif dari Arab Saudi, Mesir, dan 
Yordania dalam "mengagungkan Teheran" sebagai kiblat dan model kekuatan mbalelo 
anti-AS. 

Dengan permainan diplomatik seperti itu, tentu saja Jakarta sulit "menjual 
agenda strategis". 

Penasihat Presiden Dr Syahrir menyatakan tidak akan mungkin kekuatan ekstremis 
radikal merebut kekuasaan di Indonesia. Kekuatan moderat, toleran, dan pluralis 
akan tetap dominan, mayoritas, dan menentukan politik luar negeri RI. 

Mudah-mudahan optimisme Bung Syahrir benar dan Jakarta bisa tegak punya misi, 
visi, dan strategi sendiri untuk mengutamakan kepentingan nasional Indonesia 
ketimbang menjadi "antek" siapapun. 

Mungkin kalau nanti ada waktu Eduardo Lachica yang akan berkunjung ke Jakarta 
untuk menjual ide Jakarta Plan for Middle East Peace Settlement, bisa bertemu 
Dr Syahrir dan juga Presiden Yudhoyono. 

Tentu saja semua itu harus bermuara konkret supaya Indonesia, tidak sekadar 
jadi "anak bawang". Melainkan benar benar memperoleh posisi dan intangible 
maupun tangible benefit yang setara dengan posisinya. Lucu sekali kalau demo di 
depan Hotel Indonesia memaki AS dan membela Palestina. 

Sementara Palestinanya sendiri kebagian bantuan yang jauh berlipat ganda dari 
RI yang malah cuma jadi footnote dalam daftar bantuan AS. Semua hanya gara-gara 
kita kurang bisa berdiplomasi, tapi ahli dalam demonstrasi hura maki tanpa 
manfaat. 


Penulis adalah pengamat masalah internasional 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 8/1/07 

Attachment: cristian.gif
Description: GIF image

Kirim email ke