Mr. Lim, apakah anda tahu bahwa PKS hanya menguasai 7.34% dari 100%
suara di Parlemen?

Mengapa anda hanya membebankan semuanya ke PKS? Karena sekalipun PKS
memiliki niat dan keinginan untuk melakukan seperti yang anda harapkan
itu, belum tentu langkah itu disetujui oleh partai2 besar lainnya di
parlemen karena masing-masing partai di parlemen itu memiliki
prioritas kepentingannya masing-masing. Itulah realitasnya disini.

Mungkin kalau Mr. Lim mau sejenak berhenti ber"masturbasi" di negeri
Belanda sana, barangkali itu bisa membuat pikiran Mr. Lim bisa lebih
jernih dalam melihat suatu persoalan.

Perbandingannya saja sudah salah, apalagi analisanya.



--- In [email protected], "Danny Lim" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Betul, korban akan mengingat siapa yang membantu anda dan korban
juga akan mengingat siapa yang tidak membantu anda. Maka kini korban
akan mengingat PKS yang TIDAK membantu mencegah banjir dengan
mengontrol pemerintah di parlemen. Kalau PKS fair, turunnya PKS ke
posko banjir mesti disertai pemasangan spanduk "PKS teledor di
parlemen, PKS menebus dosa di posko banjir". Apakah PKS mau dan
berani mengakui kesalahannya secara terbuka? Ataukah seperti
sekarang ini, PKS memanfaatkan korban banjir yang rata-rata
berpendidikan rendah, untuk merebut suara mereka di Pemilu 2009?

Di negara barat, pemerintah selalu berupaya keras bersama parlemen
dan semua pihak secara Total Football, mencegah segala macam
bencana. Tapi yang tampil di lapangan hanyalah trio polisi (menjaga
keamanan), brandweer (tugas-tugas teknis) dan ambulance (tugas-tugas
medis). Kagak pernah 'tuh, repeat, kagak pernah parpol Belanda
menancapkan benderanya di lapangan bencana. Rakyat memilih parpol
untuk bertugas di parlemen, bukan di posko banjir.

Perhatian: tugas posko banjir mulia dan perlu, tapi melulu
mengandalkan posko banjir sementara parpol-parpol di parlemen tidur
atau bermasturbasi dengan Pancasila, itu adalah tindakan konyol nyol
nyol nyol, ihik :-(.

Salam prihatin, Danny Lim, Nederland


--- In [email protected], "justjoiningthetribe2"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mr. Lim, realitas di lapangan sekarang ini bukan lagi dalam konteks
> pencegahan.
>
> Di banyak negara, partai politik lazim menggunakan taktik seperti
itu
> sebagai "publicity stunt" untuk mendapatkan lebih banyak suara
selama
> pemilu. Tidak terkecuali di negara demokratis AS dimana opung
sekarang
> menjadi TKI (ilegal?).
>

Kirim email ke