Mr. Lim, realitas di lapangan sekarang ini bukan lagi dalam konteks pencegahan.
Di banyak negara, partai politik lazim menggunakan taktik seperti itu sebagai "publicity stunt" untuk mendapatkan lebih banyak suara selama pemilu. Tidak terkecuali di negara demokratis AS dimana opung sekarang menjadi TKI (ilegal?). Saya masih ingat ketika ada badai es di Maine beberapa tahun lalu. Sementara semua pekerja mencoba me-restore jaringan listrik, kendaraan yang ditumpangi Al Gore dan Washington-ites lainnya tiba ke lokasi. Mereka keluar, mengenakan sarung tangan, memegang beberapa kawat dan kemudian kamera wartawan surat kabar pun mengabadikannya, tak lama setelah itu masuk kembali ke limo dan meninggalkan lokasi dan para relawan/korban. Seperti saya sebutkan sebelumnya, ini dinamakan win-win situation. Warga "menang" karena mendapatkan bantuan sebanyak mungkin dari partai politik (disaat partai politik tidak diharuskan untuk membantu), sedangkan partai politik bersangkutan juga mendapatkan suara. Tidak ada yang tidak etis disini. Basically it's the same all over the world. It's not unethical at all. Jika Lyndon Baines Johnson(LBJ) Presiden selama Badai Katrina dia juga akan berada disana membagi-bagikan plate of Bar-B-Q. Bush juga menunggu hingga tabloid Inggris ribut tentang CANNIBALISM. Dan responsnya adalah mengirimkan pasukan untuk "mengamankan" kota seolah-olah itu adalah the "Night Of The Living Dead XI" Untuk masalah foto, bendera partai dan lain sebagainya, organisasi/institusi mana di dunia ini sekarang lebih memilih memberikan bantuan secara diam-diam dan rahasia? Tolong sebutkan contohnya satu saja. Bukankah "marketing" dan "image building" adalah kebutuhan organisasi manapun yang tidak bisa disangkal? Itulah realitas politik. Setidaknya PKS turun ke lapangan dan membantu. Membantu masyarakat yang sedang membutuhkan adalah hal yang wajar dan tepat (disaat mereka tidak diharuskan). Tidak bisa dibidang pencegahan, tapi setidaknya dibidang memberi bantuan darurat. Lagi pula uang yang digunakan untuk memberikan bantuan adalah uang partai, bukan uang publik. Dan tiap partai memiliki program2 mereka sendiri bagaimana untuk dapat terlibat langsung dan berinteraksi dengan masyarakat korban. Oleh karena beberapa anggota PKS sudah duduk di DPR dan "gagal" (menurut anda) menjalankan fungsinya, bukan berarti pengurus partai di pusat harus melupakan program2nya untuk memberikan bantuan ke masyarakat. Dalam kasus ini, fokusnya adalah korban, bukan komentar dan pandangan miring orang2 yang cuma bisa mencibir, karena: Korban INGAT siapa yang membantu mereka. Dan korban juga INGAT siapa yang tidak membantu mereka. It's completely ethical. I hope you understand. --- In [email protected], "Danny Lim" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Bayangkan bila semua partai politik yang ada di Indonesia berlomba- lomba mengontrol pemerintah agar mencegah bencana apa pun bentuknya (bukan membiarkan bencana datang lalu mendirikan posko), maka masyarakat akar rumput Indonesia akan berterima kasih. Masyarakat Indonesia membutuhkan kabinet/DPR yang mau bekerja keras buat rakyat a.l. dengan mencegah, sekali lagi mencegah bencana. Pemerintah/parlemen Belanda berupaya keras mencegah banjir dengan membangun bendungan/tanggul/pintu air/sistim drainase dll. bukan membiarkan Belanda kebanjiran lalu ramai-ramai mendirikan posko banjir. Haiyaaa ....... cilaka butulan nih Indonesia, makanya memble terus negaranya, yang kasihan ya lagi-lagi rakyat kecil. Selalu rakyat kecil yang paling menderita. Salam prihatin, Danny Lim, Nederland --- In [email protected], "justjoiningthetribe2" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bayangkan jika semua partai politik yang ada di Indonesia berlomba2 > memberi bantuan seperti ini setiap kali ada bencana, kita tidak perlu > mempertanyakan niatnya mau kampanye atau apa, yang jelas akan lebih > banyak lagi masyarakat membutuhkan yang tertolong. > > Masyarakat korban bencana yang dalam kondisi darurat itu tidak butuh > komentar, tidak pula mereka merasa perlu mempertanyakan apakah anda > membantu untuk kampanye atau bukan. Keikhlasan anda sama sekali bukan > urusan mereka. Mereka juga dipastikan tidak peduli dengan kecurigaan, > kesinisan dan kecemburuan pihak-pihak yang cuma bisa berkomentar ria > terhadap pihak lain yang memberikan bantuan. > > Kehidupan berpolitik dalam alam demokrasi itu kan tidak pernah > berhenti siklusnya, baik menang atau kalah semuanya akan terus > berusaha mengambil hati rakyat semaksimal mungkin. Yang sudah berkuasa > akan berusaha mempertahankan kursinya di pemilu yang akan datang, > sedangkan yang kalah juga akan berusaha bekerja lebih keras lagi untuk > menarik simpati masyarakat. > > Ujung2nya kan masyarakat juga yang diuntungkan. > > >
